Menggugat Dikotomi Sekolah

- Jumat, 13 Februari 2015 | 19:54 WIB

Bersekolah di sekolah fa­vorit adalah sebuah kebang­gaan tersendiri. Siswa me­miliki “status” yang dapat dibanggakan, sementara orang tua juga memiliki prestise yang dapat dibanggakan mana kala putra putri mereka berhasil masuk ke sekolah favorit yang (tentu saja) berbiaya mahal.

Beberapa sekolah favorit bahkan membuka banyak ke­las paralel. Bahkan ada yang membuka kelas pagi dan siang untuk mengatasi keterbatasan ruang kelas. Mereka “ter­paksa” membuka banyak kelas karena permintaan masya­rakat yang tinggi untuk menye­kolah­kan anaknya ke sekolah ter­sebut.

Ini adalah bentuk li­be­ralisasi pendidikan yang ber­langsung secara terus me­nerus. Pemerintah seolah tidak ber­daya menghentikan praktik liberalisasi semacam ini. Pa­dahal ini adalah liberalisasi nyata yang selalu berulang setiap tahun ajaran baru, dan lagi-lagi, siswa dari kelas ba­wah selalu menjadi korban.

Mereka tidak mampu me­nikmati pendidikan ber­kua­litas di sekolah favorit karena ketiadaan biaya. Mes­kipun ada beasiswa, namun jum­lahnya tidak sebanding dengan jumlah siswa dari keluarga miskin, dan di banyak tempat, beasiswa tersebut ternyata salah sasaran.

Dikotomi ini selain me­rugikan sebagian siswa juga merugikan sebagian guru. Guru yang mengajar di sekolah favorit lebih nyaman karena mereka hampir tidak me­nga­lami kesulitan selama me­lakukan proses pembelajaran di kelas.

Mereka mengajar siswa-siswa unggul yang telah me­lalui seleksi ketat. Siswa me­reka juga mampu secara e­konomi sehingga mereka da­pat “memaksakan” untuk mem­­berikan pelajaran tam­bahan dengan biaya tambahan pula. Mereka juga memiliki status yang lebih tinggi.

Sementara, guru-guru di sekolah tidak favorit harus bekerja lebih keras untuk men­cerdaskan siswa-siswa dengan kualitas pas-pasan. Beberapa di antaranya adalah siswa yang tidak memiliki motivasi bela­jar yang tinggi. Lalu, apa yang dapat diharapkan dari kondisi seperti ini?

Ini adalah dua kondisi yang sangat kontras yang dapat dijumpai dengan mudah di setiap daerah di Tanah Air. Dan sekali lagi, pemerintah terkesan melakukan pem­bia­ran terhadap dikotomi ini.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Indonesia Terima Dukungan Vaksin dari Selandia Baru

Selasa, 26 Oktober 2021 | 12:07 WIB

Memasuki Era Endemi Covid-19, Siapkah Indonesia?

Selasa, 26 Oktober 2021 | 11:15 WIB
X