DEN Dukung Program Cofiring PLN untuk Percepat Transisi Energi

- Jumat, 10 Desember 2021 | 10:11 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Penerapan program pencampuran biomassa dengan batu bara (Co-firing) pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dilakukan PT PLN (Persero) dinilai sudah tepat untuk mendukung transisi energi dari fosil ke energi baru terbarukan (EBT) tanpa memberatkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha mengatakan, transisi energi fosil ke EBT tanpa mengandalkan APBN bukan hal yang mudah, kondisi menjadi tambah berat dengan berlebihnya pasokan listrik saat ini.

Baca Juga: Bantu Capai Target, PLN UIW Sumbar Kolaborasi Gelar Vaksinasi Massal Covid-19

"Kita harus mensiasati sedemikian rupa. Karena PLN bilang over supply. Lalu kita ada RUPTL yang sudah ditandatangani hingga 2030. Itu sudah menunjukan arah kalau kita lebih greener," kata Satya.

Menurut Satya, situasi dilematis sektor kelistrikan ini harus disiasati. pasalnya pemerintah ingin menggenjot pemanfaatan EBT tanpa membebani APBN, namun saat ini harga listrik dari pembangkit berbasis EBT sebagian besar belum kompetitif dibanding batu bara.

Baca Juga: PLN Operasikan SPKLU Pertama di NTT, Ekosistem Kendaraan Listrik Bisa Lebih Cepat

Pembangkit listrik yang harganya saat ini mampu bersaing dengan PLTU hanyalah PLTS, namun kapasitas pembangkit yang memanfaatkan energi sinar matahari tersebut kecil dibandingkan kemampuan PLTU.

"Begitu kita kurangi fosilnya diganti dengan renewable energy dengan harga hari ini, dimana yang paling murah adalah PLTS. Hidro masih bisa berkompetisi, tapi tidak semua bisa rendah, PLTP juga seperti itu," tuturnya.

Satya mengungkapkan, Co-firing merupakan salah satu siasat yang tepat untuk meningkatkan porsi EBT dan mengurangi emisi karbon, sehingga target net zero emmision pada 2060 dapat tercapai.

Halaman:

Editor: Milna Miana

Sumber: rilis

Tags

Terkini

X