Harian Haluan

Harianhaluan.com

Pelaku Pencurian Oleh Anak Dibawah Umur Meningkat di Solsel

Pelaku Pencurian Oleh Anak Dibawah Umur Meningkat di Solsel
Ilustrasi 

SOLSEL, HARIANHALUAN.COM - Pelaku pencurian oleh anak dibawah umur di triwulan pertama Januari - Maret 2020 mengalami peningkatan di Solok Selatan (Solsel). Tercatat enam perkara pencurian yang dilakukan anak dibawah umur di kabupaten itu.

Dari data Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Solsel yang bernaung dibawah Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak, Kementerian Sosial RI, mencatat enam kasus pencurian terjadi. Angka pencurian oleh anak dibawah umur ini meningkat jika dibandingkan tahun 2018 dan 2019.

Jhon Ronaldo, Sakti Peksos Solsel mengatakan, pihaknya telah melakukan pendampingan sosial terhadap enam anak tersebut. "Apabila dibandingkan dua tahun sebelumnya, angka pencurian oleh anak dibawah umur terbilang meningkat di triwulan pertama 2020," katanya, Selasa (7/4/2020).

Dari data 2018, angka kasus pencurian oleh anak dibawah umur nihil. Hanya terjadi kasus lakalantas tiga perkara, korban pencabulan dua perkara, penelantaran anak satu kasus dan satu kasus narkotika.

Sedangkan, di 2019 ditriwulan pertama (Januari -Maret) terdapat dua kasus pencurian oleh anak dibawah umur, sepanjang 2019 ada delapan kasus pencurian oleh anak. Lakalantas, enam perkara dan korban pencabulan dua kasus, korban penganiayaan satu dan kasus perjudian satu kasus. 

"Untuk itu, sepertinya perlu adanya evaluasi bersama. Baik dari Orangtua, Pemerintah daerah, tokoh masyarakat tokoh agama, Ninik mamak dan Bundo kanduang. Butuh sinergitas semua elemen," kata Jhon.

Umumnya, kata Jhon, pelaku berasal dari keluarga kurang mampu dan umumnya anak putus sekolah. "Kebanyakan diantara mereka, alasannya melakukan pencurian sangat sederhana. Yakni, untuk kebutuhan gaya hidup. Misal, membeli handphone, rokok dan untuk paket data internet," sebutnya.

Sejauh ini, pihaknya telah melakukan pendampingan sosial terhadap enam kasus tersebut. Ada yang penyelesaian perkara Anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana (diversi). Dan ada juga yang lanjut proses peradilan anak. "Dari enam kasus itu, tiga diversi dan tiga perkara tahap proses hukum," katanya.

Anak yang mendapat diversi ditingkat masyarakat satu perkara, diversi ditingkat Kepolisian satu perkara dan satu diversi ditingkat Kejaksaan. Sesuai Undang-undang nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana Anak.

Menurutnya, ada dua syarat untuk mendapatkan diversi, pertama jika ancaman hukuman dibawah tujuh tahun dan kedua, bukan pengulangan tindak pidana. "Anak dibawah umur merupakan anak yang usianya dibawah 18 tahun. Namun, jika anak dibawah usia 12 tahun, apabila melakukan tindak pidana maka diserahkan kepada keluarga," ulasnya. (*)

 Sumber : rilis /  Editor : Heldi
Ikuti kami di