Efek Kemenangan Golkar Ancol

Administrator
- Rabu, 11 Maret 2015 | 19:48 WIB

Bermain Cantik

Politik Golkar dalam pe­merintahan selama ini, tak bisa kita pungkiri sebagai partai yang licin dalam berpolitik praktis. Semua itu terbukti, meskipun Golkar telah tum­bang setelah Soeharto dileng­serkan, oleh gelombang refor­masi. Dalam hal ini, Golkar kembali bernyali dengan mun­­­culnya ia pada era refor­masi dan memenangkan pemi­­lu legislatif pada tahun 2004.

Permainan cantik Golkar, dengan tetap berada pada pemerintahan adalah saat ia memegang posisi ‘sentral” dalam kabinet Indonesia Ber­satu SBY Jilid satu dan dua. Pada periode pertama SBY, Golkar tak memberikan su­ara­nya kepada Jusuf Kalla yang saat itu, digandeng oleh Demokrat. Tetapi, Golkar mendukung Wiranto. Dalam hal ini, permainan cantik Golkar terlihat, saat masa pemerintahan SBY-JK—po­sisi tawar sangat kuat karena mempertimbangkan kekuatan parlemen. Pada periode kedua SBY, yang berpasangan de­ngan Boediono, Golkar de­ngan calon Jusuf Kalla sebagai calon presiden  tidak berhasil memenangkan kursi ke­pre­sidenan. Tetapi, dalam mate­matika politik Golkar, mereka tetap mendapatkan bagian dalam “jatah kursi men­teri” pada pemerintahan SBY-Boe­diono.

Sejarah kembali berulang, maka dalam memandang Gol­kar kita tak bisa lepaskan dari rekam jejak partai ini dalam berpolitik. Saat pemerintahan Jokowi-JK, meskipun ada dua bentuk kongres Golkar. Versi Aburizal Bakrie, itu melak­sanakan kongres di Bali, dan versi Agung Laksono melak­sanakan kongres di Ancol. Perdebatan panjang kekuasan di “internal” Golkar kembali menjadi sorotan tajam, bahwa Golkar tak akan bisa lari dari kekuasaan, bahwa mereka ada­lah “Play maker” dalam setiap kekuasaan pemerinatah.

Karena alasan kader Gol­kar yang tak  memiliki posisi tawar yang  kuat, makanya Golkar menjadi bagian dari Prabowo sebagai tim pe­menangan dalam pemilu presi­den 9 Juli 2014. Makanya, da­lam hal ini terlibat jelas bahwa masalah Golkar tiap musim pemilu adalah figur ketokohan yang akan mereka calonkan menjadi presiden. Untuk me­sin partai daerah, Golkar sampai saat ini, masih bisa dikatakan sebagai partai yang kuat dalam pengelolaan partai.

Pilkada

Sebentar lagi daerah ba­nyak melaksanakan Pilkada secara serentak ataupun tidak. Sebagai partai yang masih bisa dikatakan mengakar dalam kesatuan akar rumput, Golkar sebagai partai yang kadernya banyak menjadi Kepala Dae­rah. Dalam hal ini bisa akan kehilangan “posisi” di daerah. Peringatan itu, juga pernah disampaikan oleh Akbar Tand­jung mengenai penyelesaian konflik internal dan mem­persiapkan diri untuk per­tarungan kepala daerah.

Golkar selama peme­rinta­han Orde Baru, sudah menjadi partai yang mengakar dari pusat sampai dengan daerah. Meskipun, habisnya masa Or­de Baru dalam perpolitikan nasional, saat ritme singkat Soeharto telah habis. Maka, Golkar tetap menjadi bagian penting dalam demokrasi pas­ca reformasi.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Dibuka Rekrutmen Tamtama TNI AU 2022, Lulusan SMP

Minggu, 5 Desember 2021 | 09:15 WIB

Geologi ESDM Ungkap Penyebab Meletusnya Gunung Semeru

Minggu, 5 Desember 2021 | 07:15 WIB

41 Orang Alami Luka Bakar Akibat Erupsi Gunung Semeru

Sabtu, 4 Desember 2021 | 23:15 WIB
X