Mencari Akar Begal

- Minggu, 8 Maret 2015 | 19:55 WIB

Kini, begal atau penyamun muncul dalam masyarakat modern yang telah  memiliki aturan hukum. Kehadiran mereka telah meresahkan ma­syarakat dan tindakan-tin­dakannya seakan menyiratkan tidak takutnya mereka kepada hukum. Merampas, meng­aniaya dan menghilangkan nyawa sudah menjadi “protap” kelompok ini. Bagi mereka kekuatan adalah hukum. Apa sesungguhya yang terjadi pada bangsa ini?  Benarkah ini hanya persoalan segelintir masyarakat yang mencari jati­diri?, ataukah tidak ber­daya­nya hukum dalam menjaga keamanan masyarakat? Atau, jangan-jangan ini persoalan peradaban bangsa yang kian hari kian terkikis dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Mencermati dari realitas sosial yang terjadi, seti­dak­nya ada beberapa akar yang me­nye­babkan begal tumbuh dan berkembang pada bangsa ini.

Pertama, disfungsi ke­luar­ga. Sebagai wadah tempat tum­buhnya generasi bangsa terka­dang keluarga tidak men­jalan­kan fungsinya dengan maksi­mal. Artinya keluarga tidak menjadi rumah yang nyaman bagi cikal bakal anak bangsa, sehingga anak-anak banyak  mencari tempat ber­teduh lain, yang dalam kaca­mata mereka baik untuk me­reka. Dan di tempat inilah nilai-nilai kehi­dupan mereka temukan dan anut. Bagi me­reka nilai-nilai tersebut men­jadi identitas dan cara hidup mereka. Maka tak ayal nilai-nilai yang mereka anut seperti kekerasan, me­ngambil dan merampas hak orang lain menjadi biasa dan telah me­njadi  bagian dari perjuangan hidup mereka.

Kedua,masalah ekonomi. Kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia, akan  memunculkan pelbagai usaha dalam pemenuhannya. Usaha tersebut tidak lagi me­rujuk legalitas formalnya, apa­lagi halal-haramnya. Bagi me­reka tolak ukurnya adalah terpenuhi kebutuhan. Apalagi kebutuhan hidup pada era konsumerisme ini  tidak ha­nya memandang kebutuhan dasar sebagai pri­mer, tapi sekun­derpun dilihat primer. Alhasil, melakukan kejahatan adalah menjadi pilihan instan di te­ngah sulitnya pilihan lain.

Ketiga, kurang berhasilnya dunia pendidikan dalam me­ru­bah karakter masyarakat. Pen­didikan selama ini orien­tasinya hanya pada pe­ning­katan kecer­dasan inte­lektual. Sehingga kecerdasan emo­sional dan spritual tidak men­dapat tempat yang normal dalam dunia pen­didikan kita. Akhirnya lahirlah anak-anak yang cerdas dalam akademik  tapi lemah dalam moralitas. Seperti pergaulan bebas, peng­gunaan narkoba serta tawuran  tawuran antar pelajar

Keempat, dekadensi mo­ral. Kondisi ini lahir karena nilai-nilai agama, adat dan nilai baik lainnya tidak lagi menjadi referensi utama da­lam ber­sikap. Artinya Nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi tun­tunan telah me­nga­lami per­geseran nilai. Hal ini dise­babkan begitu do­minannya budaya materia­lisme dalam masyarakat era kekinian.

Materi  telah menjadi nilai utama dalam menempatkan strata sosial seseorang. Bahkan, materi penjadi penyumbang utama dalam menilai baiknya laku seseorang. Sehingga nilai ini sudah berpotensi menjadi budaya baru, hal ini terlihat dari ungkapan” dengan uang se­muanya bisa dibeli”. Rea­litas ini tergambar dalam ke­hi­du­pan saat ini, di mana materi me­miliki daya magis yang sangat mumpuni.  Syah­dan untuk un­tuk menjadi pe­mim­pin pun harus meng­gelon­tor­kan uang. Dan sadar atau tidak kondisi ini  juga berkelit kelin­dan dengan masyarakat yang rela “menjual” suaranya de­ngan lembaran-lembaran ker­tas yang hanya bernilai pulu­han ribu untuk memilih pemimpin.

Kelima, pengaruh tonto­nan melalui media. Informasi yang ditayangkan media mem­beri­kan pengaruh besar dalam merubah paradigma berpikir masyarakat. Tayangan-taya­ngan kekerasan dan gaya hidup dengan hedonisme yang di­pub­likasikan secara masif berim­plikasi terhadap pola pikir masyarakat. Mereka diso­dor­kan tontonan kemewahan se­me­n­tara mereka hidup da­lam penderitaan. Yang pada akhir­nya memicu fantasi me­reka untuk memenuhi kebu­tuhan seperti yang dalam tonto­nan, tapi tidak bisa dipenuhi karena terbentur tembok tebal nan tinggi ( baca: kehidupan nyata). Dan akhirnya dorongan fantasi tersebut memunculkan cara-cara kekerasan dalam peme­nuhannya.

Menilik kondisi di atas sesungguhnya menjadi peker­jaan penting bagi pemerintah untuk mengatasi persoalan akar begal. Menjadi begal bu­kan pilihan, tapi terkadang akibat realitas kehidupan dan akumulasi persoalan yang ti­dak menemukan solusi atau jalan keluarnya.

Selama ini banyak masalah dan gejala-gejala sosial yang muncul disebabkan kurang­nya perhatian pemerintah ter­hadap rakyat. Rakyat seakan dibiarkan hidup sendiri tanpa ada perhatian pemerintah, seperti kurangnya lapangan pekerjaan. Hal ini terlihat bagaimana rakyat berinisiatif sendiri untuk  mencari pe­kerjaan dengan menjadi TKI di luar negeri. Berjuang men­cari kehidupan walau ter­kadang mendapat perlakuan yang ti­dak baik. Belum lagi masalah-masa­lah kebuntuan sosial lain­nya yang tidak men­dapatkan saluran komunikasi yang baik dalam ko­mu­ni­tasnya. Apalagi budaya ma­terialisme telah membentuk masyarakat yang acuh ter­hadap orang lain dan ling­kungannya.

Oleh karena itu, mencari akar begal sesungguhnya me­mantik kesadaran kita sebagai anak bangsa untuk memiliki  kepedulian terhadap sesama anak bangsa yang lain dalam makna yang sebenarnya, serta menyadarkan kita agar nilai-nilai luhur bangsa kembali menjadi jatidiri bangsa In­donesia. Karena dengan sikap dan nilai inilah kita akan memotong akar begal, bukan dengan cara-cara yang tidak manusiawi seperti memukul, membakar dan mem­bu­nuh­nya. Dan  menjadi pesan pen­ting untuk pemerintah , agar ke depan negara  benar-benar hadir dalam denyut nadi kehi­dupan masyarakat. Artinya negara hadir dalam memberi dan menjaga keamanan rakyat serta menyejahterakannya. Wallahu’alam

 

SUHARDI
(Mahasiswa Program Doktoral UIN Suska Riau)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Terpopuler

X