Pernyataan Jusuf Kalla soal Muslim dan Nonmuslim Kaya jadi Sorotan, Uki: Ini Tidak Penting

Milna Miana
- Kamis, 21 Oktober 2021 | 09:40 WIB
Jusuf Kalla.
Jusuf Kalla.

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla atau JK soal perbandingan muslim dan nonmuslim kaya menjadi sorotan sejumlah pihak.

Mendengar pernyataan JK, Direktur Centre For Youth and Research, Dedek Prayudi alias Uki angkat suara dan mempunyai pandangan tersendiri.

Baca Juga: Jusuf Kalla Ingatkan Ada Bencana Lebih Besar Setelah Wabah Covid-19

Kata Uki, soal perbandingan jumlah muslim dan nonmuslim yang kaya menurutnya tidak berfaedah dan tidak penting.

Menurut Uki, hal yang penting bukanlah apa agama orang kaya, melainkan bagaimana agar orang miskin dapat naik menjadi kategori kelas menengah.

Baca Juga: Jusuf Kalla: Afghanistan di Bawah Taliban akan Berubah

“Sayang pak JK tidak menyebut sumber data. Kalaupun memang benar, statement ini tak berfaedah,” katanya melalui akun Twitter @Uki23, dikutip dari Suara.com, Kamis (21/10/2021).

“Tidak penting agama si kaya. Yang penting adalah bagaimana si miskin menjadi kelas menengah,” lanjutnya.

Sebelumnya, Jusuf Kalla menyatakan bahwa dari sepuluh orang kaya di Indonesia, hanya terdapat satu yang beragama Islam.

Hal itu ia sampaikan dalam Tabligh Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Masjid Istiqlal dan disiarkan secara virtual Selasa, 19 Oktober 2021.

“Lihat saja kalau ada 10 orang kaya di Indonesia paling tinggi satu yang muslim yang lainnya nonmuslim,” kata JK.

“Kalau ada 100 orang miskin, saya kira 90 persen yang miskin itu umat Islam,” tambahnya.

Menurut Ketua Dewan Masjid Indonesia tersebut, hal ini merupakan dampak dari ekonomi umat yang tidak maju.

Persoalan ini, menurutnya, juga menjadi satu-satunya kekurangan dari kegiatan ekonomi di Indonesia.

Oleh sebab itu, JK menilai bahwa pemerintah harus memajukan ekonomi nasional sekaligus tidak boleh menutup diri dari ekonomi syariah.

Pada kesempatan tersebut, ia juga berulang kali mengingatkan agar tidak memaknai ekonomi syariah secara sempit.

Menurut JK, semua kegiatan ekonomi yang tidak haram berarti halal dan semua ekonomi yang halal berarti ekonomi syariah.

“Sama dengan pusat industri halal, ya semuanya halal, mau industri minum, mau industri baju, industri tekstil, industri mesin semua syariah, jangan bapak tutupi ekonomi ini dengan keterbatasan, karena semua syariah,” ujarJusuf Kalla. (*)

Halaman:
1
2

Editor: Milna Miana

Sumber: Suara.com

Tags

Terkini

X