Merindukan Pemimpin Berkarakter Pofetik

- Selasa, 17 Februari 2015 | 20:12 WIB

Terbukti kondisi Indonesia tergolong serba melimpah (gemah ripah loh jinawe) baik dalam hal Sumber Daya Ma­nusia (SDM) maupun Sumber Daya Alam (SDA), sebut saja tambang minyak Petronas, Pertamina, Exon Mobil, serta berbagai kekayaan hutan di Kalimantan dan Sumatra, ditambah lagi tambang Free Port di Papua telah tersebar di tanah air. Seharusnya dengan itu semua Indonesia bisa men­jadi bangsa yang maju, unggul, sejahtera, berdikari, serta me­miliki daya saing tinggi diban­dingkan dengan bangsa asing yang saat ini tergolong bangsa yang maju.

Seharusnya bangsa ini men­jadi tempat bergantung dan menjadi tauladan bagi bangsa lain dalam berbagai aspek.  Akan tetapi, fakta di lapangan jusru berkebalikan. Bangsa yang besar dan kaya ini justru lebih sering bergantung kepa­da bangsa asing. Bahkan, pa­salnya dalam hal produksi pangan pun terutama beras Indonesia harus mengimpor dari negeri lain yang justru kualitasnya di bawah In­do­nesia. Bangsa yang dahulu pernah menjadi “Macan Asia” karena produksi bulognya yang melimpah dan berkualitas tinggi, kini tinggal kenangan. Kondisi ini sesungguhnya sa­ngat tidak logis jika kita sadari dengan kondisi negeri ini yang mayoritas penduduknya ber­pro­fesi sebagai petani. Hal ini sungguh kenyataan pahit bagi bangsa ini.

Dengan kondisi demikian itu, maka saat ini bangsa In­donesia sangat mem­butuhkan pemimpin (baca: presiden) berkarakter profetik. Sebab, sejarah membuktikan bahwa karakter profetik menjadi kunci kesuksesan kepemim­pinan Nabi Muhammad saw. pada zamannya, sehingga ter­ben­tuk masyarakat yang maju, unggul, dan beradab di Ma­dinah, atau lebih terkenal disebut sebagai masyarakat madani.

Istilah profetik merupakan derivasi dari kata prophet. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, arti profetik secara etimologi yaitu bersifat kena­bian. Istilah profetik ini per­tama kali dipopulerkan oleh Kuntowijoyo. Dengan sangat jujur, Kuntowijoyo (2006: 87) menyatakan bahwa ide tentang istilah tersebut terilhami oleh Muhammad Iqbal. Me­nu­rut­nya, setelah nabi Muhammad saw. melakukan mi’raj, beliau tetap kembali ke bumi mene­mui masyarakat dan mem­ber­dayakannya sebagai mani­festasi jiwa kepemimpinannya. Beliau tidak hanya menikmati keba­hagiannya bertemu de­ngan Allah Swt. lantas me­lupakan umatnya.

Dengan demikian, arti ke­pe­mimpinan profetik dalam hal ini yaitu kemampuan sese­orang untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu dengan pola yang dilaksanakan oleh nabi (prophet). Kekuatan ke­pe­mim­pinan profetik ini me­nurut Sanerya Hendrawan (2009: 158), terletak pada tingkat spiritualitas pemimpin. Artinya, seorang pemimpin profetik adalah seorang yang telah selesai memimpin di­rinya dalam berbagai hal, seti­daknya dalam hal inte­lektual, finansial, dan spiritual. Sehing­ga, upaya memengaruhi orang lain, meminjam istilah Hsu, merupakan proses leading by example atau memimpin de­ngan keteladanan (Sus Bu­diharto dan Fathul Himam, 2005: 142).

Adapun tanda-tanda ke­pemimpinan profetik yaitu harus memenuhi beberapa kriteria berikut. Pertama, pemimpin harus mampu mem­­­baca tanda-tanda. Arti­nya, para pemimpin di Indo­nesia terutama Presiden Joko­wi harus mampu menjadi sosok pemimpin yang memang berintelektual luas dan mam­pu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, serta kritis, mampu membaca dan menyikapi perubahan dan per­kembangan zaman. Selain itu juga harus bervisi misi besar, inovatif, dan futuristik.

Terlebih dalam rangka mengahadapi kondisi Masya­rakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Bonusdemografi, Jokowi harus cerdas membaca peluang-peluang yang seki­ranya menguntungkan demi kemajuan Indonesia. Jangan sampai Jokowi ceroboh dalam membuat kebijakan dan me­mutuskan segala sesuatu se­hing­ga merugikan rakyat. Apa­lagi jika dia “mem­bohongi” rakyat dengan kebijakan yang seolah-olah pro-rakyat namun sesungguhnya mencekik rak­yat, maka jangan salahkan rakyat jika mereka akan meng­kudetanya.

Kedua, mampu menya­tukan dan menyucikan jiwa. Sebagai aplikasi dari poin kedua ini, maka pemimpin harus mampu merealisasikan konsep Bhi­nneka Tnggal Ika, menjadi teladan positif rakyat, serta pro rakyat. Untuk menja­di pe­mim­pin profetik, tidak hanya cerdas berbicara yang diperlukan, akan tetapi yang lebih urgen adalah sikap dan perilaku. Kekuatan kedua unsur tersebut lebih kuat bila dibandingkan dengan kekua­tan berbicara. Sebab, melalui keduanya rakyat akan melihat bukti komitmen seorang pe­mim­pin sebagai pemimpin rakyat  Indonesia yang harus melindungi mereka. Dan itu yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. pada za­mannya.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Terpopuler

X