WHO Catat 41 Juta Kematian akibat Penyakit Tak Menular

- Jumat, 7 Januari 2022 | 10:55 WIB
Pemaparan dari empat narasumber terkait pentingnya peran peneliti muda dalam mendukung Indonesia yang sehat dan berkelanjut
Pemaparan dari empat narasumber terkait pentingnya peran peneliti muda dalam mendukung Indonesia yang sehat dan berkelanjut

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Manager Nutrifood Research Center, Felicia Kartawidjaja Putra mengatakan, Nutrifood Research Center dengan bangga kembali mengadakan NRC Fellowship untuk merangkul para peneliti muda terbaik Indonesia untuk berkontribusi dalam membantu masyarakat Indonesia hidup sehat. Data dari WHO menunjukkan bahwa penyakit tidak menular menyebabkan 41 juta kematian setiap tahunnya, menyumbang 71% dari total kematian per tahun di dunia.

Di Indonesia sendiri, Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan prevalensi penyakit tidak menular cukup tinggi, termasuk di antaranya stroke sebesar 10,9%; diabetes melitus sebesar 8,5%; dan hipertensi sebesar 34,1%. Data World Health Organization (WHO) juga menyebutkan 66% penyebab kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit tidak menular.

Baca Juga: Nutrifood, Kemenkes dan BPOM Edukasi Masyarakat Batasi Konsumsi Gula Hindari Risiko Diabetes

"Faktanya, sebagian besar penyakit tidak menular ini salah satunya disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat, termasuk konsumsi gula, garam dan lemak yang berlebih. Melalui NRC Fellowship 2022, diharapkan muncul berbagai inovasi produk rendah gula, garam dan lemak yang dapat membantu konsumen untuk mengikuti pola makan yang lebih sehat," katanya.

Prof. Dr. Ir. Antonius Suwanto, M.Sc. mengatakan, dirinya percaya bahwa peneliti muda Indonesia memiliki kompetensi yang mampu bersaing secara global dengan tim peneliti dari berbagai negara lainnya. Hadirnya program pendampingan dan dukungan dana bagi para peneliti muda Indonesia seperti NRC Fellowship 2022 akan sangat membantu untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian terkait inovasi produk pangan fungsional di Indonesia, serta membangun kerja sama antara akademisi dan industri.

"Saya menghargai konsistensi tim Nutrifood Research Center yang selama bertahun-tahun merangkul para peneliti muda Indonesia, khususnya di bidang kesehatan, melalui program NRC Fellowship," katanya.

Tahun ini, NRC Fellowship secara spesifik mengangkat salah satu subtopik penelitian terkait inovasi produk berbasis nabati (plant-based) yang memiliki potensi sebagai pangan fungsional. Nutrifood melihat bahwa plant-based food merupakan salah satu tren pangan masa depan di dunia. Melalui NRC Fellowship 2022, Nutrifood berharap dapat mendukung lahirnya penelitian terkait inovasi produk pangan fungsional berbasis nabati di Indonesia yang tidak hanya sehat, namun juga baik bagi bumi.

Angelique Dewi selaku Head of Corporate Communication Nutrifood mengatakan, sejalan dengan komitmen Nutrifood untuk menginspirasi hidup sehat serta menjalankan bisnis secara berkelanjutan, Nutrifood telah menjadikan produk pangan berbasis nabati sebagai menjadi salah satu fokus inovasi produk. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi produk nabati memiliki berbagai manfaat kesehatan, contohnya dalam hal manajemen berat badan dan metabolisme energi, membantu kontrol glikemik, dan mengubah komposisi mikrobiota usus untuk mendukung kesehatan.

"Konsumsi pangan berbasis pangan nabati juga berdampak positif bagi lingkungan karena dapat mengurangi jejak karbon, penggunaan lahan dan air, serta dampak lingkungan lainnya. Selama beberapa tahun terakhir, Nutrifood telah melakukan beberapa riset terkait pangan nabati dengan berbagai institusi dan kami telah meluncurkan beberapa produk berbasis nabati melalui merek-merek kami, sebagai pilihan bagi masyarakat yang ingin menikmati produk sehat berbasis nabati," katanya.

Program NRC Fellowship 2022 akan dibuka mulai 10 Januari hingga 11 Februari 2022. Pada tahap awal, peserta diharapkan dapat mengirimkan abstrak berisi ide proposal penelitian terkait salah satu dari tiga subtopik berikut, yakni:

1. Inovasi produk rendah gula, garam & lemak (#batasiGGL) untuk mencegah penyakit tidak menular.
2. Inovasi teknologi pangan sebagai strategi menghasilkan produk rendah gula, garam & lemak (#batasiGGL).
3. Inovasi produk berbasis nabati (plant-based) dengan potensi sebagai pangan fungsional dan mendukung kelestarian lingkungan. (*)

Halaman:

Editor: Milna Miana

Sumber: rilis

Tags

Terkini

Pengumuman! Pemerintah Segera Hapus PPKM

Senin, 23 Mei 2022 | 11:11 WIB
X