Sumbar Lebih Berpotensi di Sektor Pendidikan

- Senin, 9 Maret 2015 | 19:12 WIB

Nama-nama pendiri bangsa dari etnis Minangkabau meluncur dari mulut pemangku jabatan tersebut. Mulai dari nama Bung Hatta, Sutan Syahrir, Agus Salim, M Yamin, Tan Malaka, Buya Hamka dan lainnya dijejal satu-persatu. Tentu saja fakta itu tidak bisa dibantah. Hingga kapan pun semua orang Minang akan merasa bangga atas jasa besar mereka terhadap tegaknya harkat dan martabat serta harga diri bangsa Indonesia di dunia internasional.

Tapi tentu saja kebanggan itu jangan sampai membuat kita lupa dengan kondisi sekarang. Karena rasa-rasanya saat ini, nyaris sepi yang bisa dibanggakan prestasi orang Minang. Sangat minin di antara mereka yang berkiprah di tingkat nasional dan muncul sebagai bagian dari Bapak Bangsa. Paling Sumbar saat ini hanya punya Buya Syafi’i Maarif di tingkat nasional yang bisa membanggakan.

Termasuk kondisi pembangunan Sumbar sekarang, juga nyaris tidak banyak yang bisa kita banggakan. Kondisi itu amat terasa jika dibanding-bandingkan kemajuan pem­bangunan di daerah tetangga, seperti  Sumatera Utara (Sumut), Riau, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau (Kepri), Jambi dan Lampung. Jika dibandingkan dengan daerah-daerah tersebut akselerasi pembangunan Sumbar jauh tertinggal.

Kondisi itu tentu perlu ditemukan benang merahnya. Apakah orientasi pengembangan Sumbar yang sudah disusun beberapa Gubernur sebelumnya salah/keliru atau tak tetap arahnya. Atau memang Sumbar sudah salah urus. Pertanyaan-pertanyaan nakal dan liar seperti itu ada baiknya dapat terjawab melalui pemikiran-pemikiaran dan diskusi yang membangun. Tawaran dari sejumlah tokoh agar orientasi pengembangan Sumbar diarahkan ke sektor pendidikan.

Rektor Universitas Dharma Andalas Prof Dr Syukri Lukman SE MS yang juga guru besar Universitas Andalas pernah mengusulkan agar Sumbar dikembangkan sebagai daerah penyelenggara pendidikan yang terbaik. Karena, potensi paling besar yang dimiliki Ranah Minang adalah untuk pengembangan pendidikan, mulai dasar hingga perguruan tinggi.

Bakat orang Minang yang dominan ada tiga. Pertama, menjadi guru (termasuk dosen). Kedua, menjadi pedagang dan yang ketiga, menjadi mubaligh.  Antara guru dan mubaligh, beda-beda tipis saja. Jika dibuka sejarah, profesi orang-orang besar Minang tidak jauh dari yang tiga itu,” kata Prof Sukry dalam bincang-bincang dengan Haluan di Kampus Dharma Andalas, Simpang Haru, Padang.

Sukry sedikit pengulas manfaat pengembangan sektor pendidikan yang didapat oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Jumlah mahasiswa dari berbagai provinsi di Indonesia dan dari luar negeri yang kuliah di kampus-kampus yang ada di Yogyakarta lebih kurang sekitar 400.000 orang. Jika masing-masing mahasiswa mengeluarkan biaya rata-rata per bulan Rp1 juta per orang, maka jumlah uang beredar di Yogyakarta dalam satu bulan Rp400 miliar. Satu tahunnya Rp4,8 triliun.

Multyplier effect-nya juga sangat besar, bagi sektor perekonomian, perhotelan, pariwisata, transportasi dan lain sebagainya. Karena itu, Pemprov Yogya tak perlu repot-repot mencari investor macam-macam. Sumbar memiliki nilai lebih dibandingkan dengan daerah lain, jika pemerintah daerahnya benar-benar ingin mengembangkan daerah ini untuk sektor pendidikan. Sumbar memiliki perguruan-perguruan tinggi yang sudah cukup ternama seperti Universitas Andalas, Universitas Negeri  Padang (UNP/pengembangan dari IKIP), IAIN Imam Bonjol dan sederet perguruan tinggi lainnya, baik negeri maupun swasta. Sumbar juga memiliki sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas yang berkualitas.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

2 Kunci Pengendalian Covid-19 Ala Presiden, Simak!

Rabu, 22 September 2021 | 16:15 WIB

Sabar! Pemerintah Belum Putuskan Cuti Bersama 2022

Rabu, 22 September 2021 | 13:07 WIB

Ada Apa? Giring Ganesha Sebut Anies Baswedan Pembohong

Selasa, 21 September 2021 | 22:55 WIB
X