Selamat Tinggal Tarif Murah

Administrator
- Jumat, 16 Januari 2015 | 20:34 WIB

Sayangnya, spekulasi ten­tang penyebab jatuh dan cela­kanya Airasia QZ 8501 terus bermunculan. Bahkan ter­ke­san, Kemenhub terus meng­giring opini publik bahwa penyebab jatuhnya pesawat yang lepas landas dari Bandara Juanda Surabaya tersebut ada­lah kesalahan pilot. Beragam pernyataan pihak terkait, terus menyudutkan bahwa yang ha­rus bertanggung jawab secara penuh adalah pihak maskapai dan otoritas bandara.

Setidaknya, itu terlihat dari pernyataan yang disampaikan Plt. Dirjen Perhubungan Udara, Djoko Muratmodjo. Menurutnya, Airasia telah melakukan pelanggaran regu­lasi. Di antaranya, tidak memi­liki izin terbang untuk ekstra flight Surabaya-Singapura pada hari Minggu tersebut. Kemu­dian, pilot juga tidak melaku­kan brifing  dan mengambil catatan mengenai laporan cua­ca sebelum terbang.

Spekulasi semakin ramai, ketika beberapa pihak mena­makan penerbangan di luar rute dan jadwal tersebut sebagai pesawat hantu. Tragedi Airasia QZ 8501 yang seharusnya dimaknai sebagai musibah dan duka, berubah menjadi ajang mencari siapa salah siapa be­nar. Percitraan dan mencari “kambing hitam” menjadi le­bih pekat aromanya diban­ding musibah itu sendiri. Sementara media massa – terutama tele­visi – menjadikan tragedi terse­but sebagai “jualan” meraih rupiah.

Di pihak lain, secara tidak langsung musibah ini juga membuka borok yang selama bersemayam di tubuh Kemen­hub, otoritas bandara dan pihak maskapai. Sulit untuk tidak mengatakan, bah­wa semua pihak terkait atau pemangku kepentingan, tidak berkon­tribusi terhadap carut marut du dunia pener­bangan ter­sebut.

Inilah yang kemudian mem­­­buat pihak Kemenhub meradang. Ujung-ujungnya, kementerian yang kini di­nakhodai Ignasius Jonan ter­sebut membekukan 61 rute penerbangan dari lima mas­kapai yang diduga melanggar atau tidak memiliki izin ter­bang. Serta memberikan san­ksi kepada 11 pejabat dan pegawai Kemenhub berupa mutasi dan penonaktifan.

Tak berhenti sampai di situ, Kemenhub juga menge­luarkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) yang mengatur tentang tarif atau harga tiket. Yakni, tarif batas bawah diperbolehkan sebesar 40 persen dari tarif batas atas.

Sederhananya begini, jika tarif batas atas rute Padang-Jakarta adalah Rp. 2.000.000, maka tarif batas bawahnya adalah Rp 800.000. Dengan demikian, ke depannya kita tidak akan lagi menemukan maskapai dengan tarif murah. Maskapai penerbangan yang selama ini dikenal sering menawarkan tarif promo dan penjualan tiket secara online akan mengalami masa-masa suram atau bahkan mati suri.

Pihak Kemenhub berdalih, tarif murah menjadi indikasi pihak maskapai mengabaikan faktor keselamatan (safety) penumpang. Alasan seperti ini, kiranya patut dipertanyakan. Rasanya, sangat konyol jika manajemen Airasia menjual tiket murah atau promo de­ngan “menggadaikan” kesela­matan penumpangnya. Sebab, apa yang terjadi hari ini, saya yakin, pihak Airasia pasti merasa dirugikan, baik secara moril maupun immateri. Ba­yang­kan, berapa kompensasi yang harus dibayarkan serta kehilangan asset perusahaan yang tidak sedikit.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Jokowi Minta Polri Turut Kawal Realisasi Investasi

Jumat, 3 Desember 2021 | 19:05 WIB

Jokowi Tinjau Terminal BBM di Bali

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:43 WIB

Bali Bakal Jadi Lokasi IPU Tahun Depan

Jumat, 3 Desember 2021 | 13:50 WIB
X