Peristiwa G30S, Hari Terkelam yang Membuat Bung Karno Berderai Air Mata

Milna Miana
- Sabtu, 2 Oktober 2021 | 17:30 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Dari puncak kekuasaan menjadi tahanan

Sejarawan Anhar Gonggong membenarkan bahwa Presiden Soekarno, dilengserkan pasca prahara 1965. Menurut Anhar, Soekarno dilengserkan oleh orang-orang yang tak suka dengan konsep nasionalisme, agama, dan komunis (Nasakom) yang diusung proklamator RI itu. Dia pun menyebut Soeharto sebagai orang yang melengserkannya.

Anhar mengatakan, saat menjadi presiden, tidak semua orang setuju dengan sistem pemerintahan yang dijalankan oleh Bung Karno. Ini mendorong kelompok komunis untuk melawan yang berujung pada peristiwa G30S.

Menurutnya, peristiwa G30S itu merupakan proses menuju upaya melengserkan Soekarno. Saat itu, pelengseran dilakukan lewat berbagai cara, salah satunya melalui mekanisme sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), yang sebelumnya dibentuk Soekarno sendiri.

Setelah Bung Karno mau dilengserkan, lanjut Anhar, anggota-anggota MPR, DPR, yang berasal dari PKI dan PNI, diganti dengan pendukung Soeharto. “Ya jadi memang benar dilengserkan,” ucap dia.

Ketika itu, MPRS mengeluarkan Ketetapan No. XXXIII/MPRS/1967 yang isinya pencabutan kekuasaan Presiden Soekarno atas segala kekuasaan pemerintah negara dan mengangkat pengemban Supersemar sebagai presiden, yakni Soeharto.

Menurut pengakuan Sukmawati, setelah itu Soekarno dikenai tahanan kota dan menetap di Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala, Jakarta) sampai akhir 1967. Pada awal 1968, Bung Karno dikenai tahanan rumah dan dibatasi aktivitasnya, termasuk untuk bertemu keluarga.

Sukmawati pun bercerita ketika datang menjenguk, Bung Karno pernah memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. Ketika itu, Sukmawati tak terlalu paham alasan ayahnya menangis.

Belakangan, lanjutnya, baru dia tahu bahwa Bung Besar menangis karena mendengar kabar terjadi pembunuhan massal terhadap rakyatnya yang dituduh memiliki paham komunisme.

“Bapak juga menangis karena dia digulingkan begitu saja oleh bangsanya sendiri dan jutaan rakyat yang dia cintai dibunuh untuk melanggengkan sebuah kekuasaan. Memang tragis, akhir hidup seorang pendiri bangsa,” tutur Sukmawati. (*)

Halaman:

Editor: Milna Miana

Sumber: rilis

Tags

Terkini

X