Apa Benar Investor Tak Minati Sumbar?

- Jumat, 20 Februari 2015 | 20:01 WIB

Tentu saja harapan kita, reaksi itu bukan untuk menutup-nutupi, tapi lebih pada menjelaskan kondisi yang sebenarnya melalui capai-capaian yang telah diraih oleh Sumbar di bidang investasi berdasarkan data dan fakta. Karena jika hanya untuk menutup-nutupi, tentu Sumbar yang akan rugi dan semua elemen di daerah ini tidak pernah akan tahu di mana letak persoalan daerah Sumbar sesungguhnya, sehingga bisa tertinggal dari provinsi-provinsi yang mengelilingi Sumbar.

Tentu tidak salah jika Tuako Junaidi Perwata menyam­paikan kondisi yang dikeluhkan sejumlah pemodal yang akan berinvestasi di Sumbar secara terbuka melalui media massa. Termasuk ketika yang bersangkutan menyatakan bahwa salah satu penyebab dari kondisi itu karena masih rumit dan sulitnya proses pengurusan perizinan di Sumbar dan lain sebagainya.

Tetapi tentu perlu pula disadari bahwa membangun situasi yang kondusif bagi tumbuhnya investasi di sejumlah daerah bukan hanya menjadi tugas dan beban kepala  daerah atau pemerintah daerah sepenuhnya. Termasuk faktor penyebab menarik atau tidak menariknya berinvestasi di daerah tertentu, bukan saja menjadi tanggung jawab kepala daerah dan jajarannya di pemerintahan daerah. Tapi pengaruh dan sumbangsih banyak pihak.

Persoalan masih belum optimalnya, sulit atau rumitnya proses perizinan di wilayah Sumbar mencakup di pe­merintahan daerah provinsi, kota, kabupaten, bisa saja terjadi. Tetapi tentunya bukan hanya itu yang menjadi penyebab investor tidak berminat menanamkan modalnya di Sumbar. Banyak lagi hal lainnya. Penyebab lain di antaranya, karena investor  lebih memilih daerah yang memiliki akses lebih dekat ke perairan timur pantai Pulau Sumatera, atau ke Selat Malaka, karena dekat dengan Singapura. Rumitnya persoalan kepemilikan lahan atau tanah di Sumbar juga menjadi salah satu penyebab utama. Berikutnya, Sumbar sebagai daerah yang rawan bencana alam juga menjadi salah satu pertimbangan penting bagi investor ketika akan masuk ke Sumbar.

Selanjutnya letak geografis wilayah Sumbar di Pulau Sumatera juga tidak terlalu strategis, karena tidak berada persis di jalur  Jalan Lintas  Sumatera. Sumut, Riau, Jambi, Sumsel, Kepri sama-sama memiliki letak geografis yang lebih strategis dibandingkan Sumbar, baik dari sisi kelautan  atau pun jalur darat. Berikutnya, juga disebabkan oleh budaya dan karakter masyarakatnya yang kadang tidak kondusif bagi kegiatan investasi.

Cepat atau lambat, tinggi  dan rendah angka pertumbuhan investasi di Sumbar semestinya buka saja menjadi perhatian kepala daerah Pemprov Sumbar saja, tetapi banyak elemen yang mestinya risau akan kondisi tersebut. Masyarakat mestinya juga memiliki kesadaran yang baik untuk mencip­ta­kan situasi yang kondusif bagi kegiatan investasi. Persoalan la­han sewaktu-waktu bisa menjadi bom waktu bagi kegiatan investasi.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BKPM dan PPT) Provinsi Sumbar Masrul Zein, membantah Sumbar tidak lagi diminati investor, sebagaimana pernyataan Tuako HBT Pusat Junaidi Perwata. Menurut Masrul Zein masih banyak investor yang ingin menanamkan investasinya di Sumbar,  terutama dalam eksplorasi panas bumi. Potensi panas bumi yang ada di Sumbar begitu diminati investor luar negeri, salah satunya yang dilakukan perusahaan asal Turki Hytai Group.

Hitay Energy asal Turki, sudah menggarap dua titik panas bumi di Sumbar yaitu di Pincura, Kabupaten Pasaman Barat dengan potensi 50 MW, Kotobaru Marapi Kabupaten Agam dengan potensi 50 MW. Tahun 2015, Hytai berencana akan menambah satu titik baru ekplorasi panas bumi di daerah Panti, Kabupaten Pasaman dengan potensi 150 MW.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

2 Kunci Pengendalian Covid-19 Ala Presiden, Simak!

Rabu, 22 September 2021 | 16:15 WIB

Sabar! Pemerintah Belum Putuskan Cuti Bersama 2022

Rabu, 22 September 2021 | 13:07 WIB

Ada Apa? Giring Ganesha Sebut Anies Baswedan Pembohong

Selasa, 21 September 2021 | 22:55 WIB
X