Pacu Ulama Menulis

Administrator
- Selasa, 24 Februari 2015 | 19:40 WIB

Menurut Ketua Umum BAZNAZ Prof KH Didin Hafidhuddin, menulis meru­pakan cara efektif untuk me­ning­katkan ilmu dan mengasah kemampuan seorang ulama. Tegasnya menulis dapat me­ngasah daya pikir dan ke­cerdasan otak, bagi Kiai didin, menulis merupakan sebuah kebutuhan sekaligus ke­nis­caya­an. Sehingga, sangat di­sayangkan apabila ulama masa kini kehilangan gairah untuk menulis.

Selain itu, menulis meru­pakan cara untuk mewariskan ilmu yang merupakan harta warisan paling berharga bagi para generasi. Sebab, dengan memiliki ilmu seseorang akan mendapatkan kebahagian di aspek kehidupan yang lain.  Keadaan ini sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah dalam Q.S al-Mujadalah ayat 11. Selain orang-orang yang be­riman, Allah akan mengangkat derajat mereka yang memiliki ilmu, sehingga mereka akan mendapatkan kebahagian dan kemuliaan di dunia maupun di akhirat.

Dahsyatnya, melalui tu­lisan yang diproduksi seorang ulama dapat abadi bersama dengan keabadian tulisan-tulisan yang telah dihasilkan. Seorang penulis sekaligus alu­m­nus Pondok Pesantren Mo­deren Gontor Ali Fuadi me­negaskan, bahwa selain men­ciptakan keabadian me­nulis juga dapat menjadi amal ja­riyah. Sebab, karya yang ditulis secara benar dan men­cerahkan jika dibaca kha­layak maka akan menjadi rentetan pahala. Meskipun penulis sudah me­ninggal, selagi karya tersebut tetap dikonsumsi masyarakat maka akan terkirim pahalanya.

Ibnu Rusyd adalah salah satu sosok yang keberadaannya diabadikan oleh masyarakat dunia. Bahkan, sosok yang juga dikenal dengan nama Averroes tersebut telah diabadikan oleh masyarakat Cordoba—salah satu kota di Sepanyol—dengan sebuah patung. Padahal, Ave­r­roes telah meninggal sejak 800 tahun yang lalu. Keistimewaan ini merupakan sebuah “dong­krakan” dari karya feno­menal­nya, yakni kitab Bidayatul Mujtahid dan buku-buku lain karangannya yang men­cerah­kan dunia.

S­ebenarnya, Di Indonesia juga sempat terlahir beberapa ulama besar yang ke­be­radaan­nya diakui masyarakat dunia. Diantara ulama tersebut ada­lah Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Ia merupakan pe­ngarang kitab Tafsir al-Munir yang sangat terkenal di seluruh penjuru dunia. Bahkan, karya-karyanya yang lain sering dijadikan rujukan utama pel­bagai pesantren di Tanah Air maupun di luar negeri.

Setidaknya, alasan-alasan tersebut seharusnya cukup untuk mendongkrak gairah menulis para ulama maupun da’i di Tanah Air. Dakwah itu bukan hanya sekedar orientasi yang short life (jangka pendek) melainkan lebih ke long life (jangka panjang), sehingga generasi kedepan dapat me­nik­mati buahnya.

Dan perlu diketahui bahwa dakwah de­ngan tulisan lebih sistematis dan akuntable. Jadi, dakwah ulama tidak terkesan “gedo­bos” belaka. Semoga ke depan banyak terlahir karya-karya besar ulama di Tanah Air! Wallahu a’lamu bi murodihi. (**)

 

MUHAMMAD HAIZUN NIAM
(Peneliti Muda di Lembaga Studi Agama dan Nasionalisme (LeSAN), Semarang)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Jokowi Minta Polri Turut Kawal Realisasi Investasi

Jumat, 3 Desember 2021 | 19:05 WIB

Jokowi Tinjau Terminal BBM di Bali

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:43 WIB

Bali Bakal Jadi Lokasi IPU Tahun Depan

Jumat, 3 Desember 2021 | 13:50 WIB
X