Banjir Bandang di Kabupaten Cilacap Surut, Aktivitas Warga Kembali Kondusif

Rahma Nurjana
- Kamis, 28 Oktober 2021 | 11:17 WIB
Banjir bandang yang sempat menerjang Kabupaten Cilacap terpantau pada hari ini, Kamis (28/10), pukul 05.30 WIB telah surut (Foto: dok BNPB )
Banjir bandang yang sempat menerjang Kabupaten Cilacap terpantau pada hari ini, Kamis (28/10), pukul 05.30 WIB telah surut (Foto: dok BNPB )

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM – Banjir bandang yang sempat menerjang Kabupaten Cilacap terpantau pada hari ini, Kamis (28/10), pukul 05.30 WIB telah surut. Wilayah yang terdampak banjir bandang tersebut yaitu Kecamatan Wanareja dan Majenang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap menyebutkan warganya melakukan pembersihan lumpur maupun material sampah di rumah masing-masing. Di samping itu, petugas gabungan daerah juga telah mengangkut sampah yang ada ruang publik. BPBD bersama organisasi perangkat daerah lain mencatat dampak banjir yang melanda tiga desa yang tersebar di dua kecamatan ini.

Siaran pers BNPB yang diterima harianhaluan.com, Kamis (28/10/2021) menyebutkan desa terdampak yaitu Desa Wanareja dan Limbangan di Kecamatan Wanareja dan Desa Salebu di Majenang.

Berdasarkan informasi BPBD setempat, banjir ini dipicu salah satunya hujan dengan intensitas tinggi yang disertai petir pada Rabu lalu (27/10). Peristiwa yang terjadi pada sore hari, sekitar 17.45 WIB, diawali meluapnya debit air Sungai Cigeugeumah dan Sungai Cilacap. Tercatat tinggi muka air saat banjir terjadi sekitar 15 – 100 cm. Selain banjir, hujan juga memicu terjadinya longsor di beberapa titik.

Dampak yang tercatat oleh BPBD Kabupaten Cilacap yaitu 260 KK terdampak banjir, sedangkan 4 KK atau 17 jiwa terdampak longsor. Kerugian material menyasar 260 unit rumah terdampak, kios pasar rusak berat 1 unit dan 10 lainnya masih dalam pendataan tingkat kerusakan. Selain itu, infrastruktur berupa jembatan rusak ringan 1 unit, jalan di kompleks pasar Karanggendot rusak sepanjang 100 m dan saluran irigasi di wilayah itu sebagian jebol.

Menyikapi kejadian Rabu lalu, BPBD Kabupaten Cilacap mengimbau warga untuk lebih waspada terhadap potensi bahaya hidrometeorologi basah, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang. BPBD merekomendasikan apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi, warga segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Kesiapsiagaan Hadapi La Nina

Intensitas bencana hidrometeorologi basah yang cenderung meningkat, masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan siap siaga. Menghadapi potensi tersebut, khususnya kesiapsiagaan menghadapi La Nina, BNPB telah meminta BPBD provinsi di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), potensi La Nina dapat terjadi pada periode Oktober 2021 sampai dengan Februari 2022. Fenomena ini merupakan anomali iklim global yang dapat memicu peningkatan curah hujan. Puncak musim hujan juga diprediksi akan dominan terjadi pada bulan Januari dan Februari 2022.

Halaman:

Editor: Rahma Nurjana

Sumber: rilis

Tags

Terkini

Daihatsu Ramaikan Pameran GIIAS 2021 di Surabaya

Kamis, 9 Desember 2021 | 14:15 WIB

Pulihkan Lokasi Bekas Tambang, Jokowi Tanam Pohon

Rabu, 8 Desember 2021 | 19:51 WIB

Jokowi Resmikan Bandara Tebelian di Sintang

Rabu, 8 Desember 2021 | 15:15 WIB

Farid Okbah Resmi Ditahan Polisi 120 Hari ke Depan

Rabu, 8 Desember 2021 | 12:15 WIB

Diungkap, Begini Hasil Tes Kejiwaan Siskaeee

Rabu, 8 Desember 2021 | 11:30 WIB
X