Rupiah Melemah Ekspor Mesti Digenjot

- Minggu, 8 Maret 2015 | 19:54 WIB

Sampai awal Bulan Maret 2015, dana APBN yang sudah terserap baru hanya sekitar 1 persen atau sekitar Rp30 triliunan. Sedangkan kegiatan APBD Provinsi/Kabupaten/Kota nyaris belum ada yang terlaksana. Hal tersebut di antaranya akibat banyak koreksian oleh pemerintah pusat terhadap APBD. Koreksian pun berulang-ulang sehingga membutuhkan waktu yang panjang. Setelah itu, proses pembentukan panitia lelang proyek, pejabat proyek dan lain sebagainya juga memerlukan waktu yang tidak sebentar. Semua itu turut mengulur-ulur pencairan dana dan beredar­nya uang di masyarakat.

Sebagian besar masyarakat mengeluhkan melemahnya rupiah terhadap dolar. Karena seiring dengan itu sebagian besar barang-barang impor harganya juga naik. Sebagian masyarakat ada juga yang merasa sedikit lega begitu nilai tukar rupiah melemah terhadap Dolar AS. Mereka  adalah para petani di desa-desa yang memiliki hasil pertanian dan perkebunan komoditi ekspor seperti gambir, pinang, coklat (kakao) dan lainnya. Gambir  yang  biasa harganya hanya Rp22.000 per kg, kini naik menjadi Rp27.000 per kg di tingkat petani. Namun tidak semua komiditi ekspor harganya naik, sebab sebagian ada juga jumlah permintaan dari luar negeri menurun. Secara menyeluruh melemahnya rupiah terhadap dolar sangat merugikan Indonesia, karena angka ekspor Indonesia kecil ketimbang angka impor. Tahun 2014 ekspor Indonesia 161.671.358.423 USD dan angka impor 163.744.310.592 USD.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan, dari akhir tahun 2014 sampai sekarang terjadi depresiasi rupiah sekitar 4,8 persen. Jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lain seperti Brazil, India, Turki, nilai tukar mata uang negara tersebut lebih terdepresiasi. Mata uang Brazil terdepresiasi 13 persen terhadap dolar AS year to date, sedangkan Turki terdepresiasi 11 persen.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro enggan menyamakan melemahnya nilai tukar rupiah saat ini dengan apa yang terjadi pada 1998 silam. Menurutnya ada suatu pola keseimbangan baru dalam sistem mata uang dunia. Meski katanya, ada sejumlah negara yang sengaja melemahkan mata uangnya, ia mengaku hal ini tidak terjadi pada Indonesia. Pelemahan sekarang karena ada penguatan mata uang dolar AS kepada semua mata uang lainnya.

Ia mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah kepada dolar AS dapat menjadi momentum dan peluang untuk memaksimalkan beberapa sektor yakni ekspor dan pariwisata. Bambang menilai, dua sektor tersebut dapat digenjot lebih keras lagi dalam memanfaatkan momentum melemahnya rupiah di mata dolar AS.

Pada bagian lain, The Finance Research mencatat mata uang bath, peso, rupee per Kamis (5/3) masih menguat. Hal itu menunjukkan tidak semua mata uang mengalami kemerosotan seperti mata uang Won, Yuan, Ringgit dan Rupiah.

Direktur Eksekutif Eko B Supriyanto mengatakan, jika dibandingkan dengan mata uang Asia, nilai tukar rupiah paling dalam longsor. Per Kamis (5/3), rupiah sudah terkikis sampai 4,71 persen jika dibandingkan posisi 26 Desember 2014. Nilai tukar rupiah per 1 dolar AS sudah menembus angka Rp 13.000, padahal pada akhir tahun 2014 masih di level Rp 12.409. Sedangkan mata uang Asia yang mendekat rupiah adalah ringgit Malaysia.

Dia menyayangkan, penurunan rupiah ini tidak dinikmati eksportir, karena ekspor stagnan. Selama transaksi berjalan masih difisit, maka masih belum sehat dan rupiah akan terus longsor. The Finance berpendapat, selain faktor kondisi politik dan fundamental di dalam negeri, penurunan rupiah lebih banyak dipengaruhi pasar global. Sudah waktunya pemerintah mendorong ekspor dengan memperbaiki infrastruktur untuk kelancaran ekspor. **

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Terpopuler

X