Islam dan Kesehatan

- Kamis, 5 Maret 2015 | 19:19 WIB

Nabi Muhammad saw. ber­sabda: “Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat yang Ia berikan kepada hamba-Nya.” (HR. Turmudzi dan Hakim, Imam Suyuthi meng-hasan-kannya).

B.Bagaimana Cara Men­syukuri Nikmat? Adalah de­ngan menjaga keberlangsungan nikmat itu sendiri sesuai sun­nah Allah di dalam sebab dan musabab. Ibnu Qayyim ber­kata: “Barangsiapa mere­nung­kan petunjuk Nabi saw., maka ia akan mendapatkannya seba­gai sebaik-baik petunjuk, yang dengannya memungkinkannya untuk memelihara kese­hata­n­nya. Memelihara kesehatan itu dengan cara mengetahui pe­ngaturan tempat makan, mi­num, pakaian, tempat tinggal, udara, tidur, bangun, senggang, nikah dan sebagainya. Apabila hal-hal tadi berhasil dipenuhi dengan cara yang tepat, maka akan lebih mendekati ke­hidupan yang sehat yang ber­kesinambungan.

Apabila kekuatan dan ke­sehatan saja merupakan nik­mat Allah yang besar dan anugerah-Nya yang melimpah, maka sangatlah pantas bagi orang yang diberi rizqi itu untuk menjaganya dan melin­dunginya dari hal-hal yang membahayakannya. Imam Bu­khari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah ber­sabda: “Ada dua nikmat yang di dalamnya banyak orang tertipu: sehat dan senggang” (HR. Bukhari).

Dalam hadits lain Ra­su­lul­lah SAW bersabda: Barang­siapa yang di pagi hari tubuh­nya sehat, dadanya tenteram dan ia mempunyai persediaan makan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia ini diper­untukkan baginya” (HR.Turmudzi).

Dalam riwayat Abu Hurai-rah ra. Rasulullah saw. juga bersabda: “Perkara yang perta­ma kali ditanyakan kepada seseorang pada hari Kia­mat tentang nikmat adalah ketika ia ditanya: “Bu­kankah Kami telah mem­beri­kan kesehatan pada badanmu dan meyegarkanmu dengan air dingin?” (HR.Turmudzi).

Dalam Islam diperintah oleh Rasulullah SAW agar berdoa minta dianugerahi dua kesehatan, yakni kesehatan agama dan kesehatan dunia. Beliau saw. bersabda:

“ Mintalah (kalian) kepada Allah keyakinan dan kese­hatan, karena tidak ada (nik­mat) yang diberikan oleh Allah kepada seseorang yang lebih baik dari pada kesehatan sete­lah keyakinan” (HR. Ahmad).

C. Pemeliharaan Keber­sihan. Salah satu sarana untuk memelihara kesehatan yaitu dengan menjaga kebersihan. Kitab-kitab fiqh kita dalam bab-babnya senantiasa diawali oleh bab yang berjudul Tha­harah (bersuci). Di dalam berwudlu misalnya, diber­sihkanlah bagian-bagian ang­gota tubuh yang sering terkena kotoran, keringat, debu seperti wajah (termasuk hidung de­ngan cara istinsyaq/me­masuk­kan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya dan mulut dengan cara madhmadhah/berkumur), kedua tangan, kedua kaki, kepala dan kedua telinga.3 Perintah berwudlu ini tercantum dalam surat al-Maidah ayat 6. Dalam hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, Nasa-i dan Ibnu Majah, dari Ibnu Umar, dan Ibnu Majah dari Anas dan dari Abu Bak­rah, serta Ibnu Majah dari Walid Abul Malih juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak menerima shalat yang tanpa bersuci “Tidak akan diterima shalat salah seorang dari kalian apabila ia ber­hadats, hingga ia berwudhu.” (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah ra.)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

2 Kunci Pengendalian Covid-19 Ala Presiden, Simak!

Rabu, 22 September 2021 | 16:15 WIB

Sabar! Pemerintah Belum Putuskan Cuti Bersama 2022

Rabu, 22 September 2021 | 13:07 WIB

Ada Apa? Giring Ganesha Sebut Anies Baswedan Pembohong

Selasa, 21 September 2021 | 22:55 WIB
X