Indonesia Berduka! Tokoh Asal Sumpur Kudus Sumbar Wafat di Usia 87 Tahun, Berikut Profil Buya Syafii Maarif

- Jumat, 27 Mei 2022 | 10:51 WIB
Buya Syafii Maarif yang meninggal dunia pada Jumat, 27 Mei 2022 Pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Buya Syafii Maarif yang meninggal dunia pada Jumat, 27 Mei 2022 Pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping.

HARIAN HALUAN - Tokoh nasional asal Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) wafat pada Jumat, 27 Mei 2022 sekitar pukul 10.15 WIB di Yogyakarta dalam usia 87 tahun.

Pesan duka disampaikan oleh Menkopolhukam Mahfud MD di Twitter yang dikutip Harian Haluan.

"Inna lillah wa inna ilaihi raji'un. Tlh wafat Buya Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah pd hr ini jam 10.15 di Yogyakarta," tulis Mahfud.

Baca Juga: Bedah Buku Buya Syafii Maarif di UNP

"Ummat Islam dan bangsa Indonesia kehilangan lg salah seorang tokoh besarnya. Semoga Buya Syafii diampuni segala dosanya dan mendapat surga-Nya," tambahnya.

Dikutip dari laman Wikipedia bahwa Profesor Dr K.H. Ahmad Syafii Maarif lahir 31 Mei 1935 di Calau Sumpur Kudus, Sijunjung. Ia akrab disapa Buya Syafii adalah seorang ulama dan cendekiawan Indonesia.

Ia pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan pendiri Maarif Institute periode 1998-2005.

Baca Juga: Kabinet Jilid II: Buya Syafii Maarif Berharap Ada Menteri dari Kader Muhammadiyah

Ayahnya bernama Ma'rifah Rauf Datuk Rajo Malayu, dan ibunya Fathiyah. Buya Syafii adalah bungsu dari 4 bersaudara seibu seayah, dan seluruhnya 15 orang bersaudara seayah berlainan ibu.

Ayahnya adalah saudagar gambir, yang belakangan diangkat sebagai kepala suku di kaumnya.

Ibunya meninggal ketika ia masih berusia satu setengah tahun dan dia tinggal di rumah adik ayahnya yang bernama Bainah.

Pada tahun 1942, ia dimasukkan ke sekolah rakyat (SR, setingkat SD) di Sumpur Kudus.

Sepulang sekolah, Pi'i, panggilan akrabnya semasa kecil.

Buya Syafii belajar agama ke sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah pada sore hari dan malamnya belajar mengaji di surau yang berada di sekitar tempat ia tinggal, sebagaimana umumnya anak laki-laki di Minangkabau pada masa itu.

Halaman:

Editor: Jefli Bridge

Tags

Terkini

X