Jelang COP UNFCCC ke-26, Menteri LHK: Indonesia Cukup Baik Kendalikan Perubahan Iklim

- Rabu, 21 Juli 2021 | 10:11 WIB
 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya memberikan arahan kepada para calon Delegasi Republik Indonesia (Delri) yang akan menjadi negosiator dalam Conference of The Parties United Nations on the Framework of Climate Change Conference (COP UFCCC) ke-26 di Glasgow, Britania Raya, Oktober-November mendatang.

"COP 26 tahun merupakan pertemuan yang krusial dan penting, mengingat Paris Agreement dapat diimplementasi dengan efektif hanya bila negara-negara pihak dapat menyepakati Rules Book Paris Agreement sebagai basis. Di sinilah peran kita sebagai Delri nantinya akan mengikuti berbagai rangkaian perundingan perubahan iklim dibawah UNFCCC ini," pesan Menteri Siti dalam rilisnya diterima media ini, Rabu (21/7/2021).

Dalam arahannya yang dilakukan secara virtual, Senin (19/7/2021) itu, Menteri Siti menyampaikan beberapa hal yang dapat menjadi wawasan bagi para calon Delri.

Pertama, pembaruan Nationally Determined Contributions (NDC) Indonesia. Dalam NDC yang telah disusun, Indonesia berkomitmen menaikkan ambisi adaptasi perubahan iklim, dengan memasukkan aksi-aksi yang lebih nyata, adaptasi di sektor kelautan, serta lebih terintegrasi dengan isu-isu penting lainnya, seperti keanekaragaman hayati dan desertifikasi.

Updated NDC juga memperbarui informasi tentang visi pemerintah dan pembangunan jangka panjang serta menjabarkan dan merinci strategi implementasi tentang adaptasi serta peningkatan transparansi.

Selain itu, juga menambah subjek baru dan penguatan komitmen dengan memasukkan laut, lahan basah (mangrove dan lahan gambut) serta kawasan permukiman (dalam skenario adaptasi). Indonesia juga memperkuat komitmen untuk memanfaatkan berbagai peluang kerjasama internasional," terang Menteri Siti.

Updated NDC secara implisit menunjukkan ambisi 41% target yang akan dicapai, dengan memperkuat langkah-langkah implementasi  kerjasama teknis luar negeri dalam hal teknologi dan pengembangan sektor swasta. Misalnya, dalam kegiatan elctro-mobility yang telah dirintis dan dimulai seperti pengembangan listrik solar panel.

Kemudian juga mempertegas peran teknologi dan kerja sama internasional swasta dan dukungan internasional seperti dalam hal proyeksi rehabilitasi mangrove hingga 600.000 Ha sampai dengan akhir 2024, peningkatan peran rehabilitasi  lahan oleh swasta hingga  hingga lebih dari 200.000 hektar, hingga pengembangan kompleks green industry supported by green energy  di Kalimantan Utara seluas 12.000 Ha. 

Kedua, pemerintah Indonesia telah menyusun strategi jangka panjang yang akan menjadi pedoman dalam implementasi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta komitmen NDC lima-tahunan selanjutnya. Sejak tahun 2020, Indonesia telah berproses untuk menyusun dokumen Long-term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050), menuju net-zero emissions dengan tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi yang bertumbuh, berketahanan iklim dan berkeadilan.

Halaman:

Editor: Rahma Nurjana

Tags

Terkini

X