Gonjang-ganjing di Negeri Sendiri, Vaksin Nusantara Diklaim Justru Diminati di Negara Lain

- Minggu, 20 Juni 2021 | 19:59 WIB

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Belum selesai uji klinis dan memicu kontroversi di tanah air, terapi kekebalan tubuh melawan Covid-19 berbasis vaksin sel dendritis diklaim diminati masyarakat dari banyak negara. Vaksin Nusantara, nama yang dipakai untuk mempopulerkan terapi itu, dikembangkan oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bersama tim peneliti di RSPAD Gatot Soebroto.  

Dokter yang juga peneliti utama dalam riset uji klinis Vaksin Nusantara, Kolonel Jonny, menyebut ketertarikan datang dari beberapa negara tetangga di Asia Tenggara. Tapi tim belum bisa melayaninya karena uji klinis belum memasuki fase final--terhambat isi nota kesepahaman antara Kementerian Kesehatan, BPOM, dan TNI AD yang membatasi terapi bukan sebagai vaksin yang bersifat massal.

"Sudah banyak yang tertarik. Filipina sudah mau, Malaysia sudah mau, bahkan Singapura sendiri sudah mau," ujar Jonny melalui sambungan telepon, Jumat malam, 18 Juni 2021.

Vaksin sel dendritik untuk SARS-CoV-2 dikembangkan dari teknik terapi kanker. Perbedaan vaksin ini dari vaksin umumnya terletak pada motor aktivitasnya yang tidak menggunakan antigen (virus inaktif atau subunit protein si virus). Vaksin Nusantara memanfaatkan sel dendritik yang dipanen dari darah, tapi bisa diambil juga dari sumsum tulang, si pasien yang akan disuntikkan vaksin.

Sel dendritik disebutkan mampu menangkap antigen-antigen asing yang masuk ke tubuh, lalu bergerak ke area T Sel dari organ limfoid untuk menemukan klon yang tepat dan memulai respons imunitas. Artinya, penerapan vaksinnya bersifat individual. "Karena sifatnya individu, kami lagi merencanakan biar orang luar negeri itu datang ke Indonesia," kat Jonny, dilansir tempo.co.

Sambil jalani terapi Vaksin Nusantara, Jonny berangan, mereka datang berwisata ke daerah-daerah di Indonesia. "Sebelum pulang ke negaranya disuntikkan vaksinnya, ya itu maunya kami supaya mendatangkan devisa buat negara juga," tutur Jonny yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam ginjal-hipertensi itu.

Terpisah Guru Besar Biologi Molekuler dari Universitas Airlangga (Unair), Chairul Anwar Nidom, mengaku sempat mengikuti pertemuan dengan tim peneliti vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Soebroto, pada Selasa, 8 Juni 2021 lalu. Dia bertemu di antaranya dengan Terawan dan chief scientific officer dari Aivita Biomedica—pengembang vaksin Covid-19 berbasis sel dendritik di Amerika Serikat—Gabriel Nistor.

"Saya satu-satunya akademisi yang tidak termasuk tim peneliti ikut hadir dalam pertemuan itu," kata Nidom.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih satu jam itu, profesor di Fakultas Kedokteran Hewan Unair itu, juga mendengar ada satu negara di Eropa yang tertarik dengan Vaksin Nusantara. "Jumlahnya fantastis, sekitar 5 juta dosis," kata Nidom, tanpa menyebutkan nama negaranya.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Kelanjutan PPKM Level 4 Dibahas Hari Ini

Minggu, 25 Juli 2021 | 09:10 WIB
X