Pacu Ulama Menulis

- Selasa, 24 Februari 2015 | 19:40 WIB

Dari “tradisi” penulisan wahyu ini, muncul beberapa nama sahabat yang sampai saat ini dikenal oleh masyarakat se­bagai penulis wahyu. Dian taranya adalah Sahabat Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Ma­s’ud dan Muawiyah bin Abu Shofyan.

Estafet tulis-menulis ini selanjutnya diteruskan oleh para ulama dari kalangan ta­bi’in hingga ulama kon­tem­porer. Sebagaimana yang dila­kukan Rasulullah, ulama yang telah memanggul gelar sebagai pewaris nabi juga memainkan pena untuk “menangkarkan” ilmu dan gagasan yang di­miliki. Jelasnya, Mereka tidak hanya memfokuskan diri un­tuk dakwah bi al-Qoul (ber­dakwah dengan ucapan) melai­kan juga dakwah bi al-Kitabah (berdakwah dengan tulisan).

Namun sangat miris, esta­fet tulis-menulis yang telah men­tradisi itu perlahan te­renyah­kan dari kehidupan ulama masa kini. Mereka lebih cenderung ber­dakwah dengan lisan kemudian mengabaikan dakwah melalui tulisan. Aki­bat­nya, hanya se­kelumit orang yang dapat me­ngon­sumsi ilmu dan gagasan yang di­sampai­kan. Pasalnya, dakwah dengan lisan hanya dapat menjangkau me­reka yang ada di medan dak­wah. se­dang­kan mereka yang berada pada titik jauh dari medan dakwah akan terabaikan.

Lain halnya dengan ulama yang menggunakan tulisan se­bagai sarana berdakwah. Dak­wah mereka akan lebih tersebar luas, karena tulisan tidak terikat dengan tempat dan waktu. Di­mana­pun ulama tersebut be­rada, dakwahnya tetap dapat diakses oleh masya­ra­kat dima­napun dan kapanpun.

Oleh karena itu, ke­cen­derungan ulama yang hanya menggunakan lisan sebagai sarana dakwah kemudian me­nga­bai­kan tulisan perlu di­lurus­kan. Pasalnya, me­man­dang sebelah mata diantara cara-cara berdakwah dengan memprioritaskan satu cara saja, dapat menghambat pen­ye­baran dakwah. Dakwah me­ru­p­akan perintah Allah untuk me­negak­kan al-Amru bi al-Ma’ruf wa al-Naha an al-Munkar kepada setiap ma­nusia, bukan se­ke­lumit ma­nusia. Pelaksanaannya pun harus diupayakan secara to­talitas. Maka dari itu, re­vi­ta­lisasi menulis sebagai salah satu metode dakwah perlu di­tegak­kan kembali agar sa­saran dak­wah dapat lebih gblobal.

Ulama Harus Menulis

Sebagai seorang pewaris nabi, sudah menjadi sebuah konsekuensi bahwa ulama bertugas meneruskan misi profetik. Yakni, men­yampai­kan perihal yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Dalam mengeemban misi ini, tentu sang pewaris nabi dituntut untuk memiliki tingkat keilmuan yang tinggi. Sebab, selama ini ulama telah dikenal sebagai sosok yang identik dengan ketinggian ilmunya. Dan setidaknya pan­dangan inilah yang men­yebab­kan masyarakat mempercayai ulama sebagai pemegang esta­fet profetik dari genggaman Rasulullah Saw.

Realitas mencerminkan bahwa dakwah ulama akan mudah diterima oleh masya­rakat apabila ia memiliki ilmu yang tinggi. Dan keilmuan yang tinggi tersebut harus ter­kuanti­fikasi secara jelas. Pada zaman dahulu, seorang ulama akan terkuantifikasi keilmuannya apabila memiliki tulisan yang hebat, bukan dari “gedob­osnya” yang menggema-gema.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

X