Berkarya Tak Kenal Usia

Administrator
- Minggu, 15 Maret 2015 | 19:16 WIB

Hidup harus dilaksanakan dengan cerdas. Ia adalah per­juangan tiada henti. Bila mem­biarkan waktu berlalu tanpa perbuatan bermanfaat, maka waktu menjelma menjadi mon­­­ster yang menakutkan. Kegelisahan, ketakutan, kece­masan, kegamangan yang ber­se­mayam dalam diri, salah satu penyebabnya adalah karena ketakmampuan kita meman­faatkan dan mendudukkan waktu dengan benar dan adil.  Terkadang kita kejam sendiri pada waktu yakni dengan men­dus­tainya. Kalau kita melen­turkan waktu maka siapkanlah diri bahwa pada suatu saat waktu akan membenturkan dan menghempaskita pada beton kebodohan yang keras sehingga anggapan dan hara­pan  hancur berderai-derai.

Baik bagi manusia maupun hewan, hidup itu adalah kerja yang hanya dihentikan oleh kematian. Tanpa kerja, hidup mati. Kata buya Hamka, bila hidup itu adalah kerja, kera juga berkerja. Yang membe­dakan kerja manusia dengan kerja kera adalah akal. Manusia bekerja dengan akal, kera bekerja dengan insting atau naluri kehewanannya.

Hidup itu aturan dan tera­tur. Ia mirip aturan waktu. Pertanyaan kita, apakah hidup yang mengatur waktu atau waktu yang mengatur hi­dup?­Kalau hidup yang mengatur waktu, kita menjadi seorang yang berdisiplin. Namun, bila waktu yang mengatur hidup maka kita menjadi orang yang berpasrah diri pada waktu. Coba kita simak makna yang terkandung dalam surat “ Demi Masa” al ashr.Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan menger­jakan amal saleh dan nasehat mena­sehati supaya mentaati kebena­ran dan nase­hat menasehati supaya mene­tapi kesabaran.

Tuhan Allah bersumpah demi waktu, bahwa manusia hidup dalam kerugian. Keru­gian yang fatal bila waktu dibiarkan berlalu tanpa per­bua­tan bermanfaat.  Bukankah Tuhan Allah telah mengingat­kan insan, pada surat Ar-Ra’d ayat 11; artinya “Sesung­guh­nya Allah tidak akan mengu­bah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengu­bah apa yang ada pada diri mereka”.

Keinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik itu adalah sesuai dengan hadist yang diriwayatkan imam al Bukhaariy yakni “Barang­siapa yang keadaan amalannya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi, dan barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.”

Dan, hidup itu adalah ibadah bagi orang-orang yang menjalankan kehidupan de­ngan memanfaatkan waktu untuk perbuatan kebaikan dan ketaatan serta ketaqwaan kepa­da Tuhan Allah. Sebaliknya, hidup itu menjadi neraka yang dianggap surga dunia bagi orang-orang yang membiar­kan waktu dengan perbuatan percuma.

Hidup tak mengenal pen­siun. Pensiun adalah kata resmi yang mengukur jam kerja de­ngan usia. Kontrak kerja pada sebuah institusi dibatasi de­ngan usia; ia berakhir.  Tapi, kontrak kerja untuk hidup tidak pernah berakhir sampai mati. Maka beruntunglah orang-orang yang umurnya dipanjangkan dan hidup sepan­jang usia dengan perbua­tan-perbuatan yang berkah. Alam akhirat menghargai manusia dengan segala amal perbua­tannya. Alam dunia menghar­gai manusia dengan segala prestasinya. Dan itu tak ada sangkut pautnya dengan usia.

Maka bila kita hendak mela­­kukan dan berbuat suatu kebaikan bila disang­kutpaut­kan dengan usia, maka itu adalah sebuah sikap bodoh dari kedangkalan nurani.  Soal usia adalah ketetapan Tuhan. Soal perbuatan adalah kehendak manusia. Manusia yang berke­hen­dak baik adalah manusia yang tak terbentur, atau diben­turkan atau membenturkan diri dengan usia.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Warga Terdampak Erupsi Semeru Curhat ke Jokowi

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:36 WIB

RUU Ibukota Negara Baru, DPR Bentuk 56 Anggota Pansus

Selasa, 7 Desember 2021 | 17:05 WIB

Kebijakan Pemerintah PPKM Level 3 Batal, Ini Alasannya

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:59 WIB
X