PBNU Sebut Ucapan Natal tak Ganggu Akidah

- Minggu, 22 Desember 2019 | 09:49 WIB

Ia menuturkan sikap toleran demikian terpatri dalam jati diri bangsa Indonesia. Sebab, menurutnya, toleransi sesungguhnya juga merupakan bagian inheren dari ajaran agama Islam. Islam mengenal konsep tasamuh yang juga sering diterjemahkan sebagai sikap toleransi. 

Secara umum sebagai sebuah ajaran, ia mengatakan sikap toleran itu memiliki penjelasan dan petunjuknya. Dalam hidup bermasyarakat, orang harus sama-sama berlaku baik, lemah lembut, saling pemaaf, menghargai, dan lainnya. Akan tetapi, kata dia, agama telah memberikan panduan bagaimana berlaku baik dan bersikap lemah lembut.

Persoalan natal menurutnya juga didasarkan pada prinsip umum yang tidak boleh dilangkahi dalam menerapkan prinsip toleransi. Di dalam Islam, ada ayat Alquran yang menyatakan 'Lakum diinukum wa liya diin', yang artinya 'bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami'. Dengan demikian, jika itu sudah menyangkut akidah, ia menegaskan hal itu tidak boleh dipertukarkan.

Dalam sejarah Islam, dikisahkan suatu ketika beberapa orang kafir Quraisy menemui Nabi Muhammad SAW. Mereka menawarkan ide untuk saling bertoleransi kepada Nabi SAW.

Mereka berkata, "Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu, dan kalian juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya." Ketika itu, turunlah ayat dalam surah al Kafirun, yang berbunyi, "Qul yaa ayyuhal kaafiruun. Laa a’budu maa ta’buduun" dan seterusnya.

"Jadi, toleransi itu dimensinya ukhuwah basyariyah, persaudaraan kemanusiaan. Bukan ranah teologis. Kita cukup dengan menghargai apa yang umat agama lain lakukan dengan membiarkannya dan tidak berbuat keributan. Biarkanlah mereka lakukan apa yang mereka yakini, sedang kita fokus pada apa yang kita yakini. Itu intinya," tambahnya.

Ia menambahkan bahwa dengan panduan dan batasan seperti itu, momentum natal bisa menjadi ajang mempererat dan mengikat kembali tali kebangsaan. Akan tetapi, kata dia, tentu tidak sebatas ucapan selamat natal. Ia mengatakan lebih setuju dan mengimbau kepada semua pihak diantara para pemeluk agama yang berbeda untuk membuka ruang dialog antar-umat.

"Ruang-ruang dialogis seperti ini saya kira penting untuk terus menguatkan tali persatuan kita. Meskipun berbeda keyakinan, bukankah kita tetap bersaudara dalam kemanusiaan," katanya.(*)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Persiapkan Dirimu! PT KAI Kembali Buka Lowongan Kerja

Minggu, 19 September 2021 | 07:55 WIB

Muhammad Kece Mengaku Dianiaya di Dalam Penjara

Sabtu, 18 September 2021 | 11:35 WIB
X