Indonesia Harus Waspada Gelombang 3 Covid, Rusia hingga Inggris Sudah Meledak

Rahma Nurjana
- Sabtu, 23 Oktober 2021 | 07:44 WIB
Ilustrasi (Foto: Reuters)
Ilustrasi (Foto: Reuters)

Meskipun kasusnya tinggi, pemerintah akan melanjutkan rencana strategi vaksinasi, dan sekarang keadaannya jauh lebih baik daripada tahun lalu," katanya dikutip Jumat (22/10/2021).

Ia juga meminta anak 12 hingga 15 tahun mendapat vaksin. Menurutnya vaksin sudah tersedia untuk mereka.

Sebelumnya, kenaikan ini juga diyakini akan terus terjadi. Bahkan ramalan baru dari Kementerian Kesehatan setempat menyebut kasus bisa menembus 100.000 per hari, seiring masuknya musim dingin

Pelonggaran besar-besaran Covid-19 sudah dilakukan negeri itu sejak Juli lalu. Berbeda dengan negara-negara Uni Eropa lain yang memberlakukan "paspor vaksin", Inggris menghentikan rencana untuk memberlakukannya.

Selain itu, penggunaan masker, jarak sosial dan tindakan lainnya tidak lagi diwajibkan oleh hukum di Inggris.Ini kontras dengan tindakan ketat di beberapa negara Eropa, di mana bukti vaksinasi atau tes negatif masih diperlukan untuk mengunjungi bar dan restoran atau bekerja di beberapa bidang, termasuk perawatan kesehatan.

Kesuksesan vaksinasi sebelumnya juga terganggu karena mandeknya program suntikan booster dan suntikan vaksin untuk anak. Belum lagi isu lain yakni ditemukannya mutase varian Delta, Delta Plus (AY 4.2) di negeri itu.

Inggris menggunakan AstraZeneca untuk vaksinasi Covid-19. Namun dari studi Kesehatan Masyarakat Inggris (PHE), perlindungan vaksin akan turun dari 66,7% ke 47% selama 20 minggu.

Ini berbeda jika dibandingkan dengan Pfizer. Di mana turun 90% ke 70% dalam waktu yang sama.

Dalam penelitian berbeda, efisiensi melawan pasien dirawat ke RS karena varian Delta juga turun 90% ke bawah 80% setelah 140 hari. Sementara Pfizer tetap 90%. (*)

Halaman:

Editor: Rahma Nurjana

Sumber: CNBC Indonesia

Tags

Terkini

X