Penjelasan BMKG Mengenai Gempa Nias dan Zona Luar Megathrust

Administrator
- Sabtu, 15 Mei 2021 | 08:12 WIB

HARIANHALUAN.COM - Gempa 6,7 Magnitudo di baratdaya Nias, Sumatera Utara, pada Jumat siang, 14 Mei 2021, merupakan gempa dangkal dari zona outer-rise atau zona sumber gempa di luar subduksi (megathrust). BMKG mencatat intensitas gempa itu mengguncang hingga skala IV MMI atau dapat dirasakan bila di luar rumah.

Terbukti, guncangannya sempat membuat masyarakat di Nias Barat panik dan ke luar rumah. Beruntung, tidak ada tsunami yang terjadi. "Ini bukan gempa megathrust," kata Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, lewat akun media sosialnya, Jumat.

Meski begitu, Daryono menambahkan, gempa kuat dari zona outer-rise tidak boleh diabaikan. Dia mengungkap catatan BMKG kalau di Indonesia sudah dua kali terjadi tsunami akibat gempa yang bersumber di zona outer rise. Keduanya adalah tsunami destruktif di Sumbawa 1977 dan Tsunami Jawa 1921.

Di Sumbawa, Tsunami Lunyuk dipicu gempa berkekuatan 8,3 dalam skala Richter. Gelombang laut yang datang terukur sampai setinggi delapan meter dan menewaskan lebih dari 300 orang.

Di luar negeri, zona sumber gempa outer rise juga tercatat pernah memicu tsunami mematikan. Peristiwa Tsunami Sanriku di Jepang pada 1933 adalah salah satunya. Tsunami yang menewaskan lebih dari 3.000 orang ini dipicu oleh gempa berkekuatan 8,6 Skala Richter yang bersumber di zona luar megathrust.

Lalu, peristiwa Tsunami Samoa di Pasifik yang terjadi pada 29 September 2009. Gempa kuat dengan magnitudo 8,1 di zona outer-rise dekat subduksi Tonga memicu tsunami yang menewaskan 189 orang.

"Outer-rise merupakan zona gempa yang selama ini terabaikan, karena memang lebih populer zona sumber gempa megathrust," kata Daryono. Meskipun terabaikan, dia menambahkan, "Tetapi tidak kalah berbahaya dan dapat memicu terjadinya tsunami." (*)

Editor: Administrator

Terkini

Pengumuman! Pemerintah Segera Hapus PPKM

Senin, 23 Mei 2022 | 11:11 WIB
X