Mengenang Hamka (17 Februari 1908 - 24 Juli 1981)

- Senin, 16 Februari 2015 | 20:06 WIB

Pada zaman orde baru, saat menjadi ketua MUI dan me­nge­luarkan fatwa haram bagi umat islam untuk me­lak­sa­nakan natal bersama, dia me­nga­lami tentangan dari banyak pihak. Pe­merintah juga tidak seja­lan dengan pemikiran te­r­s­ebut.

Akhirnya, ayah dari dua belas anak itu rela melepaskan jabatan dengan te­tap me­me­gang prin­sip. Ter­lepas dari pro-kon­tra fatwa, paling tidak, keteguhan hati dan tang­gung ja­wab to­koh Muham­ma­­di­yah ini ter­ha­dap ij­ti­had-nya pantas diacungi jem­pol.

Sebuah pan­tun yang digu­bah Datuk Pan­duko Alam da­lam bu­ku Ran­cak di La­­buh, menjadi pelecut se­mangat dan ke­be­ranian Hamka dalam meng­hadapi hidup. Ini me­ngins­pirasi lelaki yang tak pernah tamat pen­didikan for­mal tersebut untuk selalu optimis dan pantang takut pada apapun jua.

Putuslah tali layang / Ro­bek kertasnya dekat bingkai / Hidup nan jangan manga­palang (hidup jangan tang­gung-tanggung) / Tidak punya berani pakai (jika tergolong bukan orang yang berpunya atau kaya, pakailah keberanian sebagai modal).

Mungkin tidak banyak o­rang t­ahu kalau Hamka muda adalah pimpinan di sejumlah angkatan perjuangan. Pemuda yang pada usia 18 tahun nekat belajar di Mekkah meski ke­mampuan bahasa arab-nya ma­sih minim tersebut aktif di medan perang dan jadi target penjajah. Dia sempat menjadi pimpinan di Front Ke­mer­dekaan Sumatera Barat, Ten­tara Keamanan Rakyat, Front Per­tahanan Nasional, dan Barisan Pengawas Negari dan Kota.

Atas jasanya di masa per­juangan kemerdekaan, Jen­deral Nasution di tahun 1960 pernah menawari-meski ke­mudian ditolak secara halus—penulis Di Bawah Lindungan Ka’bah ini pangkat kehor­matan Mayor Jenderal Tituler. Walaupun hanya pangkat ke­hor­matan, fasilitas yang dida­pat sama dengan pang­­kat karir.

Irfan Hamka, putra kelima Buya Hamka, menulis buku berjudul Ayah... yang dide­dikasikan bagi peraih Doktor Honoris Causa dari Univer­sitas Al Azhar tersebut. Isi buku terbitan Republika tahun 2013 itu tidak melulu soal pemikiran seni, budaya, aga­ma, dan politik penulis tafsir Al Quran monumental Al-Azhar tersebut. Irfan juga mengisahkan banyak penga­laman selama hidup bersama Hamka hingga sang panutan meninggal dunia.

Dari buku ini tampak kete­nangan Hamka dalam men­jalani hidup. Bagaimana ke­besaran jiwa dan karakter pasrah pada sang khalik, telah i­d­en­tik bagi pria yang men­dapat predikat resmi Pah­lawan Nasional pada 2011 tersebut.

Dalam sebuah perjalanan darat dengan mobil dari Irak menuju Mekkah bersama istri (Siti Raham Ra­sul), Irfan, dan se­orang sopir (U­­mar), Ham­ka tak henti memberi motivasi dan mene­nang­kan semua pe­num­pang. Sebab, berulang kali mereka men­dapat pengalaman menegang­kan dalam per­ja­lanan tiga hari empat malam di tahun 1968 itu. Misalnya, saat mobil me­reka nyaris diter­pa angin topan gurun, dikejar air bah selepas hujan yang tiba-tiba turun, dan saat mobil nyaris terguling karena Umar tertidur sambil menyetir sa­king lelahnya (hal: 162)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Kabar Gembira! Upah Minimum 2022 Bakal Naik

Senin, 25 Oktober 2021 | 13:22 WIB

Anies hingga Mendagri Digugat ke PTUN, Apa Sebabnya?

Senin, 25 Oktober 2021 | 12:12 WIB

Naik Pesawat Boleh Pakai Antigen, Ini Syaratnya

Senin, 25 Oktober 2021 | 11:40 WIB
X