Harian Haluan

Harianhaluan.com

Foto Jadul Ini Jadi Awal Mula Rasa Sakit Hati Rakyat Indonesia yang Paling Mendalam

Foto Jadul Ini Jadi Awal Mula Rasa Sakit Hati Rakyat Indonesia yang Paling Mendalam
Angkuhnya Gaya Sedekap Bos IMF Kepada Soeharto Kala Memberi Dana Bantuan Ke Indonesia Tahun 1998 (Kompas.com/JB Suratno) 

HARIANHALUAN.COM -- Indonesia memang sudah mengalami asam garam selama merdeka. Banyak rintangan hebat harus dilalui Indonesia untuk menjadi negara yang luar biasa.

Bulan Mei akan selalu dikenang oleh bangsa Indonesia sebagai perjalanan menuju kemandirian bangsa ini.

Pada bulan Mei 1998 tepatnya tanggal 21, Orde Baru lengser dan Soeharto mundur dari kursi kepresidenan. Carut marut ekonomi menandai angslepnya sinar Orde Baru disertai utang menggunung Indonesia.

Utang tahun 1998 pun tak bisa dianggap enteng, yakni mencapai Rp 551,4 triliun atau ekuivalen 68,7 miliar dolar AS. Pemerintah Indonesia pimpinan presiden Soeharto pun harus berhutang dana bantuan kepada International Monetary Fund (IMF) untuk meminjam dana bantuan.

Parahnya rasio utang tahun 1998 mencapai 57,7 persen terhadap PDB yang artinya jumlah uang Indonesia tak cukup buat melunasinya.

Tahu akan keadaan ekonomi Indonesia yang sedang morat-marit, bos International Monetary Fund (IMF) kala itu, Michael Camdessus datang membawa uang bergepok-gepok.

Uang senilai 23,53 miliar dolar AS (Rp 130 triliun) itu sedianya akan dipinjamkan kepada Indonesia demi memperbaiki keadaan ekonomi dalam negeri yang suram.

Maka pada tanggal 15 Januari 1998 ditandatanganilah Letters of Intens (LoI) antara Presiden Soeharto dan Michael Camdessus yang disaksikan oleh para Menteri Orde Baru.

Saat penandatanganan itu terjadilah pemandangan yang dianggap sangat menyakitkan hati rakyat Indonesia.

Camdessus terlihat bersedekap angkuh, melihat lekat ke arah tangan Soeharto yang akan menandatangani LoI tadi, seperti majikan memperhatikan pekerjaan anak buahnya agar cepat selesai.

Sedangkan Soeharto tampak membungkuk menandatangani dana bantuan yang nilainya cukup besar kala itu.

Usai penandatanganan itu maka terjadilah kerusuhan di Jakarta dan Surakarta menyusul dampak krisis moneter. Namun hanya 14,99 miliar dolar AS saja yang dicairkan oleh pemerintah Indonesia.

Tony Prasetiantono, ekonom Universitas Gadjah Mada menyebut dana bantuan IMF pada tahun 1998 gagal menolong ekonomi Indonesia. Tony juga menyebut Indonesia tak boleh lagi berhutang kepada IMF.

"Waktu itu, IMF lalai dan kita trauma. Kita nggak mau sekarang berhubungan dengan IMF. IMF sendiri yang dikritik seluruh dunia. Ekonom-ekonom top, termasuk Joseph Stiglitz, juga mengkritik IMF. Jadi, 'malapraktik', memberikan 'obat' yang enggak cocok," ujar Tony pada 2015 lalu seperti dikutip Gridhot.id, Sabtu (23/4/2020).

Selain itu, pada tahun 1998 IMF juga tak tepat memberikan dosis dana ke Indonesia.

"Itu nggak cukup dosisnya. Kita cadangan devisa waktu itu 20 miliar dollar AS, terus disuntik selama 16 bulan, total jadi 36 miliar dollar AS. Enggak cukup untuk krisis Indonesia yang utangnya 130 miliar dollar AS. Jadi, obatnya baik, tetapi nggak cocok dosisnya," tambah Tony.

Syukur, lambat laun dengan kaki sendiri ekonomi Indonesia mulai membaik seiring berjalannya waktu. Maka periode tahun 2001-2006 pemerintah Indonesia secara bertahap membayar utang pokoknya ke IMF sebesar 11,1 miliar dolar AS.

Hingga akhirnya 12 Oktober 2006 pembayaran cicilan utang pokok Indonesia dibayar untuk terakhir kalinya. Setelah pembayaran tersebut, maka utang Indonesia ke IMF lunas.

Sedangkan pembayaran bunga pinjaman berlangsung sejak 1998-2006 senilai 2,1 miliar SDR (mata uang IMF) dilakukan pada September 2006.

Berbanding terbalik dengan sekarang, Indonesia malah menjadi pemberi pinjaman bagi IMF. Bahkan tinggal tunggu waktu saja jika pada tahun 2030, Indonesia bakal menjadi kekuatan ekonomi dunia. (*)

 Sumber : Gridhot.id /  Editor : Milna Miana
Ikuti kami di