Metode Qur‘ani Solusi Untuk Demoralisasi Remaja

- Selasa, 10 Maret 2015 | 19:34 WIB

Abdurrahman An-Nahla­wi, ulama terkemuka dan pa­kar pendidikan dari Mesir, menyusun sebuah karya monu­mental tentang metode-metode pendidikan Qur’ani. Dise­butkannya, bahwa al-Qur’an adalah kitab petunjuk bagi kehidupan, termasuk petunjuk bagi pengembangan dalam dunia pendidikan. Mengapa para pendidik pada generasi terdahulu cukup berhasil mem­bimbing, mengarahkan dan menanamkan nilai moral dalam kehidupan para pelajar ?, dijawab oleh An-Nahlawi, karena mereka menggunakan metode-metode pendidikan Qur’ani. An-Nahlawi menga­jak kita, para pendidik, untuk menengok kembali dan meng­guna­kan metode-metode pen­di­dikan Qur’ani yang cende­rung ditinggalkan.

An-Nahlawi mengung­kap­kan beberapa Metode Pendi­dikan Qur’ani, yang masing-masing memiliki keunggulan.

1.  Metode Targhib-Tarhib (Reward and Punish­ment)

Targhib ialah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhi­rat yang disertai bujukan. Se­men­tara tarhib ialah anca­man karena dosa yang dilakukan. Keduanya bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah. Akan tetapi, penekanannya lebih kepada targhib agar melakukan kebaikan, sedangkan tarhib agar menjauhi kejahatan. Meto­de ini didasarkan atas fitrah (sifat kejiwaan) manusia, yaitu sifat keinginan kepada kese­nangan, keselamatan, dan tidak menginginkan kepedihan dan kesengsaraan.

Menurut sistem pendidi­kan Islam, pelajar harus diberi motivasi sedemikian rupa de­ngan ganjaran atau pahala. Guru-guru memberi ganjaran apapun bentuknya untuk me­nga­rahkan belajar murid-mu­rid­nya secara efektif. Sebalik­nya jika penggunaan ganjaran tidak memberikan pengaruh positif pada peserta didik dan masih saja melakukan pelang­garan-pelanggaran, disinilah nampaknya hukuman sudah harus diterapkan untuk me­m­beri petunjuk tingkah laku manusia. Karena pengajaran merupakan aktifitas kependi­dikan, maka pendidik atau guru harus memberi yang terbaik untuk memotivasi se­tiap anak didiknya dengan memilih metode yang berguna. Pendidik boleh saja memper­gunakan ganjaran dan huku­man sebagai kekuatan-kekua­tan yang member motivasi.

Metode Targhib-Tarhib, sangat tepat untuk mena­nam­kan nilai kesucian diri dan menghindari pergau­lan bebas, menjaga makanan-minuman yang halal serta menghindari yang haram dan subhat, dan persoalan-persoa­lan lain yang serupa. Metode ini akan mem­buat para siswa sangat takut melakukan per­bua­tan-perbua­tan yang haram dan yang sub­hat, dan sebalik­nya akan sangat senang mela­kukan perbuatan-perbua­tan yang justru dian­jurkan. Para siswa yang dididik dengan model targhib-tarhib ini akan sangat takut meng­konsumsi segala maka­nan-minuman yang h­aram, seperti narkoba, dan sebaliknya hanya akan memi­lih makanan-minu­man yang halal; mereka pun akan sangat takut mendekati perzi­naan, dan sebaliknya mereka akan menjaga kesucian dirinya; dan sebagainya.

2.  Metode Hiwar, me­tode ini sangat tepat untuk menanamkan nilai-nilai akhla­qi,­ seperti penghormatan ter­ha­dap orangtua dan guru, membangkitkan motivasi bela­jar, dan menanamkan ketaatan beribadah.

Hiwar (dialog) ialah perca­kapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topik, dan sengaja dia­rahkan kepada satu tujuan yang dikehendaki (dalam hal ini oleh guru). Dalam setiap hiwar, jalan dialog harus disusun sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan-tujuan itu tidak selalu langsung kepa­da pem­binaan rasa, didikan rasa yang membentuk sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan sikap itu.

3.  Metode Qishah Qur’­a­ni, sangat tepat untuk mena­namkan nilai kebang­gaan bera­gama dan keyakinan yang penuh terhadap kebenaran Al-Qur’an.

4.  Metode Amtsal (Pe­rum­pamaan)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

2 Kunci Pengendalian Covid-19 Ala Presiden, Simak!

Rabu, 22 September 2021 | 16:15 WIB

Sabar! Pemerintah Belum Putuskan Cuti Bersama 2022

Rabu, 22 September 2021 | 13:07 WIB
X