BBM Naik Tinggi, Bagaimana Ekonomi?

- Minggu, 4 September 2022 | 13:01 WIB

 

HARIAN HALUAN - Setelah polemik dan pro kontra yang berkepanjangan, akhir Presiden Joko Widodo mengumumkan kepastian kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), dan langsung mulai berlaku sejak diumumkan, Sabtu 3 September 2022 pukul 14.30 wib.

Sebuah keputusan yang sulit dan menjadi pilihan terakhir buat pemerintah. Harga pertalite naik dari Rp.7.650 per liter menjadi Rp.10.000. Solar subsidi dari Rp.5.150 per liter menjadi Rp.6800. Harga pertamax dari Rp.12.500 menjadi Rp.14.500 per liter.

Ada 2 (dua) efek yang perlu dimitigasi dengan baik oleh pemerintah karena dampak kenaikan BBM ini.
Efek *pertama adalah tertekannya daya beli dan tingkat konsumsi oleh masyarakat.* Karena pertumbuhan ekonomi sedang dalam tren positif dan hal ini secara signifikan ditopang oleh konsumsi masyarakat. Kuartal kedua tahun 2022 ini pertumbuhan ekonomi mencapai 5,44%, dan diproyeksikan oleh pemerintah bisa konsisten di atas 5% secara agregat di akhir 2022.

Untuk mencapai proyeksi ini, daya beli dan konsumsi masyarakat harus terjaga dengan baik.

Hal kedua yang menjadi potensi masalah adalah tingkat inflasi.

Data inflasi pada kuartal kedua sebenarnya sudah cukup mengkhawatirkan karena sudah menyentuh angka 4,94%. Di sisi lain, proyeksi pemerintah, inflasi hanya di kisaran 3% secara agregat sampai akhir tahun 2022. Karena inflasi ini, secara langsung akan menjadi pengurang tingkat kesejahteraan masyarakat. *Sebuah capaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi, akan menjadi tidak bermakna ketika inflasi juga tidak terkontrol.

Karena secara substantif, tingkat kesejahteraan masyarakat tidak naik.

Efek kenaikan BBM ini, akan memberikan dampak kenaikan inflasi, karena 2 (dua) hal, yaitu karena aspek kesekonomian dan aspek psikologi pasar.* Dalam konteks ekonomi, setiap kenaikan Harga Pokok Produksi (HPP) akan berakibat secara langsung terhadap harga akhir barang atau jasa. Sehingga harga di tingkat konsumen akhir atau masryarakat, akan mengalami kenaikan.
Sedangkan dalam konteks psikologi pasar, maka masyarakat yang terbebani konsumsinya karena kenaikan harga-harga, juga akan menaikkan harga produksinya, walaupun tidak ada efek secara langsung atas kenaikan HPP nya.

Halaman:

Editor: Heldi Satria

Sumber: rilis

Tags

Terkini

Bogor Go Green 7 Paduan Lingkungan, Ekonomi dan Sosial

Minggu, 27 November 2022 | 16:24 WIB

DPR RI dan Pemerintah Mulai Bahas Revisi RUU KSDAHE

Sabtu, 26 November 2022 | 19:47 WIB
X