Harianhaluan.com | Mencerdaskan Kehidupan Masyarakat

Harianhaluan.com

Home »

ekbis

Palanta Visual Bersama Basrizal Koto, Kemiskinan harus Dilawan Bukan Dinikmati

Palanta Visual Bersama Basrizal Koto, Kemiskinan harus Dilawan Bukan Dinikmati
Pengusaha sukses, Basrizal Koto. 

HARIANHALUAN.COM - Berkomunikasi dengan baik adalah kekuatan dalam menjalin kerja sama bisnis. Hal tersebut yang dilakukan Basrizal Koto atau yang akrab dipanggil Basko ini. Pria yang lahir di Pariaman tahun 1959 ini merupakan salah seorang konglomerat Indonesia yang memiliki bisnis di bidang percetakan, media, peternakan, hotel, properti bahkan pertambangan.

Namun, siapa sangka Basko yang terlahir dari keluarga miskin dengan ayah yang hanya seorang buruh tani pengolah gabah ini bisa membuktikan bahwa 'Kemiskinan Harus Dilawan Bukan Dinikmati'. Harianhaluan.com pada Senin (1/6/2020) mengadakan Palanta Visual Live Instagram bersama Basrizal Koto. 

Di live Instagram tersebut, Basko panggilan akrabnya, membeberkan cerita masa lalunya. Mulai dari titik pertama ia bangkit hingga mencapai miliuner ternama di Indonesia. Dirinya dulu mengawali karir sebagai seorang remaja yang menjual petai ke rumah makan Padang di Riau. Dia hanya menempuh pendidikan hingga kelas 5 SD saja, tapi menurutnya keterbatasan pendidikan sejatinya bukanlah menjadi penghalang dan alasan untuk tidak meraih kesuksesan. 

Masa kecilnya yang serba kekurangan memaksanya bekerja keras dan bertekad kuat mengubah nasib. Pandangannya yang selalu optimis membuat dia tak segan mencoba berbagai pengalaman baru. Terampil komunikasi, jaringan, menepati janji dan menjaga kepercayaan akhirnya membawa kesuksesan untuk menaklukkan kemiskinan, membangun kerajaan bisnis serta menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang.

Baca Juga : 28 Hari Nihil Positif, Dharmasraya Menuju Zona Hijau Covid-19
Baca Juga : 30 Pengrajin Sulaman Pariaman Ikuti Pelatihan Kurasi Koperasi

Saat berniat merantau ke Pekanbaru, Basko meminta izin pada Amak demi mengubah nasib. Di live tersebut, dirinya mengatakan ada satu momen yang membuat dirinya bisa memiliki pikiran untuk menumpaskan kemiskinan. Uniknya, saat ingin ke Pekanbaru dirinya tidak memiliki uang untuk membayar ongkos hingga ide gila keluar dari otaknya.

"Dulu pas pulang sekolah saya dengar dari balik pohon kelapa Amak meminjam beras tapi tidak diberikan. Malah disuruh makan batu, di sana saya tersentak dan bertekad akan merantau dan mengubah nasib. Pas mau berangkas saya minta salah seorang penumpang untuk mengatakan ke kenek bahwa saya anaknya supata tak bayar tiket," katanya sambil tertawa mengenang saat itu.

Di dalam dirinya ia menekankan tidak ada dendam tapi perkataan tersebut ia jadikan titik awal dirinya untuk berkembang. Ia bertekad jika sukses nanti maka orang yang menyuruh Amak memberikan makan batu akan ia naikkan haji. Hingga tahun 1990-an ia berhasil di bisnis dan menaikan haji orang tersebut.

Selain itu, dia juga diberikan petuah oleh Amak jika merantau harus bisa membawakan diri dan jangan merokok. Hingga saat ini petuahnya tersebut selalu ia pegang teguh. "Yang paling penting Amak katakan jangan merokok, kita orang miskin jangan membakar uang," ujarnya menirukan pituah Amak.

Sekarang, Basko anak yang tak tamat sekolah kini menjadi seorang pebisnis handal dengan berbagai usaha yang ditekuninya. Basko menikmati hari tuanya dengan tetap berolahraga dan dalam waktu dekat akan meluncurkan buku biografi dirinya yang ia tulis sendiri. (*)

Reporter : Merinda Faradianti /  Editor : Agoes Embun
Ikuti kami di