KWBT Mandeh Harus ‘Zero Premanisme’

Administrator
- Minggu, 17 Mei 2015 | 19:29 WIB

Tentu saja karena Andrinof sudah sangat paham sekali dengan kondisi seluruh elemen masyarakat Sumatera Barat, khususnya yang ada di kawasan objek wisata. Apalagi Andrinof, lahir dan besar di kampungnya yang dekat dengan kawasan wisata Pantai Air Manis. Lagi-lagi perlu di­garisbawahi, bahwa Andrinof sudah sangat paham dengan permasalahan pelik objek wisata di ranah Bundo Kanduang.

Bisa saja barangkali ada semacam kerisauan dan keraguan dari Andrinof, KWBT Mandeh  akan bernasib sama dengan kawasan wisata pantai lainnya di Sumatera Barat yang gagal maju, karena ulah praktik-praktik premanisme masyarakat setempat dan oknum-oknum aparat yang membekinginya.

Mana objek wisata alam di Sumbar yang benar-benar memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya? Sangat sulit ditemukan  objek wisata yang demikian. Yang banyak terjadi adalah para wisatawan sering dibikin jengkel oleh praktik-praktik premanisme yang ada di kawasan objek wisata di Sumbar.

Permasalahan mulai muncul ketika baru saja memasuki lokasi objek wisata, seperti harga tiket masuk yang tidak menentu. Ketika uang dibayar oleh pengunjung, tiket tidak diberikan. Di sebagian objek wisata bahkan pengunjung tidak pernah tahu berapa harga tiket resmi yang sesunggguhnya. Tarif tiketnya bisa saja berubah-ubah sekehendak penjaga pos masuk objek wisata tersebut.

Berikutnya  pengunjung juga menghadapi problem yang lain lagi, soal parkir. Di Kota Bukittinggi, terutama di kawasan Jam Gadang, permintaan uang parkir oleh juru parkir bahkan terkadang mencapai Rp20 ribu per unit mobil. Jika ukuran bus tentu tarif parkirnya akan lebih tinggi lagi. Di beberapa objek wisata, ketika mobil wisatawan berpindah-pindah tempat parkir, tapi masih tetap dalam satu kawasan, mobil itu pun juga dikenakan oleh tukang parkir.

Saat wisatawan tengah enak bersantai, terkadang ada saja pengamen yang mengganggu ketenangan itu. Ketika telah diberi uang, datang lagi pengamen lainnya tiap sebentar  bergantian. Pedagang asongan juga begitu. Bahkan ada juga yang memaksa minta uang kepada wisatawan atau yang dinamakan dengan istilah mengompas.

Tidak saja masyarakat biasa yang melakukan praktik-praktik premanisme terhadap wisatawan. Oknum aparat juga seperti itu. Korbannya  beragam wistawan lokal Sumbar, dari provinsi lain bahkan tak terkecuali wisatawan manca negara. Caranya macam-macam, ada yang menekan wisatawan yang membawa kendaraan dengan urusan berbelit-belit, karena kendaraan ber­motornya tak lengkap ini-itu dan sebagianya. Kesalahan kendaraan pariwisata itu pun terkadang dicari-cari. Ujung-ujungnya duit (UUD).

Terhadap turis asing juga seperti itu, dicari-carikan kesalahan oleh oknum tertentu, seperti menyangkut urusan keimigrasian dan lain sebagainya. Intinya tetap saja UUD. Terhadap pengusaha hotel dan penginapan juga diberlakukan pungutan-pungutan tak jelas oleh oknum tertentu. Begitu juga kepada pengusaha pariwisata yang memiliki kapal, armadanya sering ditangkap dengan tuduhan macam-macam yang pada akhirnya tetap bermuara pada UUD.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Jokowi Minta Polri Turut Kawal Realisasi Investasi

Jumat, 3 Desember 2021 | 19:05 WIB

Jokowi Tinjau Terminal BBM di Bali

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:43 WIB

Bali Bakal Jadi Lokasi IPU Tahun Depan

Jumat, 3 Desember 2021 | 13:50 WIB
X