Anak Muda Jadi Target Radikal, Nur Berlian: Pendidikan Kebhinekaan Semakin Penting

- Sabtu, 20 November 2021 | 11:00 WIB
Ilustrasi radikalisme
Ilustrasi radikalisme

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Baru-baru ini publik dikejutkan dengan tertangkapnya terduga terorisme di tubuh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hal ini membuktikan bahwa paham radikalisme bisa menyerang siapa saja dan dapat menyusup tanpa terdeteksi.

Yang meresahkan, generasi muda lebih mudah terpapar paham ini. Lebih jauh, sikap intoleran mulai terdeteksi di bangku-bangku sekolah dasar.

Baca Juga: Terpapar Paham Radikal, Apakah MUI akan Dibubarkan Pemerintah?

Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menemukan permasalahan intoleransi kebhinekaan di lingkungan sekolah. Riset ini menemukan setidaknya tiga permasalahan pendidikan kebhinekaan di sekolah

“Tiga hal itu mencakup kebijakan pemerintah dan sekolah, sikap dan perilaku warga sekolah, serta keterbatasan sumber daya," ujar Nur Berlian Venus Ali Peneliti Puslitjakdikbud Kemendikbud.

Baca Juga: Tangkal Radikal dan Terorisme, FKPT Sumbar Ajak Masyarakat Bentengi Diri dari Godaan

Dia menyebut pihak sekolah juga terlalu menekankan kemampuan kognitif. Sebagian pemerintah daerah kurang memiliki inisiatif dalam program kebhinekaan di sekolah.

Nur Berlian pun menjelaskan bahwa tidak semua sekolah memberikan pelayanan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianut siswa. Banyak dari siswa yang masih sulit berbaur dengan mereka yang berbeda suku, agama, dan etnis.

“Sikap dan perilaku warga sekolah terbentuk dari pendidikan sebelumnya atau lingkungan yang kurang mendukung pembauran," ucapnya lagi.

Halaman:

Editor: Milna Miana

Sumber: rilis

Tags

Terkini

1,4 Juta Vaksin AstraZeneca Kembali Tiba di Tanah Air

Kamis, 20 Januari 2022 | 14:15 WIB

6 Kebijakan Ketat PLN, Cegah Penyebaran Covid-19

Kamis, 20 Januari 2022 | 10:23 WIB

Tjahjo Kumolo: Tahun ini Pemerintah Tak Terima CPNS

Rabu, 19 Januari 2022 | 20:05 WIB
X