Banyak Orang yang Takut Disuntik Vaksin Covid-19, Ternyata Ini Alasannya

- Sabtu, 19 Juni 2021 | 19:33 WIB

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Pemerintah pusat terus berupaya mengerakkan seluruh masyarakat Indonesia untuk mengikuti vaksinasi Covid-19 sebagai langkah pencegahan covid-19. Meski pelaksanaan vaksinasi masih terus berlangsung hingga saat ini, namun tak sedikit pula masyarakat yang masih belum mau mengikutinya.

Leonardo (23), misalnya. Ia mengaku tak mau terburu-buru mengikuti vaksinasi Covid-19, meski di wilayahnya sudah ada imbauan akan hal itu.

"Karena sementara ini masih memilih untuk tidak divaksin. Dibilang tidak percaya sih tidak juga, hanya saja sedang menunggu hasil vaksin terbaik, saya enggak mau buru-buru deh," kata Leonardo dikutip dari Kompas.com, Sabtu (19/6/2021).

Berdasarkan informasi yang dia dapat di media, Leonardo menyebut ada beberapa jenis vaksin yang disetujui pemerintah. Dia pun masih menunggu vaksin jenis apa yang paling efektif untuk digunakan.

"Karena di Indonesia sendiri yang kita tahu sampai saat ini kurang lebih ada 7 jenis vaksin yang disetujui dan berbeda-beda fungsi, jadi kita mau pakai yang mana? " tutur Leonardo.

Saat ini, Leonardo tetap berusaha mentaati protokol kesehatan dan menjaga kondisi tubuhnya sebagai upaya melindungi diri dari Covid-19. Sementara Agustina (38), mengaku bahkan belum yakin dengan virus dan vaksinasi Covid-19.

Ia menganggap, virus ini sama seperti virus lain yang tidak mematikan.

"Karena saya belum merasa yakin juga dengan virusnya...tentang penularannya, penyebarannya, obatnya, dan sebagainya. Banyak yang sudah divaksin tapi tetap kena Covid-19, membuat saya semakin ragu ada apa dengan virus ini," ucap Agustina.

"Saya percaya virus Covid ada, tapi seperti virus flu biasa aja dari zaman dulu, bukan sebuah virus yang mematikan," lanjutnya.

Untuk mencegah terinfeksi virus Covid-19, Agustina berusaha tetap menjalani pola hidup sehat dan menghindari stres.

"Kalau cara menjaga ya dengan menerapkan hidup sehat, nomor satu adalah menghindari stres, karena buat saya stres pikiran adalah sumber dari segala macam penyakit," ucap Agustina.

"Selain itu dengan jaga asupan makan, minum vitamin, banyakin buah dan sayuran alami dari alam yang tersedia, gitu aja," tambahnya.

Lonjakan kasus Covid-19 di Jakarta

Penambahan kasus Covid-19 di Jakarta semakin mengkhawatirkan. Pada tanggal 18 Juni 2021, penambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 4.737 kasus. Angka ini adalah rekor tertinggi sepanjang pandemi berlangsung sejak Maret 2020. Tambahan kasus tertinggi terakhir terjadi pada 7 Februari 2021 dengan 4.213 kasus.

Korban meninggal juga menunjukkan tren peningkatan, terdapat 64 orang meninggal dunia akibat Covid-19 hari ini. Angka itu juga adalah rekor kedua tertinggi selama pandei Covid-19.

DKI Jakarta pernah mencatat angka kematian harian akibat Covid-19 tertinggi pada 1 Februari 2021. Saat itu angka kematian harian mencapai 70 kasus. Dengan lonjakan kasus ini, positivity rate di Jakarta dalam sepekan terakhir berada di 21,8 persen.

Di sejumlah rumah sakit, krisis mulai tejadi. Jumlah pasien yang datang mulai melebihi kapasitas yang dimiliki rumah sakit. Misalnya, di RS Islam Jakarta Cempakar Putih, Jakarta Pusat. Rumah sakit ini tak mampu lagi menampung pasien sejak beberapa hari lalu. Mereka bahkan kekurangan tenaga medis untuk menangani para pasien.

Sementara di Wisma Atlet Kemayoran, lonjakan kasus positif membuat tempat isolasi mandiri ini juga sempat penuh dan selama setengah hari tak menerima pasien pada Selasa (15/6/2021) lalu. Setelah penambahan kasur dilakukan, Wisma Atlet kembali menerima pasien.

Meski demikian, penambahan ini tidak sebanding dengan jumlah pasien yang rata-rata masuk 200-500 orang. Diperkirakan dalam beberapa hari, Wisma Atlet Kemayoran juga tak bisa lagi menampung pasien.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan saat ini ibu kota ada dalam fase genting. Anies kemudian mengeluarkan kebijakan lebih ketat yang mengatur kegiatan ekonomi wajib selesai pada pukul 21.00. Kegiatan perkantoran juga wajib work from home 75 persen.

Virus varian baru dan efektivitas vaksin

Meski saat ini banyak pihak masih meragukan efektivitas vaksin ataupun mengkhawatirkan efek samping yang ditimbulkan, namun penelitian menyebutkan bahwa berbagai vaksin yang ada terbukti lebih ampuh membuat tubuh lebih kebal atau mengurangi resiko lebih parah yang ditimbulkan virus corona.

Dengan kata lain, disuntik vaksin lebih baik daripada tidak disuntik sama sekali. Apalagi, virus corona juga sudah bermutasi ke berbagai varian baru, termasuk virus alfa dan delta yang sudah ditemukan di Jakarta.

Kedua varian itu diyakinlebih berbahaya dan mematikan dibandingkan virus sebelumnya. Saat ini, ada dua macam vaksin gratis yang dibagikan oleh pemerintah yakni vaksin Sinovac dan AstraZaneca. (*)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Status Irjen Napoleon Ditentukan Pekan Depan

Sabtu, 25 September 2021 | 22:20 WIB

Hari Ini Kasus Covid-19 di Indonesia Bertambah 2.137

Sabtu, 25 September 2021 | 19:45 WIB

Ini 7 BUMN yang Mau Dibubarkan Erick Thohir

Sabtu, 25 September 2021 | 19:30 WIB

Mana yang Mahal Harga BBM RI atau Malaysia?

Sabtu, 25 September 2021 | 18:22 WIB
X