Ironi Negeri Agraris

- Minggu, 22 Februari 2015 | 18:54 WIB

Tak hanya itu, selain karu­nia tanah subur, negeri ini juga memiliki iklim atau cuaca mendukung utamanya dalam bidang pertanian. Melihat potensi dan posisi ini, banyak kalangan mengatakan bahwa cukup concern dalam me­ningkatkan bidang pertanian saja Indonesia akan sejahtera. Hal ini cukup logis. Pasalnya, sektor pertanian merupakan aspek terpenting dalam kehi­dupan berbangsa dan ber­ne­gara sehingga menuntut untuk selalu dipenuhi.

Masalah Klasik

Namun, sayang seribu kali sayang, nampaknya Indonesia akan segera meninggalkan julukan sebagai negeri agraris. Bagaimana tidak, saat ini bi­dang pertanian mulai diting­galkan oleh masyarakat In­donesia. Hal ini bukan ber­lebihan karena fakta dan data telah membenarkan bahwa sektor pertanian yang menjadi tolok ukur munculnya julukan negara agraris, kini telah dalam fase kritis. Sungguh memi­lukan dan memprihatinkan memang.

Setidaknya terdapat bebe­rapa persoalan klasik yang harus segera dicarikan solusi. Pertama, penghasilan rendah. Tak dapat dibantah lagi bahwa sejauh ini, profesi petani tidak begitu menjanjikan. Kerjanya di bawah terik mata hari tetapi imbalan tak seberapa. Inilah kondisi petani kita saat ini. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab orang yang ber­pen­didikan tinggi atau lulusan sar­jana pertanian enggan bergelut dalam bidang ini. Selain asumsi masyarakat bahwa menjadi petani itu pekerjaan kam­pungan, gaji petani juga tidak terlalu tinggi. Alhasil, banyak dari mereka (sarjana per­ta­nian) beralih ke sektor lain, industri misalkan.

Hal senada diungkapkan oleh BPS yang mengatakan bahwa, penghasilan yang mu­rah di sektor pertanian ditu­ding sebagai salah satu alasan uta­ma para pekerja tani me­milih pindah profesi. Namun, jika dicermati, ketidak­ter­tarikan orang bekerja di sektor per­tanian saat ini sesung­guhnya merupakan akumulasi dari banyak problem yang menjangkiti sektor tersebut selama bertahun-tahun.

Kedua, minimnya keber­pihakan pemerintah. Masalah klasik yang dihadapi para petani yang hingga detik ini belum sepenuhnya terse­lesai­kan adalah kekurangan modal, pupuk, bibit, fasilitas dan masih banyak lainnya. Dalam kaitannya ini, sudah seha­rusnya pemerintah mulai mem­perbarui teknologi di bidang ini. Hal ini dimak­sudkan supaya produktivitas pertanian meningkat. Contoh kecil adalah mesin penggiling padi. Di era modern ini sudah dite­mukan mesin penggiling padi yang terbukti cepat dan meng­hasilkan kualitas beras tinggi. Sebab, mesin ini mampu me­mi­nimalisir kadar pecah padi.

Infrastuktur juga tak mau ketinggalan. Sampai hari ini, keadaan irigasi yang tak opti­mal masih dialami di berbagai daerah. Sekali lagi, kondisi tersebut akan berimplikasi terhadap produktivitas dan kualitas hasil panen. Untuk itu, diperlukan juga organisasi pertanian. Organisasi ini selain melakukan berbagai penyu­luhan juga bisa menjadi control di bidang pertanian.

Ironi Negeri Agraris

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

2 Kunci Pengendalian Covid-19 Ala Presiden, Simak!

Rabu, 22 September 2021 | 16:15 WIB

Sabar! Pemerintah Belum Putuskan Cuti Bersama 2022

Rabu, 22 September 2021 | 13:07 WIB
X