Akreditasi PT Mesti Jadi Perhatian Penting

- Jumat, 6 Maret 2015 | 19:13 WIB

Berbicara tentang SDM dosen, terdapat 6.235 dosen tetap yayasan di PTS Kopertis Wilayah X. Dari jumlah dosen tetap ini, sekitar 2.600 masih memiliki ijazah S1 dan 3.635 berijazah S2. Nyaris separoh dari jumlah dosen tetap PTS ternyata baru berpendidikan S1. Sedangkan yang dikuliahi mereka sebagian juga adalah mahasiswa S1. Dengan kondisi seperti ini, mustahil mengharapkan perubahan signifikan pada kualitas lulusan.

Dari data dan fakta itu, Ganefri bersama pimpinan PTS di Kopertis Wilayah X,  mengharapkan, menteri bisa mengakomodir kebutuhan dosen untuk melanjutkan studi. Salah satunya dengan menyediakan beasiswa.  Rendahnya kualitas SDM menjadi salah satu alasan kenapa masih banyak prodi yang memiliki akreditasi C. Tak hanya itu, hingga kini sekitar 50 persen dosen yayasan belum memiliki jabatan fungsional atau masih berstatus sebagai tenaga pengajar. Inilah kondisi sumber daya di Kopertis Wilayah X.

Menanggapi hal ini, Mohamad Nasir sendiri sejalan dengan pemikiran Ganefri agar PTS lebih mengembangkan diri. Peningkatan mutu PTS merupakan salah satu agenda pen­ting yang masuk dalam rencana kerja Nasir. Untuk me­ngu­rus perguruan tinggi, kini Kemenristek Dikti sejak 5 Feb­ruari lalu telah memiliki struktur yang jelas. Ke­men­terian ini memiliki lima Direktorat Jenderal (Dirjen) ba­ru yaitu Dir­jen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Dirjen Kel­e­mba­gaan yang mengurus izin pembukaan prodi dan lain­nya, Dir­jen Sumber Daya yang mengurus permasalahan do­sen dan aset, Dirjen Riset dan Pengembangan serta Dirjen Inovasi.

Sejauh ini, tentunya masih dipercaya bahwa akreditasi sebuah PTS merupakan gambaran kualitas dari PTS itu sendiri. Jika berbicara kualitas dan kebutuhan masyarakat akan perguruan tinggi, tentu bukan saja akreditasi PTS saja yang patut menjadi perhatian, tapi juga akreditasi  PTN. Masih banyak PTN yang akreditasi institusinya C. Data dan fakta itu semestinya juga menjadi lecutan  bagi PTN yang akreditasinya masih C. Seyogiayanya PTN yang berakreditasi C merasa malu. Karena dengan fasilitas dan pembiayaan dari pemerintah  yang cukup besar, semestinya civitas akademika  PTN berupaya meningkatkan mutu dan kualitasnya.

Pada bagian lain, Kementerian Ristek dan Dikti juga mesti ketat dalam memberikan izin operasional PTS. Tentu pada akhirnya perlu pembatasan bagi PT yang berkantor dan berkampus di ruko, di rumah pribadi dan lain sebagainya.

Menteri mengajak penyelenggara pendidikan tinggi jangan menjadikan PTS sebagai ladang bisnis namun ladang untuk mengabdi. Bagi PTS yang masih memiliki akreditasi C, namun berkeinginan membuka prodi baru, lebih baik mengukur diri dulu. Karena hanya akan menambah beban dan makin menyulitkan bagi PTS itu dalam meningkatkan kualitas.

Sudah semestinya PTN dan PTS, Kopertis dan juga Menteri  Ristek dan Dikti memperhatikan kebutuhan dunia kerja  dengan arah mata kuliah dan program studi yang disediakan di perguruan tinggi sehingga mahasiswa PTN dan PTS begitu menamatkan studinya tidak menjadi penganggur. Apalagi persaingan di Asia Tenggara sejak diberlakukannya MEA 2015 akan semakin sengit. Mudah-mudahan PTN dan PTS tidak hanya mencetak gelar, tapi gelar itu sendiri tidak bisa dipergunakan di dunia kerja. **

Editor: Administrator

Terkini

2 Kunci Pengendalian Covid-19 Ala Presiden, Simak!

Rabu, 22 September 2021 | 16:15 WIB

Sabar! Pemerintah Belum Putuskan Cuti Bersama 2022

Rabu, 22 September 2021 | 13:07 WIB
X