Eksekusi Terpidana Mati Narkoba Jangan Dilupakan

Administrator
- Rabu, 8 April 2015 | 19:26 WIB

Sedangkan Jaksa Agung Prasetyo menjelaskan, tidak ada kendala teknis terkait proses eksekusi mati. Prasetyo menyebut pihaknya menunggu proses hukum yang diajukan para terpidana mati. Kita ingin selesai semua. Jadi dalam eksekusi mati jangan meninggalkan masalah sekecil apapun. Masih ada yang mengajukan PK meskipun sebenarnya tidak lazim karena grasinya sudah pernah diajukan ditolak. Prasetyo juga membantah isu adanya menteri yang mencoba merayu Presiden Jokowi untuk membatalkan eksekusi mati terpidana narkoba. Jaksa Agung menegaskan eksekusi mati tetap akan dilakukan.

Tentu saja Bangsa Indonesia sangat berharap pelaksanaan eksekusi mati jangan sampai tertunda akibat intervensi asing, terutama Australia. Pelaksanaan hukuman mati atas 10 terpidana mati kasus narkoba itu adalah penegakan hukum yang sah di Negara berdaulat Indonesia. Diharapkan Mahkamah Agung segera mengambil keputusan tentang upaya Peninjauan Kembali (PK) yang dilakukan terpidana mati asal Filipina, Mary Jane Fiesta Veloso.

Tentu ada baiknya, dalam mengambil keputusan  atas PK yang diajukan Mary Jane Fiesta Veloso, Mahkamah Agung menimbang dengan cermat dan memperhatikan kepentingan Bangsa Indonesia dan wibawa hukum Indonesia di dunia internasional. Ketika PK  Mary Jane Fiesta diterima dan eksekusi mati atas dia batal atau tertunda juga akan menjadi preseden buruk dalam pelaksanaan eksekusi sembilan terpidana mati lainnya. Berbagai Negara yang warganya termasuk dalam daftar eksekusi  mati tentu juga akan melayangkan protes dan sejenisnya.

10 nama terpidana mati kasus narkoba yang akan dieksekusi, yakni Andrew Chan (warga negara Australia), Myuran Sukumaran (Australia), Raheem Agbaje Salami (Nigeria), Zainal Abidin (Indonesia), Serge Areski Atlaoui (Prancis), Rodrigo Gularte (Brasil), Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa (Nigeria), Martin Anderson alias Belo (Ghana), Okwudili Oyatanze (Nigeria), dan Mary Jane Fiesta Veloso (Filipina).

Eksekusi direncanakan serentak di Pulau Nusakambangan. Sembilan terpidana mati sudah berada di Nusakambangan. Hanya Mary Jane Fiesta Veloso yang masih di luar penjara itu yakni di Lapas Wirogunan, karena masih menunggu putusan sidang PK di Pengadilan Negeri Sleman.

Dukungan atas pelaksanaan eksekusi mati para gembong narkoba itu mendapat dukungan penuh dari seluruh rakyat Indonesia. Masyarakat sangat menyadari produsen/gembong, Bandar dan pengedar  narkoba adalah orang yang merugikan Negara, bahkan dunia. Sikap Presiden Joko Widodo menolak memberikan grasi kepada para terpidana mati sudah sangat tepat dan patut diapresiasi, dari pada  membiarkan 250 juta rakyat Indonesia rusak dan nyawa serta masa depannya terancam oleh pengaruh narkoba.

Setelah geksekusi 10 terpidana mati kasus narkoba ini, Pemerintah  Indonesia agar jangan ragu-ragu dalam melanjutkan eksekusi mati berikutnya kepada 54 gembong narkoba lainnya. Hukuman mati itu diharapkan menjadi jalan terakhir yang mesti dilaksanakan pemerintah Indonesia. Kita semua berharap dari ketegasan pelaksanaan hukuman mati akan lahir kesadaran dan efek jera di kalangan pemakai, pengedar dan pemasok. Tentu sangat mengkhawatirkan jumlah masyarakat yang mengkonsumsi narkoba dari hari ke hari terus meningkat. Bahkan 76 persen napi yang menyesaki lapas terdiri dari para napi kasus narkoba. Sebab itulah perang terhadap narkoba adalah agenda penting yang mesti dilakukan secara sungguh-sungguh, tanpa basa-basi dan pilih kasih. **

Editor: Administrator

Terkini

Warga Terdampak Erupsi Semeru Curhat ke Jokowi

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:36 WIB

RUU Ibukota Negara Baru, DPR Bentuk 56 Anggota Pansus

Selasa, 7 Desember 2021 | 17:05 WIB

Kebijakan Pemerintah PPKM Level 3 Batal, Ini Alasannya

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:59 WIB
X