Refleksi 25 Tahun YPI Raudhatul Jannah (3)

- Kamis, 12 Februari 2015 | 19:48 WIB

Dengan visi seperti itu, beliau membuat YPI Rau­dha­tul Jannah proaktif di dalam membangun kesadaran bersa­ma dan berupaya untuk me­ngem­balikan kualitas pen­di­dikan umat. Bersama yayasan pendidikan Islam yang ada di Payakumbuh, beliau pernah melahirkan sebuah wa­dah diberi nama Persatuan Lem­baga Pen­di­di­kan Islam (PL­PI). Melalui wa­­dah ini di­ha­rapkan para pengurus ya­yasan dapat bersinergi di dalam merespon kebutuhan pendidikan umat tanpa men­g­hilangkan ke­khas­an sekolah/madrasah/pesan­tren masing-masing.

Mengelola empat tingkat satuan pendidikan (sekolah) 1 bimbingan belajar, koperasi karyawan, swalayan, dan beng­kel furniture, dengan jumlah siswa sebanyak 2.325 serta 212 tenaga pendidik dan kepen­di­dik­an adalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan energi. Jumlah tenaga sebanyak itu tentu harus diorganisir dengan baik. Mulai dari menyatukan visi, misi, dan persepsi, orien­tasi kiprah dan standar opera­si­o­nal kerja.

Yayasan berusaha menca­irkan suasana dari ba­nyak orang dari berbagai ma­cam latar bela­kang untuk mewu­judkan sebuah cita-cita be­sar YPI Rau­dhatul Jannah. Peker­jaan tersebut tid­ak­lah  mudah, apalagi dari segi usia dan pengalaman masing-masing tidak terpaut jauh. Ener­gi besar ini tentu mesti dikelola dengan baik melalui sebuah sistem yang ditopang oleh atu­ran-aturan organisasi yang jelas, tegas, dan imple­men­tatif dalam suasana persau­daraan, sema­ngat kekeluar­gaan dan keber­sa­maan.

Program-program untuk merekat ukhuwah Islamiyah sesama guru dan pegawai telah dicreate dan dijalankan seperti Tahsin Tilawah Qur’an dan Kajian Islam setiap minggu sekali yaitu pada Hari Jumat pagi, rapat gabungan seluruh guru dan pegawai setiap satu bulan sekali, goro bersama dua minggu sekali, safari dakwah dengan mengunjungi masjid-masjid di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota sekitarnya. Melalui kegi­atan ini guru dan pegawai lintas unit da­pat berta’aruf satu de­ngan lainnya secara lebih da­lam sehingga kegiatan ini da­pat dengan efektif memini­malisir ego sektoral dan mem­buka wawasan ke-Rau­dha­tul Jannah-an yang utuh.

Berkaitan dengan upaya meraih prestasi pada perlom­baan/even baik lokal, regional, maupun nasional sekaligus untuk memantapkan akhlak, leadership, dan kete­ram­pilan siswa telah di­pro­gramkan ber­ke­lanjutan baik dibawah ken­dali kepala sekolah mau­pun yayasan berupa pemu­satan latihan menyong­song Olim­piade Sain Nasional (OSN) , weekend tahfizul qur’an, ma­lam bina iman dan taqwa (MA­BIT), halqoh, dll,  yang dilangsungkan setiap minggu. Pemusatan latihan (TC) ini memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap capaian prestasi siswa di dalam berbagai even dan perlombaan.

Sukses tidaknya sebuah program ditentukan oleh ba­nyak faktor, salah satu­nya adalah ketersedian anggaran. Se­jauh ini sumber pemasukan yayasan utamanya berasal dari orang tua siswa, bantuan peme­rintah, dan donasi dari para ‘aghniya’ – baik yang dulunya memiliki hubungan dan ikatan emo­sional dengan Bapak H. Thamrin Manan, SH maupun beberapa orang yang muncul kemudian menjadi simpatisan YPI Raudhatul Jannah.  Ke depan, mengoptimalkan usaha untuk menemukan sumber pendapatan yayasan diluar sumber-sumber konvensional mesti dilakukan, seperti pe­ngem­bangan dan opti­ma­li­sasi unit usaha yaya­san.

YPI-RJ mesti membentuk badan usaha yang bertugas untuk menciptakan, menge­lo­la, dan mengem­bang­kan usaha-usaha yang mampu meng­­hasil uang sebagai sum­ber penda­pat­an baru. Un­tuk itu diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang memi­li­ki jiwa enterpre­neurship dan kemam­puan ma­­­­na­ge­rial yang ku­at, serta didukung oleh ke­ter­sedian modal usaha yang memadai.  Medapatkan sun­tikan modal dari pihak eks­ternal dalam bentuk pin­jam­an lunak, penyer­taan modal usa­ha, atau meraih peluang pro­gram kemitraan/mitra bi­na­an BUMN/BUMD yang ada men­jadi concern pe­ng­u­rus hari ini.

Merujuk pada pangalaman para pendiri YPI Raudhatul Jannah dan konsep pelibatan seluruh elemen masyarakat di dalam membesarkan sebuah yayasan/lembaga pendidikan, maka optimalisasi penghim­pun­an zakat, wakaf, infak, sedekah, dan hibah dari kaum muslimin juga menjadi sebuah alternatif.** (selesai)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

2 Kunci Pengendalian Covid-19 Ala Presiden, Simak!

Rabu, 22 September 2021 | 16:15 WIB

Sabar! Pemerintah Belum Putuskan Cuti Bersama 2022

Rabu, 22 September 2021 | 13:07 WIB
X