Padang Jangan Banjir Seperti Jakarta

- Selasa, 10 Februari 2015 | 19:30 WIB

Di Jakarta Selatan wilayah yang terdampak banjir mencakup 38 RW, 21 kelurahan, 7 kecamatan dengan penduduk terdampak 2.092 KK (7.280 jiwa). Sedangkan di Jakarta Timur ada 60 RW, 27 kelurahan, 7 kecamatan dengan pengungsi 1.800 jiwa di 6 titik pengungsian. Di Jakarta Utara wilayah yang terendam banjir 89 RW, 18 kelurahan, 5 kecamatan dengan pengungsi 2.518 jiwa di 6 titik.  Hingga malam  tadi , sejumlah jalan di Jakarta masih digenangi air. Li lapangan Meruya Selatan Jakarta Barat, masih tergenang sekitar 40 cm. Pengendara roda dua yang nekat melintasi genangan tersebut harus menanggung resiko mati mesin atau mogok. Selain itu, genangan air juga terpantau dari arah Joglo ke Meruya atau sebaliknya bahkan jalan sempat ditutup siang tadi oleh kepolisian.

Banjir telah menyebabkan kemacetan di mana-mana, roda perekonomian, perdagangan, kegiatan sekolah-kuliah, rumah sakit, panti jumpo dan lainnya terganggu, bahkan terhenti sama sekali. Jangankan rumah rakyat miskin di pinggir Sungai Ciliwung, Istana Negara/Istana Presiden saja tak luput dari banjir. Begitulah kondisi Jakarta kini. Tentu tidak bisa disalahkan, Gubernur DKI Jakarta sekarang atau sebelumnya dan juga Presiden, tapi ini merupakan akumulasi dari semuanya. Pemerintah dari puluhan tahun lalu hanya sekedar pidato yang berapi-api saja mengatakan bahwa Jakarta sudah sesak, sehingga pembangunan proyek-proyek baru perlu dikembangkan ke daerah lainnya di luar wilayah Jakarta, bahkan ke luar Pulau Jawa. Hal itu juga untuk menekan tingginya angka urbanisasi ke ibukota negara dari tahun ke tahun.

Namun dalam praktiknya, mayoritas pembangunan mega proyek tetap saja di Jakarta. Akibatnya arus urbanbisasi pun tak terkendalikan. Daya resap tanah atau lahan di ibukota tidak sebanding lagi dengan jumlah gedung-gedung dan masyarakatnya. Akibatnya, sudah bisa ditebak, begitu terjadi  hujan deras berdurasi atau itensitas panjang, banjir besar di mana-mana menjadi sebuah konsekwensi  yang tak terhindarkan.

Bagaimana dengan Kota Padang, Ibukota Sumatera Barat? Tentu saja masyarakat Kota Padang dan juga masyarakat Sumbar, tidak ingin Kota Padang dilanda banjir hebat seperti halnya yang merendam Kota Jakarta. Tapi sekedar perasaan tidak ingin saja, tentu tidak cukup. Karena mesti disadari pula, Kota Padang yang menghadap ke laut dan membelakang ke bukit-bukit yang cukup tinggi dan curam, juga berpotensi terndam seperti Kota Jakarta.

Potensi banjir itu tidak  bisa terhindarkan, bila mana tidak ada upaya untuk mengantisipasinya sejak awal. Ciri-ciri Kota Padang akan bernasib serupa dengan Kota Jakarta yang sering dilanda banjir, sudah ada tanda-tandanya. Apa itu? Kantor Balai Kota Padang di kawasan Air Pacah, Bay Pass, Kecamatan Koto Tangah yang cukup jauh  dari pinggir pantai, saat hujan deras turun berjam-jam, berubah menjadi danau dan sungai. Begitu juga dengan RSUD dr Rasidin di kawasan By Pass juga, begitu hujan deras tiba, kawasan RSUD tersebut kebanjiran. Demikian pula dengan sejumlah kawasan lain di Kota Padang. Terkesan studi kelayakan pembangunan sejumlah proyek di Kota Padang tidak berjalan dengan baik. Karena itulah,  mari dari sekarang pemerintah bersama-sama dengan pihak terkait lainnya dan masyarakat mengantisipasi terjadinya banjir setelah ada kajian-kajian konprehensif yang selanjutnya diaplikasikan di lapangan. **

Editor: Administrator

Terkini

X