PBNU Sebut Ucapan Natal tak Ganggu Akidah

- Minggu, 22 Desember 2019 | 09:49 WIB

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Mengucapkan selamat natal oleh umat Islam masih menjadi perdebatan. Sebagian pihak melarang mengucapkannya dengan alasan agar tidak merusak akidah. Namun, ada sebagian ada yang berpendapat membolehkannya.

Dalam hal ini, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas, mengatakan ulama-ulama memiliki beberapa pendapat tentang ucapan selamat natal oleh Muslim kepada non-Muslim. Ia menuturkan, ada ulama yang melarang karena khawatir itu mengganggu akidah.

Sebagian ulama lain, menurutnya, ada yang membolehkan dengan pengertian ucapan natal sebagai bagian dari kesadaran bermuamalah. Di sini, Robikin menjelaskan ucapan natal itu diniatkan sekadar hormat kepada kawan atau berempati kepada sesama warga bangsa. Hal demikian dimensinya ukhuwah wathaniyah.

"Dalam dimensi itu, menyampaikan ucapan natal saya kira tidak mengganggu akidah kita. Dalam konteks ini saya setuju pendapat ulama asal Mesir Syekh Yusuf Qaradhawi," kata Robikin, dalam keterangan yang diterima Republika.co.id, Sabtu (21/12) malam WIB.

Menurut al Qaradhawi, boleh atau tidaknya ucapan selamat natal dari Muslim kepada Nasrani itu dikembalikan kepada niatnya. Kalau berniat hanya untuk menghormati atau berempati kepada teman yang nasrani, Robikin menyebut hal itu tidak menjadi masalah.

Sebab, kata dia, Indonesia merupakan negara majemuk. Apalagi, jika ucapan natal itu dimaksudkan sebagai ungkapan kegembiraan atas kelahiran Nabi Isa sebagai rasul.

Dalam hal ini, ia menekankan pada dua hal. Pertama, soal prinsip kebinekaan. Dalam konsep kebinekaan, yang menjadi pilar kebangsaan, kemajemukan dalam masyarakat adalah sumber kekuatan utama bangsa Indonesia. Hal ini, menurutnya, menjadi awal dari bingkai dasar yang harus diinsyafi.

Kedua, terkait prinsip toleransi. Hidup di tengah masyarakat yang majemuk mensyaratkan pentingnya sikap lemah lembut, berlaku baik, saling menghormati, dan saling menghargai. Sikap yang mengedepankan pendekatan kemanusiaan semacam ini kemudian yang dikonsepsikan sebagai sikap toleransi.

"Kalau kita belajar sejarah mengenai akar kebudayaan bangsa kita, saya bisa katakan toleransi merupakan bagian inheren dalam jati diri bangsa Indonesia. Kehidupannya ada dalam jiwa Bhinneka Tunggal Ika," ujarnya.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Gempa M 4,0 Guncang Kepulauan Batu Sumut

Jumat, 24 September 2021 | 13:26 WIB

Begini Cara Beli Pelatihan Kartu Prakerja Gelombang 21

Jumat, 24 September 2021 | 10:36 WIB
X