UN Online, Program Mimpi atau Halusinasi

- Rabu, 11 Februari 2015 | 19:43 WIB

Tapi ternyata, mayoritas sekolah tidak sanggup melaksanakannya. Tidak saja SMA/SMK/MAN di Kota Padang dan kota/kabupaten lainnya di Sumatera Barat, sekolah-sekolah di Kota Bandung yang sangat dekat dengan ibukota negara saja mayoritas tidak siap dalam melaksanakannya. Penyebabnya, karena komputer (PC) yang dimiliki sekolah jumlahnya tidak cukup sebagaimana yang diatur dalam System Operational Prosedure (SOP) UN Online. Menurut ketentuannya, jika jumlah peserta UN sebuah sekolah 300 siswa, maka komputer PC yang tersedia mesti 100 unit. Artinya UN dilangsungkan dalam tiga tahapan. Satu komputer PC dipakai oleh tiga siswa peserta UN secara bergantian. Spesikasi komputer PC yang digunakan untuk UN online juga harus sesuai dengan SOP.

Persoalannya adalah, tidak ada satu sekolah pun di Sumatera Barat yang memiliki komputer PC yang jumlahnya 1/3 dari siswa peserta UN di sekolah tersebut. Kalaupun ada SLTA yang jumlah peserta UN-nya 100 orang dan sekolah itu punya komputer PC 40 unit, tapi komputer tersebut tidak memenuhi spesifikasi sebagaimana SOP UN online. Itu baru berbicara tentang jumlah perangkat komputer PC dan spesifikasinya yang tersedia di sekolah, belum lagi  disinggung soal kemampuan siswa peserta UN online dalam memahami dan mengoperasikan computer dan sistem internet.

Mayoritas siswa SLTA di perkotaan seperti, Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau pun Kota Padang barangkali sudah mahir dalam mengoperasikan komputer dan internet, tapi  bukan pula berarti semuanya sudah lihai. Tapi, bagaimana dengan siswa peserta UN di wilayah Mentawai, Pesisir Selatan, Pasaman, Solok Selatan, Limapuluh Kota dan lain sebagainya. Boleh yakin kita, bahwa masih banyak di antara mereka yang belum akrab dengan teknologi komputer begitu pula internet. Tentu sangat memprihatinkan bila mereka tidak lulus UN, bukan karena ketidakmampuan mereka di dalam memahami dan menangkap pelajaran yang ada, tetapi mereka justru gagal karena tidak familiar dengan teknologi komputer dan internet yang memang mereka terkadang hanya menjumpainya satu kali seminggu atau sekali sebulan, bahkan mungkin baru sekali dua kali saja selama hidup mereka.

Tentu sangat memprihatinkan ketika kita mengetahui secara persis realitas mayoritas siswa dan SLTA kita baru seperti itu, namun Gubernur, Walikota, Bupati, Kadis Pendidikan dan  Kepala Sekolah tidak berani membuka mulut untuk mengatakan bahwa program UN online tersebut adalah program mimpi, program halusinasi atau program orang mabuk. Jangan tahun 2015, tahun 2017 saja kita belum tentu dapat melaksanakan UN online dengan baik, dengan adil dan dengan hasil yang optimal. Terkecuali jika dalam kebijakan pemerintahan menginstruksikan lebih penting yang sunat dari pada yang wajib. Perumpamannya, lebih penting memakai topi atau dasi dari pada memakai celana.

Kadis Pendidikan  Provinsi Sumatera Barat Syamsulrizal menyatakan tahun 2015, Sumbar belum bisa melaksanakan UN online. Pasalnya, belum satu pun SLTA yang memiliki komputer PC jumlah dan spesifikasinya sesuai dengan SOP UN Online. Jangankan sekolah biasa, sekolah eks-RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) saja yang jumlahnya sekitar 10 unit di Sumbar, belum memiliki jumlah dan spesifikasi komputer yang sesuai dengan SOP UN online. Tentu saja bukan bermaksud buruk, tapi perlu juga dipertanyakan, ada kepentingan apa di balik program UN Online. Apakah ada kepentingan bisnis komputer  PC dan jaringan internet di balik itu? Ini perlu menjadi PR bagi penegak hukum, jangan-jangan ada yang tidak beres. Mengingat jumlah peserta UN 2,5 juta siswa. Jika harus diadakan sejuta komputer PC seharga Rp5 juta per unit, maka nilai belanja komputer PC tersebut ada sekitar Rp5 triliun. Belum lagi nilai proyek sistemnya secara nasional. Tentu saja kita berharap dunia pendidikan tidak dijadikan kelinci percobaan atau pun kepentingan bisnis yang terlalu sempit yang kurang memperhatikan manfaat dan kerugian bagi peserta didik. **

Editor: Administrator

Terkini

Pemprov Riau Diminta Serius Kelola Aset Daerah

Kamis, 5 Agustus 2021 | 23:08 WIB

Mayat Mengapung di Sungai Gegerkan Warga Rengat

Kamis, 5 Agustus 2021 | 19:56 WIB
X