Dua Tersangka Perdagangan Organ Tubuh Harimau di Pasaman Barat Bakal Disidangkan

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 08:09 WIB
Ilustrasi Harimau Sumatera. (Foto: ANTARA)
Ilustrasi Harimau Sumatera. (Foto: ANTARA)

HARIANHALUAN.COM - Kasus perdagangan bagian tubuh satwa dilindungi berupa satu set tulang harimau sumatera siap untuk segera disidangkan setelah berkas penyidikan dinyatakan lengkap (P21) oleh Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Pasaman Barat.

Tindaklanjut dari itu, pada hari Selasa (19/10/2021), Penyidik dari Satreskrim Polres Pasaman Barat telah menyerahkan dua orang tersangka bersama barang bukti satu set tulang belulang harimau kepada Jaksa Penuntut Umum di Kantor Kejaksaan Negeri Pasaman Barat.

Dalam proses penyidikan, terhadap barang bukti juga dilakukan uji labor yang dilakukan oleh laboratorium Biologi FMIPA Universitas Indonesia terhadap DNA sampel barang bukti, dan dari hasil uji itu disimpulkan bahwa sampel tulang barang bukti tersebut merupakan tulang dari satwa harimau.

Sebelumnya, tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Satreskrim Polres Pasaman Barat amankan 2 (dua) orang pelaku perdagangan bagian-bagian tubuh satwa dilindungi berupa tulang-tulang harimau disebuah kafe di Ujung Gading Kabupaten Pasaman Barat, Jumat (20/8/2021).

Bersama pelaku D (46) warga Sibolga dan FN (54) warga Ujung Gading, Pasaman Barat turut diamankan satu set tulang belulang harimau yang disimpan dalam sebuah tas dan satu unit kendaraan sepeda motor yang digunakan para pelaku.

Awalnya, tim gabungan mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa akan ada transaksi jual beli bagian tubuh satwa dilindungi disebuah kafe.

Tim bergerak mendalami informasi dan ternyata benar ada kedua pelaku bersama barang bukti, sedangkan pembeli yang berasal dari Sumatera Utara menurut keterangan pelaku sedang ke ATM sebuah bank di ujung gading, namun setelah ditelusuri tidak berhasil ditemukan.

Pelaku bersama barang bukti selanjutnya diamankan dan dibawa ke Polres Pasaman Barat di Simpang Ampek untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pelaku disangka melanggar Pasal 21 ayat 2 huruf d undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dengan sanksi ancaman pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak seratus juta rupiah.

Halaman:

Editor: Jefli Bridge

Tags

Terkini

Warga Terdampak Erupsi Semeru Curhat ke Jokowi

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:36 WIB

RUU Ibukota Negara Baru, DPR Bentuk 56 Anggota Pansus

Selasa, 7 Desember 2021 | 17:05 WIB

Kebijakan Pemerintah PPKM Level 3 Batal, Ini Alasannya

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:59 WIB
X