Harian Haluan

Harianhaluan.com

WHO Sebut Amerika Latin Episentrum Baru Virus Covid-19, Why?

WHO Sebut Amerika Latin Episentrum Baru Virus Covid-19, Why?
Petugas pemakaman menguburkan korban meninggal Covid-19 di pemakaman Vila Formosa, yang merupakan pemakaman terluas di Sao Paulo, Brasil. Foto diambil pada 22 Mei 2020.(REUTERS/AMANDA PEROBELLI) 

HARIANHALUAN.COM -- Badan Kesehatan Dunia ( WHO) menyatakan Amerika Latin sebagai episentrum baru virus corona, di tengah usaha Presiden AS Donald Trump membuka lagi negaranya.

Kenaikan kasus yang signifikan terjadi di kawasan Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Membuat total penularan di seluruh dunia mencapai 5,3 juta.

Kasus virus corona di Brasil, misalnya, kini sudah mencapai lebih dari 310.000 kasus dengan korban meninggal melebihi 21.000 orang.

"Dengan pertimbangan ini, maka Amerika Latin menjadi episentrum baru penyakit ini," jelas Direktur Kedaruratan WHO, Mike Ryan, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (23/5/2020).

Dia menerangkan banyak negara di Amerika Selatan mengalami kenaikan kasus. Namun saat ini, yang paling terdampak adalah Brasil.

Tak seperti Eropa dan AS, di mana korbannya adalah lansia, korban meninggal terbanyak di Negeri "Samba" menimpa generasi muda.

Mauro Sanchez, pakar epidemiologi Universitas Brasilia, menerangkan populasi di negaranya kebanyakan berada di bawah usia 60 tahun.

"Yang harus ditekankan di sini adalah banyak orang tertular virus ini karena tidak punya banyak pilihan," papar Sanchez.

Dia merujuk kepada fakta, banyak pemuda yang terhimpit kemiskinan harus tetap keluar bekerja meski berisiko terinfeksi Covid-19.

Di tengah angka kematian yang terus melonjak, pekerja kompleks pemakaman di Sao Paulo mengisahkan mereka terus mengebut tugasnya.

Salah satu pekerja di Vila Formosa menceritakan, mereka bekerja selama 12 jam sehari. Menguburkan satu demi satu korban. "Tak ada habisnya," ungkapnya.

"Kita harus lebih sering berdoa"

Di Washington, Presiden Trump menekan pemerintah lokal dan negara bagian untuk melonggarkan aturan lockdown yang mereka terapkan.

Wabah ini sudah menghantam ekonomi AS, membuat desakan agar karantina wilayah dicabut meski kasus masih terus terjadi.

Saat ini, Negeri "Uncle Sam" adalah negara yang paling parah terdampal Covid-19, dengan 1,6 juta infeksi dan korban meninggal melebihi 97.000.

Dilansir AFP Sabtu (23/5/2020), Trump menghendaki para gubernur mengklasifikasi gereja, sinagogue, dan masjid sebagai "layanan esensial".

Penyebutan itu membuat tempat ibadah menjadi setara dengan toko obat dan makanan, di mana kegiatan operasional mereka harus dibuka di tengah wabah.

"Gubernur harus melakukan hal benar, dan membuka tempat sangat penting ini sekarang, atau paling tidak akhir pekan," ujar dia.

Presiden berusia 73 tahun itu mengancam, jika pemerintah negara bagian tidak menurutinya, dia akan bertindak sesuai kewenangannya.

"Saat ini, di Amerika, kita harus lebih sering berdoa," kata dia. Tak dijelaskan apakah dia mempunyai wewenang untuk membalikkan otoritas negara bagian.

Pemerintah Los Angeles melayangkan kritikan setelah Gedung Putih memperingatkan, melanjutkan lockdown adalah perbuatan ilegal.

"Kami tidak dipandu oleh politik dalam hal ini. Kami dipandu oleh sains, kami dipandu oleh kolaborasi," kata Wali Kota Eric Garcetti.

Pada Jumat (22/5/2020), pemeintahan Trump menyatakan bakal membebaskan atlet profesional untuk bersaing di kompetisi seperit golf, tenis, dan basket.

"Pada saat ini, AS membutuhkan olahraga mereka," kata Chad Wolf, penjabat Kementerian Keamanan Dalam Negeri saat mengumumkan perintah tersebut.

"Inilah saatnya untuk membuka kembali ekonomi, dan inilah saatnya kita mengizinkan atlet profesional kami untuk bekerja," jelasnya. (*)

 Sumber : Kompas.com /  Editor : Milna Miana
Ikuti kami di