Amien Rais Sebut Otoriterisme Jokowi Makin Kuat dan Pekat, Ungkit Firaun Vs Musa Pakai Dalil

- Sabtu, 15 Agustus 2020 | 22:38 WIB

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali dikritik oleh Senior PAN Amien Rais. Kali ini Amien menyebut Jokowi menjalankan praktik politik otoriterisme.

"Masalah keempat, temanya adalah otoriterisme makin pekat. Indonesia di zaman Jokowi tidak sendirian dalam membanting demokrasi sehingga berubah esensi. Beberapa negara di Asia, Amerika Latin, dan Afrika menunjukkan kemiripan," kata Amien dalam video yang di-posting di kanal Amien Rais Official, Sabtu (15/8/2020) seperti dilansir detikcom.

Lalu Amien menyertakan data dari The Economist Intelligence Unit soal Indeks Demokrasi 2018 yang menyurvei 167 negara berdasarkan kebebasan politik dan sipil. Skor tertinggi 10 berdasarkan 5 kriteria. Di atas 8 demokrasi penuh, di bawah 4 rezim otoriter.

Dari enam negara yang ditampilkan, tak ada dan tak disebutkan posisi Indonesia. Keenam negara yang ditunjukkan ialah Korea Utara (1,08), Suriah (1,43), Chad (1,50), Republik Afrika Tengah (1,52), Republik Demokratik Kongo (1,61), dan Equatorial Guinea (1,81).

Amien menyebut di negara otoriterisme, praktik demokratis yang dijalankan di awal akan berubah. Namun, menurutnya, di Indonesia lebih parah karena Jokowi menjalankan politik pencitraan.

"Hanya saja di Indonesia, otoriterisme itu jauh lebih parah. Kita menyaksikan pada kuartal pertama Jokowi jadi presiden, pada awalnya rakyat umumnya percaya akan ada perubahan signifikan bagi kehidupan rakyat. Namun harapan itu cepat kandas. Mengapa?" ujar Amien.

"Karena politik pencitraan (image building) terus saja dilakukan oleh Jokowi sambil terus melakukan janji sosial, politik, ekonomi, dan hukum yang terdengar merdu di telinga kebanyakan rakyat Indonesia. Dalam literatur politik, Jokowi cukup lihai memainkan politik yang penampilannya itu demokratis tapi substansinya intinya otoriter," imbuhnya.

Dia mengatakan Jokowi menjalankan demokrasi iliberal, di mana kebebasan berbicara, berpendapat, dan juga berkumpul mulai dicurigai. Namun orang-orang di belakang Jokowi membentuknya menjadi demokrasi populis.

"Jokowi terbuai dengan puja-puji pendukungnya. Para sycophants (penjilat) itu dapat meyakinkan mantan Wali Kota Solo yang 'terbaik di dunia' itu benar-benar dicintai rakyat sampai batas yang sangat jauh sampai dia berani mengatakan 'Aku adalah Pancasila'," kata Amien.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Kelanjutan PPKM Level 4 Dibahas Hari Ini

Minggu, 25 Juli 2021 | 09:10 WIB
X