Islam dan Kesehatan

- Kamis, 5 Maret 2015 | 19:19 WIB

Ijma’ ulama juga me­nye­butkan bahwa mereka telah sepakat bahwa tidak sah shalat itu tanpa bersuci, yaitu jika seseorang mampu menger­jakannya. (Lihat: Al-Ausath, Ibnul Mundzir: 1/107)

Di atas itu semua, AlQuran dan al-Sunnah menyanjung pelaku dan penggemar ke­bersihan seperti ini. Allah pun juga menyukai pelakunya.

D. Ancaman Bagi yang Mengganggu Kebersihan dan Kese­hatan. Rasulullah ber­sabda: “Barangsiapa meng­ganggu kaum muslimin di jalan-jalan mereka, maka layak mendapat laknat mereka” (HR.Thab­rani dari Hudzaifah bin Usaid, ia meng-hasan-kannya).

Islam melalui lisan Nabi saw. melarang kita kencing di bak mandi, di air menggenang, jalan, tempat yang teduh, atau di sumber air. Rasulullah saw. menyebutnya dengan tiga tem­pat yang dilaknat.

Di antara tempat yang ko­tor adalah sebagaimana sabda Nabi SAW: a.”Jauhilah dua kutukan atau dua macam orang  yang dikutuk: orang yang membuang kotoran di jalan orang dan di tempat berteduh” (HR.Muslim, Abu Dawud, Ahmad). Imam Na­wawi menganggap hal ini mak­ruh tahrim sedang Adz-Dza­habi menganggapnya dosa besar. b.”Jika salah seorang dari kalian bangun tidur, maka janganlah mencelupkan ta­ngannya ke dalam bejana sam­pai ia membasuhnya tiga kali, karena sesungguhnya ia tidak tahu di mana tangannya itu ber­malam” (HR. Muslim /278).

c.”Janganlah salah seorang di antara kalian buang air kecil di dalam air yang tidak me­ngalir lalu mandi di dalamnya” (HR.Bu­­khari). Dalam riwayat Tur­m­udzi “lalu berwudlu da­rinya”.

E. Dorongan untuk Ceka­tan dan Olahraga. Hadits Mut­tafaq ‘alaih menyebutkan bah­wa Nabi saw mohon per­lin­dungan kepada Allah dari ketidakberdayaan dan pe­ma­las. Beliau menjadikan bangun pagi dengan ber­se­mangat seba­gai sifat seorang mukmin yang multazim (kon­sekuen pada agamanya). Beliau bersabda:

“Syetan mengikat pada tengkuk salah seorang dari kalian sebanyak tiga ikatan jika ia sedang tidur…”(HR.Bu­khari kitab Tahajjud III/24). Beliau dalam sejarah juga pernah lomba lari dengan ‘Aisyah ra, isteri beliau sen­diri.(HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Semua ini mendidik kita agar membiasakan diri giat dan cekatan, bukan pemalas, dan semua itu menyehatkan tubuh kita. Tidak benar jika ada hadits Nabi SAW yang men­jelaskan tentang keutamaan lapar, kecuali lapar karena berpuasa. Justru ada hadits shahih yang menjelaskan bah­wa beliau saw. berlindung dari kelaparan: “Ya Allah, se­sungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan, karena ia adalah sejelek-jelek teman tidur” (HR.Abu Da­wud, Nasa-i, Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Sakit ketika berpuasa da­lam Islam menjadi pe­nye­bab dibolehkannya berbuka, yaitu dengan menggantinya pada hari yang lainnya. Rukhshah dari Allah untuk orang yang sakit dan orang yang bepergian jika dipraktekkan oleh hamba-Nya sangatlah disenangi Allah. Rasul saw. bersabda:

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

PKB Tolak Aturan Wajib PCR Bagi Penumpang Pesawat

Rabu, 20 Oktober 2021 | 22:40 WIB

Terpopuler

X