Arteria Dahlan: Komnas HAM tidak Boleh Genit, Jangan Pencitraan

- Jumat, 14 Januari 2022 | 11:45 WIB
Anggota Komisi III DPR, Arteria Dahlan, menyambut baik langkah Kapolri Listyo Sigit Prabowo untuk memberantas mafia tanah. (dpr.go.id)
Anggota Komisi III DPR, Arteria Dahlan, menyambut baik langkah Kapolri Listyo Sigit Prabowo untuk memberantas mafia tanah. (dpr.go.id)

"Jadi tidak proporsional juga untuk menyandangkan polisi dengan yang lain," lanjut Arteria.

Arteria kemudian menyoroti kritik Komnas HAM terhadap penanganan kasus oleh Polri yang dinilai masih banyak kekerasan. Ia menilai kritik ini sah-sah saja. Tapi, menurut Arteria, lebih baik jika kritik soal kekerasan yang dilakukan polisi dalam penanganan kasus tidak diumbar ke publik.

"Kita harap tahun 2022 polisi semakin baik. Seolah-olah polisi ini penuh dengan kekerasan, penuh dengan penyiksaan dan tidak baik," kata Arteria.

"Membangun citra ini mahal. DPR nih tahu banyaknya salah orang. Tapi kritisnya di forum tertutup. Tidak dengan model-model begini," kata dia.

Heran Komnas HAM Tolak Tuntutan Mati Herry Wirawan

Arteria Dahlan, mengkritik keras pernyataan Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, yang menyatakan bahwa terdakwa pemerkosa 13 santriwati di Bandung, Herry Wirawan, tak boleh dihukum mati.

Arteria mengatakan, pernyataan Beka telah menyimpang dari hukum yang dianut Indonesia. Alih-alih berpedoman pada aturan HAM universal, ia menganggap sikap Beka telah menyalahi aturan hukum di Indonesia karena masih mengenal hukuman mati.

"Kalau enggak setuju Herry dihukum mati enggak apa-apa, tapi dalil-dalilnya pun enggak tepat. Kenapa? Ada hukum negara kok. Hukum negara masih mengatur hukuman mati. Jadi jangan berprinsip HAM universal, kecuali bapak melawan hukum negara. Sumpah jabatannya ada. Kok lawan hukum negara," kata Arteria dalam Rapat Kerja Komisi III DPR dengan Komnas HAM, Kamis (13/1).

Arteria bahkan menyebut hal yang dilakukan Herry Wirawan tak hanya salah di mata hukum tetapi juga menyimpang dari ajaran agama yang dianutnya atau bahkan yang dianut oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Sehingga ia menilai pernyataan Beka akan mencederai rasa keadilan di tengah masyarakat.

"Kalau predator negara, bersetubuh di hadapan istrinya bukan di hadapan orang lain, Pak. Kalau di iman saya, Pak, onta saja malu bersetubuh di hadapan onta yang lain. Jadi jangan katakan ini hal yang sederhana. Ini menyerang rasa keadilan masyarakat pernyataan bapak," ucap Arteria.

Halaman:

Editor: Milna Miana

Sumber: Kumparan.com

Tags

Terkini

X