Metode Qur‘ani Solusi Untuk Demoralisasi Remaja

- Selasa, 10 Maret 2015 | 19:34 WIB

Mengapa para siswa, sejak SLTP, bahkan SD, sudah banyak yang meng­kon­sumsi narkoba dan obat-oba­tan berbahaya lainnya?. Meng­apa para siswa tampak mudah marah dan sangat agresif, se­hing­ga gampang tersinggung dan dengan mudahnya terjadi tawuran di mana-mana ?. Me­ngapa para siswa begitu bebas bergaul dengan lawan jenis tanpa risih dan rasa malu?. Dan mengapa para siswa sekarang ini sepertinya kurang, malah tidak hormat pada orang dewa­sa, bahkan terhadap guru dan orang tuanya sendiri seka­lipun?.

Pertanyaan-pertanyaan di atas memicu berbagai spe­kulasi dan tentunya perlu diuji kebenarannya. Misalnya, apa­kah telah terjadi “mal-edu­kasi” baik di sekolah ataupun di lingkungan keluarga?. Atau, malah memang sekolah dan keluarga dewasa ini tidak me­lak­sanakan fungsi edukatif, yang terjadi hanyalah “transfer of knowledge”?. Atau, malah lebih jauh lagi, baik sekolah ataupun keluarga dewasa ini, apakah memang “abai” terha­dap pendidikan?.

Ada juga yang mem­perta­nyakan di luar lingkup pendi­dikan, yang seolah-olah meng­asumsikan bahwa telah terjadi pendidikan (yang benar), tapi ada sistem lain di luar pendi­dikan yang mengganggunya. Misalnya pertanyaan berikut: Apakah nilai dan norma per­gaulan para siswa sekarang ini sudah berubah, sehingga segala aturan (negara, masyarakat, keluarga, dan bahkan agama) yang dirasakan menghambat “kebebasan” mereka, diabai­kan begitu saja?.

Pertanyaan di atas sah-sah saja selama ada landasan dan dasar argumentasi teoritik ataupun empiriknya. Dari segi pendidikan ada satu persoalan yang patut dipertanyakan, yaitu apakah para guru telah melak­sanakan pendidikan dengan benar?. Kriteria “benar” dalam pertanyaan ini dapat kita telu­suri dari teori-teori pendidi­kan. Teori pendidikan, misal­nya menyebutkan bahwa guru hendaknya menjadi teladan bagi para siswa dan masya­rakatnya.

Pertanyaan kemudian mun­cul, Apakah para guru sekarang ini sudah dapat men­jadi suri-tauladan?, pertanyaan ini patut diajukan sehubungan dalam pemberitaan di media massa bahwa akhir-akhir ini disebutkan adanya sejumlah kasus pelanggaran moral me­nimpa para guru. Tentu saja peristiwa-peristiwa ini tidak menggambarkan keseluruhan guru, namun kejadian-kejadian serupa sebenarnya ada di mana-mana. Dan untuk menjadikan guru sebagai suri tauladan memang bukan perkara yang mudah, karena akan me­nyang­kut sistem yang lebih luas mulai dari seleksi maha­siswa keguruan, pendidikan kegu­ruan, seleksi guru, hingga pendidikan yang bersifat in-service bagi para guru. Tapi ada teori pendidikan lain yang justru dapat dilakukan oleh semua guru, yaitu bahwa pen­di­dikan itu perlu dila­kukan dengan menggunakan “meto­de-metode” pendidikan yang tepat.

Dunia Islam sebenarnya memiliki sejumlah metode pendidikan yang sudah teruji keampuhannya. Guru-guru kita tampaknya, jangankan menerapkan teori-teori yang dimaksud, malah menge­tahui­nya saja jangan-jangan belum pernah. Seperti kita ketahui, guru-guru di sekolah masih sangat dominan menggunakan metode kuliah (ceramah) dan tanya jawab. Tentu saja kita tidak bermaksud menyalah­kan metode konvensional ini. Hanya saja, metode-metode pendidikan unggulan, dalam hal ini metode-metode Qur’­ani, kiranya perlu diketa­hui dan digunakan dalam pem­belajaran di sekolah ataupun di perguruan tingi.

Al-Quran bagaikan samu­dera yang amat luas, yang tidak akan pernah kering. Semakin dalam kita menyelaminya, semakin banyak mutiara yang kita peroleh. Itulah salah satu ciri kemukjizatan al-Quran. Banyak Orang Barat yang mempelajari Al-Quran seba­gai objek penelitian atau ha­nya sebagai ilmu pengetahuan saja, namun tidak dapat di­sang­kal, banyak di antara mereka justru tertarik dan masuk Islam karena telah banyak membaca dan mempe­lajari al-Quran.

Dalam kajian ilmiah, al-Qur’an bukan hanya sebagai Kitab Suci bagi umat Islam, melainkan Kitab Ilmu Penge­tahuan yang dapat dikaji dan diterapkan kebenarannya bagi kemaslahatan umat manusia secara keseluruhan. Para pakar dari berbagai agama telah banyak yang mencoba mene­laah sisi-sisi ilmiah dari al-Qur’an. Dan terbukti, banyak di antara mereka yang mene­mukannya. Sebagai contoh, Maurice Bucaille (Prancis) menemukan sejumlah segi ilmiah al-Qur’an di bidang kedokteran. Toshihiko Izutsu (Jepang) menemukan etik-etik religius Qur’ani yang memang bersifat universal. Dan Anne Maria Schimmel (Jerman) mene­mukan kebe­naran mistik-mis­tik Islam yang bersifat universal. Para pakar Pendidikan Islam, sejak Rasulullah Saw. hingga para ulama pewaris Nabi di masa pertengahan, telah men­jalan­kan pendidikan de­ngan meng­a­cu pada pe­tunjuk-petunjuk al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Generasi teladan pun memang tercipta, berkat keteladanan para pendi­dik dan ketepatan metode pen­didikan.

Abdurrahman An-Nahla­wi, ulama terkemuka dan pa­kar pendidikan dari Mesir, menyusun sebuah karya monu­mental tentang metode-metode pendidikan Qur’ani. Dise­butkannya, bahwa al-Qur’an adalah kitab petunjuk bagi kehidupan, termasuk petunjuk bagi pengembangan dalam dunia pendidikan. Mengapa para pendidik pada generasi terdahulu cukup berhasil mem­bimbing, mengarahkan dan menanamkan nilai moral dalam kehidupan para pelajar ?, dijawab oleh An-Nahlawi, karena mereka menggunakan metode-metode pendidikan Qur’ani. An-Nahlawi menga­jak kita, para pendidik, untuk menengok kembali dan meng­guna­kan metode-metode pen­di­dikan Qur’ani yang cende­rung ditinggalkan.

An-Nahlawi mengung­kap­kan beberapa Metode Pendi­dikan Qur’ani, yang masing-masing memiliki keunggulan.

1.  Metode Targhib-Tarhib (Reward and Punish­ment)

Targhib ialah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhi­rat yang disertai bujukan. Se­men­tara tarhib ialah anca­man karena dosa yang dilakukan. Keduanya bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah. Akan tetapi, penekanannya lebih kepada targhib agar melakukan kebaikan, sedangkan tarhib agar menjauhi kejahatan. Meto­de ini didasarkan atas fitrah (sifat kejiwaan) manusia, yaitu sifat keinginan kepada kese­nangan, keselamatan, dan tidak menginginkan kepedihan dan kesengsaraan.

Menurut sistem pendidi­kan Islam, pelajar harus diberi motivasi sedemikian rupa de­ngan ganjaran atau pahala. Guru-guru memberi ganjaran apapun bentuknya untuk me­nga­rahkan belajar murid-mu­rid­nya secara efektif. Sebalik­nya jika penggunaan ganjaran tidak memberikan pengaruh positif pada peserta didik dan masih saja melakukan pelang­garan-pelanggaran, disinilah nampaknya hukuman sudah harus diterapkan untuk me­m­beri petunjuk tingkah laku manusia. Karena pengajaran merupakan aktifitas kependi­dikan, maka pendidik atau guru harus memberi yang terbaik untuk memotivasi se­tiap anak didiknya dengan memilih metode yang berguna. Pendidik boleh saja memper­gunakan ganjaran dan huku­man sebagai kekuatan-kekua­tan yang member motivasi.

Metode Targhib-Tarhib, sangat tepat untuk mena­nam­kan nilai kesucian diri dan menghindari pergau­lan bebas, menjaga makanan-minuman yang halal serta menghindari yang haram dan subhat, dan persoalan-persoa­lan lain yang serupa. Metode ini akan mem­buat para siswa sangat takut melakukan per­bua­tan-perbua­tan yang haram dan yang sub­hat, dan sebalik­nya akan sangat senang mela­kukan perbuatan-perbua­tan yang justru dian­jurkan. Para siswa yang dididik dengan model targhib-tarhib ini akan sangat takut meng­konsumsi segala maka­nan-minuman yang h­aram, seperti narkoba, dan sebaliknya hanya akan memi­lih makanan-minu­man yang halal; mereka pun akan sangat takut mendekati perzi­naan, dan sebaliknya mereka akan menjaga kesucian dirinya; dan sebagainya.

2.  Metode Hiwar, me­tode ini sangat tepat untuk menanamkan nilai-nilai akhla­qi,­ seperti penghormatan ter­ha­dap orangtua dan guru, membangkitkan motivasi bela­jar, dan menanamkan ketaatan beribadah.

Hiwar (dialog) ialah perca­kapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topik, dan sengaja dia­rahkan kepada satu tujuan yang dikehendaki (dalam hal ini oleh guru). Dalam setiap hiwar, jalan dialog harus disusun sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan-tujuan itu tidak selalu langsung kepa­da pem­binaan rasa, didikan rasa yang membentuk sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan sikap itu.

3.  Metode Qishah Qur’­a­ni, sangat tepat untuk mena­namkan nilai kebang­gaan bera­gama dan keyakinan yang penuh terhadap kebenaran Al-Qur’an.

4.  Metode Amtsal (Pe­rum­pamaan)

Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran dalam penyampaian pesan menggunakan perum­pamaan-perumpamaan. Ada­ka­lanya Tuhan mengajari umat manusia dengan membuat perumpamaan. Cara seperti itu dapat juga digunakan oleh guru dalam mengajar. Pengung­kapannya tentu saja sama de­ngan metode kisah, yaitu de­ngan berceramah atau mem­baca teks.

Metode ini akan membantu peserta didik memahami kon­sep abstrak, di samping juga dapat merangsang kesan terha­dap makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut. Dan memberikan motivasi kepada pendengarnya untuk berbuat amal baik dan menjauhi keja­ha­tan. Yang jelas, hal ini amat penting dalam pendidikan Islam.

5.  Metode Ibrah-Mauiz­hah (Pelajaran-Nasehat)

Ibrah ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari se­suatu yang disaksikan dan yang dihadapi dengan meng­guna­kan nalar, yang menye­babkan hati mengakuinya. Adapun mau‘idzah ialah nasihat yang lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan paha­la atau ancamannya.

Pendidikan Islam mem­berikan perhatian khusus kepa­da metode ibrah agar pelajar dapat mengambilnya dari ki­sah-kisah dalam al-Quran, sebab kisah-kisah itu bukan sekedar sejarah, melainkan sengaja diceritakan Tuhan ka­re­na ada pelajaran (ibrah) yang penting di dalamnya. Pendidik dalam pendidikan Islam harus memanfaatkan metode ini.

Mau‘izah berarti tadzkir (peringatan). Yang memberi nasihat hendaknya berulang kali mengingatkan agar nasihat itu meninggalkan kesan se­hing­ga orang yang dinasihati tergerak untuk mengikuti nasi­hat itu.

6.  Model Uswah Hasa­nah, sangat tepat bagi pena­naman nilai-nilai ketela­danan guru pada murid di berbagai jenjang pendidikan, terutama dalam membina akhlak.

Keteladanan merupakan upaya kongkret dalam mena­namkan nilai-nilai luhur kepa­da peserta didik. Karena secara psikologis anak memang se­nang meniru, tidak saja yang baik, yang jelekpun ditirunya. Sifat peserta didik itu diakui dalam Islam. Umat mene­ladani nabi, nabi mene­ladani al-Quran. Aisyah per­nah ber­ka­ta bahwa akhlak Rasulullah saw. itu adalah al-Quran. Pri­ba­di rasul itu adalah inter­pretasi al-Quran secara nyata.

Metode-metode pembe­lajaran Qurani tersebut pen­ting diaplikasikan dalam rang­ka pembelajaran terhadap peserta didik. Tidak terbatas pada Pendidikan Agama Islam saja, tetapi juga pendidikan umum lainnya yang diinter­grasikan kepada ajaran al-Quran al-Karim. Di sini anak akan diajarkan untuk men­cintai Allah dan Rasul-Nya.

Persoalan bagaimana me­na­namkan rasa iman, rasa cinta kepada Allah, rasa nikmat beribadah, rasa hormat kepada orang tua, rasa ingin senantiasa berada pada jalan yang benar dan sebagainya, agaknya sulit ditempuh dengan cara pende­katan empiris atau logis. Dan metode-metode tersebut, se­mua­nya bertujuan lebih dari sekedar pembangunan karak­ter (character building) yang akhir-akhir ini marak dikam­panyekan dalam dunia pendi­dikan Indonesia, tapi juga upaya untuk menjadi manusia seutuhnya (Insan Kamil). Semoga !!!.

 

KAMARUL ZAMAN, MA
(Guru MTSN Durian Tarung Padang)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

2 Kunci Pengendalian Covid-19 Ala Presiden, Simak!

Rabu, 22 September 2021 | 16:15 WIB

Sabar! Pemerintah Belum Putuskan Cuti Bersama 2022

Rabu, 22 September 2021 | 13:07 WIB
X