Soroti Pernyataan Menko Polhukam soal Penusukan Syekh Ali Jaber, Fahri: Pak Mahfud Jangan Tanya Keluarga, Bisa Saja Rekayasa

Administrator
- Selasa, 15 September 2020 | 12:58 WIB

HARIANHALUAN.COM - Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah ikut menyoroti kasus penusukan pendakwah Syekh Ali Jaber di Bandar Lampung pada Minggu, 13 September 2020 lalu.

Fahri Hamzah, untuk memastikan apakah pelaku benar-benar gila atau tidak, haruslah diperiksa oleh yang ahlinya. Dalam hal ini psikolog dan dokter jiwa. Karena jika hanya dari keluarga atau tetangga, menurut Fahri, rawan direkayasa.

"Pak @mohmahfudmd (Mahfud MD) yth, Untuk mengetahui orang itu gila, jangan tanya keluarga dan tetangganya. Sebab bisa direkayasa. Tapi tanya asosiasi psikolog dan dokter jiwa yang disumpah untuk tugas itu," kata Fahri dalam cuitan di akun twitternya @fahrihamzah seperti dikutip dari VIVA, Selasa 15 September 2020.

Penusukan terhadap Syekh Ali Jaber ini, menurut Wakil Ketua DPR periode 2014-2019 itu menyedot perhatian publik. Untuk itu, jangan sampai penyelidikan kasus ini tidak transparan dilakukan oleh aparat penegak hukum. 

"Mohon perhatian. Kalau bisa hasil pemeriksaannya dibuka. Ini isu besar," lanjut Fahri.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyatakan bahwa pemerintah prihatin dengan penusukan Syekh Ali Jaber di Bandar Lampung. Mahfud menyebut bahwa dakwah-dakwah Syekh Ali Jaber tidak pernah politis.
"Pemerintah sangat prihatin atas peristiwa yang terjadi. Seorang ulama yang sangat baik, yang dakwah-dakwahnya diterima oleh semua kalangan karena tak pernah menyentuh soal politik. Ternyata dianiaya atau ditusuk secara brutal oleh seseorang yang masih digali identitasnya," kata Mahfud dalam video keterangannya, Senin 14 September 2020.

Mengenai spekulasi bahwa si penusuk ini sakit jiwa, Mahfud enggan langsung percaya. Menurut Mahfud, hal itu akan bisa dipastikan setelah melalui pemeriksaan oleh pihak terkait.

"Kita belum percaya. Kita akan tahu dia sakit jiwa betul atau tidak setelah diselidiki. Kan ada tetangganya, ada jejak digitalnya. Kalau orang sakit jiwa jejak digitalnya kayak apa, keluarganya melihatnya kayak apa. Tetangganya melihat kayak apa, teman-temannya melihatnya kayak apa," ujarnya.

Bagaimana kondisi kejiwaan  pelaku kasus penusukan pendakwah Syekh Ali Jaberhingga kini belum diketahui. Desas desus kalau pelaku memiliki gangguan kejiwaan atau gila, menjadi perbincangan publik.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Jokowi Minta Polri Turut Kawal Realisasi Investasi

Jumat, 3 Desember 2021 | 19:05 WIB

Jokowi Tinjau Terminal BBM di Bali

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:43 WIB

Bali Bakal Jadi Lokasi IPU Tahun Depan

Jumat, 3 Desember 2021 | 13:50 WIB
X