Jumlah Warga Miskin Meningkat saat Pandemi, Terburuk Selama 30 Tahun Terakhir

Milna Miana
- Kamis, 21 Oktober 2021 | 11:45 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Maka tak salah ketika banyak pakar berpendapat bahwa Covid-19 telah mengakibatkan kondisi terburuk dalam upaya pengurangan kemiskinan global selama tiga dekade terakhir.

Kondisi masyarakat yang hidup dalam kemiskinan pun mengalami banyak kekurangan yang menghambat mereka untuk mewujudkan hak-hak hidup yang layak, di antaranya lingkungan kerja yang berbahaya, tempat tinggal tidak aman, kekurangan gizi, dan akses terbatas terhadap layanan kesehatan.

Fokus utama pemerintah

Kondisi yang sedemikian akut ini telah mendorong pemerintah untuk fokus dalam pengentasan kemiskinan melalui serangkaian kebijakan untuk memulihkan ekonomi pasca pandemi.

Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi yang merata bagi seluruh masyarakat. Apalagi, pandemi Covid-19 masih berlangsung di berbagai belahan dunia sehingga turut berkontribusi meningkatkan angka kemiskinan.

Oleh karena itu, seluruh negara perlu ikut berpartisipasi dalam Hari Pengentasan Kemiskinan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 17 Oktober. Pada momen ini setiap negara wajib melakukan upaya terbaik untuk menggerakkan kekuatan politik dan sumber daya demi mengentaskan masalah kemiskinan.

Peringatan Pengentasan Kemiskinan Internasional tahun 2021 ini pun mengangkat tema penting yang relevan dengan kondisi saat ini, yakni “Building Forward Together: Ending Persistent Poverty, Respecting all People and our Planet.”

Harapannya, seluruh masyarakat dunia dapat meningkatkan kesadaran dan saling mendukung demi mencapai kehidupan yang layak dan lebih sejahtera. Saat dunia menuju pemulihan pasca Covid-19 maka masyarakat harus membangun kehidupan masa depan yang lebih baik.

Masa depan yang lebih baik tersebut pun tak hanya dinilai dari menurunkan tingkat kemiskinan, tetapi juga melakukan berbagai upaya yang berkaitan dengan relasi manusia dengan alam, serta hubungan sosial antar masyarakat.

Membangun ke depan berarti mengubah hubungan manusia dengan alam, merevolusi diskriminasi yang kerap merugikan orang-orang miskin, serta membangun kerangka moral dan hukum berdasarkan hak asasi manusia yang menempatkan martabat manusia sebagai landasan mengambil kebijakan dan tindakan.

Halaman:

Editor: Milna Miana

Sumber: rilis

Tags

Terkini

X