Indonesia Darurat Narkoba!

Administrator
- Rabu, 11 Maret 2015 | 19:58 WIB

Sementara itu, data yang dilansir Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Suma­tera Barat (Sumbar), Kombes Pol Arnowo, Sumbar berada di pering­kat 21 dari 34 provinsi di Indonesia, dari segi jumlah pencandu Narkoba. Paling tidak, ada sekitar 63 ribu pencandu.

Gubernur Sumbar, Irwan Prayit­no menyatakan siap mengalokasikan dana pendampingan pada APBD Perubahan 2015, untuk rehabilitasi para pecandu Narkoba di Ranah­minang. Ia juga meminta pemerintah kota dan kabupaten di Sumbar untuk mengalokasikan dana pen­dam­pingan, karena ia yakin pencandu Narkoba tersebar di kota kabupaten.

Data-data kasus ini, tentu terus berkembang. Lazimnya dunia hitam, dunia Narkoba, yang tampak ke permukaan tentunya yang bisa dica­tat setelah terbukti secara hukum. Karenanya, kuat dugaan, jauh di atas angka pada data yang dilansirkan tersebut. Seperti gunung es. Pun­caknya saja yang kelihatan.

Mudharat Narkoba

Efek terhadap pecandu Narkoba merembes ke mana-mana. Salah satunya kecelakaan lalu lintas. Bukan saja menelan korban jiwa bagi pecandu tetapi juga orang lain. Selain itu, kejahatan dan tindak kriminal, seperti curanmor, perampokan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan, memiliki titik temu secara langsung maupun tidak langsung dengan pengguna Narkoba. Artinya, Nar­koba adalah hulu dari kejahatan dan tindak kriminal lainnya.

Kerugian material di pihak ke­luar­ga pecandu, masyarakat, peme­rintah, tak terhitung banyak­nya. Awal­nya belanja Narkoba yang har­ganya mahal itu, akan dilanjutkan biaya rehabilitasi dan segala macam. Pihak pemerintah juga mengalami keru­gian yang tidak sedikit, sampai ha­rus mengalokasikan dana khusus de­mi menyelamatkan masa depan gene­rasi. Dan yang paling dahsyat, ke­ru­gian imaterial bagi bangsa ini. Bang­sa yang bisa kehilangan masa depan.

Menyikapi hal tersebut, seper­tinya penyelamatan darurat ini tidak bisa hanya menanti di muara kasus demi kasus. Harusnya ada kebijakan yang kuat dan program yang jelas, hukum yang tegas sedari muara hingga ke hulu di mana Narkoba itu berasal. Mengingat bahaya yang besar terhadap masa depan bangsa, dari segala lini harus dimulai kesa­daran tidak sekedar panggilan di baliho dan media massa semata.

Sejauh ini, Pemerintah Republik Indonesia membuat UU No. 9 Tahun 1976 tentang Narkotika yang kemudian diubah melalui UU No. 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika. Dua belas tahun kemudian Peme­rintah Indonesia kembali mela­kukan perubahan terhadap pera­turan hukum terkait tindak pidana narkotika melalui UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Namun pemberantasan peredaran Narkoba belum mencapai titik maksimal.

Bisnis Haram

Bisnis barang haram ini sangat menggiurkan dari segi ekonomi. Bisnis Narkoba bisa mendapatkan uang dan banyak dalam waktu sing­kat. Melalui jaringan dunia yang mampu melewati batas negara, bisnis Narkoba berkembang tiada henti. Kondisi ini sangat meng­giurkan bagi mereka yang ingin segera kaya dengan jalan pintas.

Sementara itu bagi pemakai, awalnya sekadar coba-coba. Namun lama-lama kecanduan.

Generasi muda yang longgar pengawasan sangat cepat terpikat setelah mendapatkan nikmat meng­konsumsi Narkoba. Sungguhpun akhirnya merasakan bahaya me­ngintai nyawanya, karena sudah candu, akan sulit lepas. Begitulah bisnis ini bisa mencari mangsa dengan mudah. Setelah dapat tidak akan bisa lepas lagi jika tidak cepat-cepat disadari. Selain menguras uang keluarga juga akan berimbas kejaha­tan di lingkungan kecil dan lama-lama berkembang menjadi tindak kri­minal yang merugikan masya­rakat.

Kini beberapa pengedar kelas kakap akan dieksekusi mati setelah tak mendapatkan grasi dari Pre­siden. Walau keputusan hukuman mati ini masih pro dan kontra, harapan besar ada efek jera bagi pengedar yang belum tertangkap bisa terjadi. Tetapi tidak sangat men­jamin, mengingat, bisnis ini sekali tersentuh sulit keluar dari lingkaran setan yang mengitarinya. Itulah yang paling berbahaya. Mereka yang belum tersentuh hukum masih bebas berkeliaran mencari korban baru. Hebatnya, bisa menjalankan bisnis ini dari balik jeruji besi.

Menilik persoalan pelik darurat Narkoba ini, perlu ada program yang matang dari seluruh lini, jika benar-benar bersungguh-sungguh untuk membasmi bahaya bagi generasi muda. Program pemerintah harus dimulai dari deteksi dini melalui gerakan kesadaran dalam keluarga, penjagaan ruang dan kesempatan yang selalu dilakukan. Misalnya, dunia pendidikan dan dunia malam diperketat hingga memperkecil usaha berkembangnya sebuah ling­ka­ran baru.

Pola umumnya terlibatnya seseo­rang sebagai pecandu dan pengedar, biasanya kebebasan yang diberikan keluarga. Longgarnya sistem hu­kum, lemahnya pemahaman agama, menipisnya budaya malu, serta minimnya kesadaran kolektif ma­sya­rakat terhadap bahaya Narkoba. Didukung pula faktor ekonomi yang menggiurkan dalam bisnis ini.

Sejak dari Keluarga

Memang terasa klise jika meng­ingatkan agar kewaspadaan dimulai sejak dari tingkat keluarga inti, keluarga besar, kaum hingga tingkat komunal paling besar. Selalu ada yang mampu memberi pencerahan kepada sanak keluarga. Kita me­nyadari, tergerusnya nilai-nilai moral dalam kehidupan, kian long­garnya ikatan sosial, ikatan keluarga, sangat memungkinkan pelarian generasi muda ke bisnis ini. Ditam­bah lagi kesempatan kerja makin sempit untuk didapatkan.

Kita membutuhkan aparatur hukum yang kuat agar penegakan hukum berjalan tegas. Oknum apa­rat yang terlibat juga harus dihukum berat. Sering sekali lingkaran setan Narkoba ini juga merembet ke penegak hukum. Terakhir, selain keluarga, harusnya dunia pendi­dikan, lingkungan pergaulan mampu menjadi benteng kesadaran bahaya Narkoba. Yang selalu mengusung tanpa jemu penanaman nilai-nilai agama sedari dini sehingga tumbuh prinsip baik buruk kehidupan gene­rasi muda.

Allah SWT mengatakan, agar kita memelihara dan menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka (QS. 66:6). Ayat ini mengingatkan agar manusia menjaga keselamatan dunia akhirat. Menjadi pemakai dan pengedar Narkoba bukanlah jalan keselamatan di dunia, apalagi di akhirat. Di dunia saja tidak selamat apalagi di akhirat. Mari tetap was­pada, agar darurat bahaya narkoba ini dapat disingkirkan dari bumi Indonesia. Amin. ***

 

H LEONARDY HARMAINY DT BANDARO BASA
(Mantan Ketua DPRD Sumbar)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Jokowi Minta Polri Turut Kawal Realisasi Investasi

Jumat, 3 Desember 2021 | 19:05 WIB

Jokowi Tinjau Terminal BBM di Bali

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:43 WIB

Bali Bakal Jadi Lokasi IPU Tahun Depan

Jumat, 3 Desember 2021 | 13:50 WIB
X