Direktur HK: Sinergi Kunci Percepatan Transisi Energi dan Interkoneksi Kelistrikan Tanah Air

- Jumat, 4 Februari 2022 | 14:45 WIB
Webinar HK
Webinar HK


JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya), sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak pada jasa konstruksi, badan usaha jalan tol dan investasi, terus berinovasi dan memberikan edukasi kepada masyarakat, dalam pengembangan dunia energi, infrastruktur, dan teknologi, demi percepatan visi Indonesia Maju.

Inovasi ini dilakukan salah satunya dengan menggelar HK ExperTalk, yaitu forum berskala global yang mewadahi perusahaan, institusi pemerintah, akademisi, praktisi, pemerhati, mahasiswa serta pelajar, untuk knowledge sharing dengan para pakar dan profesional.

Melalui HK Academy dan HK Center for Knowledge, Research and Innovation (HK Connection), yang keduanya merupakan unit pengelola pengetahuan, riset dan teknologi di Hutama Karya, HK ExperTalk digelar dalam bentuk seri webinar edukatif dan inspiratif, yang mengupas dunia energi, infrastruktur, dan teknologi terkini.

Baca Juga: Hutama Karya Beberkan Penyebab Lambannya Progres Tol Padang-Sicincin

HK ExperTalk yang ke-7 kembali digelar pada Rabu, 26 Januari 2022 lalu, dengan tema “How Indonesia Power Grid Embrace the Era of Renewable Energy Integration”, yaitu tentang bagaimana pengembangan interkoneksi kelistrikan tanah air di masa transisi energi.

HK Expert Talk senantiasa menghadirkan menghadirkan pembicara-pembicara kompeten, tak hanya dari sektor pemerintahan, namun juga sektor swasta dan pihak terkait lainnya. Termasuk juga HK Expertalk ke-7 ini, para pembicara bidang energi dan kelistrikan menyampaikan pentingnya kemajuan teknologi mendukung percepatan transisi energi menjadi Energi Baru Terbarukan (EBT).

Bicara transisi energi, tidak akan lepas dengan interkoneksi kelistrikan yang terjadi pada tanah air. Terkait supply-demand juga harus diharmonisasi secara bertahap sejak sekarang. HK Expertalk ke-7 ini fokus membahas interkoneksi energi terbarukan di Indonesia, setelah pada webinar-webinar sebelumnya banyak membahas mengenai bagaimana transisi dari penggunaan energi bertenaga fosil menjadi energi terbarukan agar tercipta sistem kelistrikan Indonesia yang stabil.

Baca Juga: Hutama Karya Tegaskan Tidak Ada Penghentian Proyek Jalan Tol Padang-Pekanbaru, Hanya...

Jisman P. Hutajulu, selaku Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengungkapkan tentang 5K Ketenagalistrikan.

Adanya interkoneksi kelistrikan antar pulau sangat diharapkan bisa menjadi transisi pengembangan energi. Dalam keynote speech Jisman P. Hutajulu, selaku Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), ketenagalistrikan diuraikan dalam prinsip 5K melingkupi kecukupan, keandalan, keberlanjutan, keterjangkauan, dan keadilan. Prinsip ini mencakup implementasi perencanaan kebutuhan listrik nasional, pemanfaatan digitalisasi juga smart grid untuk efisiensi, dan penggunaan EBT, sementara dalam keterjangkauan dimaksudkan untuk menurunkan biaya pokok penyediaan tenaga listrik.

“Prinsip keadilan untuk menjangkau hingga daerah yang memerlukan setidaknya sampai ke daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T),” ungkap Jisman P. Hutajulu.

Menurut Jisman, potensi EBT sangat besar, sementara pemanfaatan masih rendah. Dalam hal ini, Potensi EBT yang teridentifikasi melingkupi PLTA/GL, PLTA, dll. Rencana interkoneksi tenaga listrik pengembangan transisinya telah menghubungkan antar sistem di dalam pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Diantara rencana interkoneksi listrik, sedang direncanakan interkoneksi antar pulau dengan 500 kV. Indonesia juga mencanangkan interkoneksi Sumatera-Malaysia (2030) yang juga mendukung kerangka kerjasama ASEAN Power Grid.

Salah satu syarat yang disampaikan untuk pengembangan EBT yaitu adanya transmisi dalam rencana pengembangan super grid di Nusantara. Fokus kajian super grid akan mengarah antara Kalimantan dan Sulawesi, juga Sumatera dan Jawa. Langkah perancangan undang-undang terkait super grid juga dalam rangka mendukung power grid system, yang bertujuan untuk mendorong dan mempercepat transisi dari energi fosil menjadi EBT di Indonesia.

Pemanasan global terjadi paling besar berasal dari aktivitas manusia, salah satunya dari energi listrik, deforestrasi, dan lainnya. Menurut paparan Fabby Tumiwa selaku Excecutive Director dari Institute for Essential Services Reform (IESR), energi adalah penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca yaitu sebesar 2/3 dari total emisi global. Dalam pertengahan abad ini diharapkan bisa mencapai net zero emission (NZE), khususnya Indonesia yang diharapkan dapat tercapai tahun 2060 atau lebih cepat. 

Penyampaian Fabby Tumiwa selaku Excecutive Director dari Institute for Essential Services Reform (IESR) mengenai 4 pilar transisi energi Indonesia menuju NZE 2050

Indonesia sebagai negara nomor urut ke-7 dalam menyumbang emisi karbon, diharapkan juga bisa menambahkan target NZE-nya. Terdapat empat Pilar Transisi Energi Indonesia menuju NZE 2050. Di antaranya melingkupi energi terbarukan, penurunan konsumsi energi fosil, elektrifikasi, dan bahan bakar bersih.

Halaman:

Editor: Milna Miana

Sumber: rilis

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X