Anomali Antikorupsi

- Jumat, 13 Maret 2015 | 19:39 WIB

Pendidikan antikorupsi harus selalu digaungkan, apa­lagi di tengah kondisi bangsa yang makin karut-marut ini. Ma­syarakat harus saling mem­bahu untuk meneguhkan se­mua ele­men hukum dalam mem­be­rantas korupsi, khu­susnya lem­baga pendidikan. Pertama, lem­baga pendidikan harus men­jadi ujung tombak utama dalam pemberantasan korupsi.

Lembaga pendidikan me­ru­pakan akar sehingga harus bekerja ekstrakeras dalam mewujudkan generasi yang siap melawan korupsi pada masa depan. Lembaga pendidikan harus menciptakan figur-figur yang kuat, bukan latah dan tukang fotokopi gagasan. Lem­baga pendidikan harus men­ciptakan kader yang kese­luruhan ciri-ciri kepri­badian­nya hampir atau menyerupai figur pendiri bangsa ini, yakni manusia-manusia autentik, manusia-manusia yang relatif telah mengenali siapa dirinya yang sesungguhnya. Dalam bahasa Anies Baswedan, mere­ka adalah generasi yang telah selesai dengan urusan pri­badinya masing-masing.

Kedua, kurikulum pen­didikan antikorupsi harus di­desain ulang lagi. Ini penting karena ketika melihat fakta elite politik yang merusak semangat antikorupsi, dunia pendidikan masih belum bisa bersuara. Hal itu harus dide­sain ulang sehingga kurikulum pen­didikan memungkinkan pe­serta didik, khususnya yang di perguruan tinggi, untuk mela­wan korupsi, bahkan sam­­pai “turun jalan”. Gerakan “turun jalan” atau suara lantang lewat apa pun harus menjadi bagian dari kurikulum pen­didikan sehingga pendidikan bukan sekadar dalam kertas saja, melainkan juga dalam gerakan melawan keti­­dak­adilan.

Ketiga, pendidikan sebagai bagian dari masyarakat harus mampu bersinergi dengan se­mua elemen masyarakat dalam memberantas ko­rupsi. Lem­baga pen­didi­kan jangan berada di menara gading. Lem­baga pendidikan ha­rus ber­sama ma­syarakat dalam meng­­galang ber­bagai diskusi, gera­kan, me­dia, dan lainnya yang sa­ling ber­sinergi untuk mela­wan ko­rupsi.

Lembaga pendidikan ha­rus ber­sua­ra di tengah ke­be­kuan. Ka­rena, pen­di­dikan lahir, ka­ta Tan Malaka, ada­lah untuk mem­­­pertajam ke­­cer­dasan, mem­­­­perkukuh ke­mauan, dan mem­perhalus pe­­rasaan. “Pen­di­dikan mem­bu­at orang me­­njadi ba­ik,” kata Plato, filsuf Yunani, “dan orang baik tentu berperilaku mulia.” ***

 

SITI MUYASSAROTUL HAFIDZOH
(Peneliti Pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Terpopuler

X